JAKARTA. PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) memilih bersikap cermat dalam memberikan pinjaman investasi karena hambatan masih membayangi bidang manufaktur.
KB Bank akan mengutamakan pendanaan ke bidang-bidang yang mempunyai ketahanan serta potensi kemajuan lebih unggul di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Wholesale Banking Director KB Bank Indonesia Widodo Suryadi mengungkapkan, tindakan tersebut dilakukan mengingat struktur pinjaman KB Bank saat ini masih didominasi bidang manufaktur dan perdagangan.
"Untuk kredit investasi, KB Bank memang lebih selektif. Hal ini karena portofolio terbesar kami berada di sektor manufaktur dan perdagangan,"
Menurutnya, bidang manufaktur masih menjumpai bermacam kendala. Di antaranya penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) serta menyusutnya sumbangsih bidang industri terhadap produk domestik bruto (PDB). Situasi tersebut membuat KB Bank memperketat tahapan penyaringan sebelum memberikan pembiayaan investasi.
Widodo menyampaikan, setiap permohonan pinjaman investasi ke bidang manufaktur akan dianalisis secara lebih saksama dengan mempertimbangkan potensi masing-masing subsektor. "Kami melihat terlebih dahulu subsektor mana yang masih mampu bertahan di tengah ketidakpastian global dan geopolitik, serta sektor-sektor yang masih memiliki keunggulan kompetitif di Indonesia," katanya.
Di tengah sikap waspada tersebut, KB Bank memandang bidang yang berhubungan dengan pertambangan masih mempunyai potensi yang cukup bagus. Walaupun begitu, peningkatan pendanaan di bidang itu diproyeksikan masih berada pada batasan single digit.
Hingga penutupan tahun, Widodo menuturkan, KB Bank terus berpegang teguh pada prinsip kehati-hatian dalam menjalankan ekspansi pinjaman. "Kami akan tetap selektif. Target pertumbuhan kredit secara keseluruhan tetap mengacu pada Rencana Bisnis Bank (RBB), yakni sekitar 8% hingga 9%," ujarnya.
Widodo menjelaskan, hambatan untuk meraih target tersebut cukup berat, khususnya pada segmen wholesale. Pasalnya, setiap bulan ada angsuran pinjaman yang jatuh tempo sejumlah kurang lebih Rp 300 miliar. Maknanya, tanpa pemberian pinjaman baru, outstanding pinjaman wholesale bisa berkurang kurang lebih Rp 4 triliun dalam setahun.
"Karena itu, untuk mencapai target pertumbuhan sesuai RBB, kami harus menyalurkan kredit baru yang jika dihitung setara dengan pertumbuhan sekitar 11% hingga 12%," jelas Widodo. Dengan pola tersebut, KB Bank berharap peningkatan pinjaman tetap terkelola tanpa mengorbankan mutu aset.
KB Bank akan terus memusatkan pendanaan pada bidang-bidang yang mempunyai dasar kokoh serta potensi usaha yang berkelanjutan di tengah pergerakan ekonomi dunia.