Aksi Jual Bersih Asing Capai Rp72,52 Triliun, Komposisi di BEI Menyusut

Aksi Jual Bersih Asing Capai Rp72,52 Triliun, Komposisi di BEI Menyusut
Investor luar negeri meneruskan aksi jual bersih atau net sell pada bursa saham Indonesia menjelang perayaan HUT Pasar Modal Indonesia. (Foto: NET)

JAKARTA — Investor luar negeri meneruskan aksi jual bersih atau net sell pada bursa saham Indonesia menjelang perayaan HUT Pasar Modal Indonesia. Berdasarkan statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), pelaku pasar global mencatatkan nilai jual bersih senilai Rp273,47 miliar pada Kamis (6/8/2026). 

Semenjak awal tahun (year-to-date/ytd), akumulasi net sell luar negeri di lantai bursa mencapai Rp72,52 triliun.

Berdasarkan proporsinya, investor luar negeri kini hanya mewakili 38% dari total investor di BEI secara ytd, sedangkan sisanya 64% dikuasai investor domestik. 

Kemarin, sejumlah saham dengan net sell luar negeri terbesar dipimpin oleh BBCA dengan nilai jual bersih Rp215 miliar, kemudian EMAS di angka Rp110 miliar. Berikutnya, TLKM mencatat net sell luar negeri Rp93 miliar, ANTM sebesar Rp89 miliar, dan BRMS mencapai Rp80 miliar.

Adapun, sepanjang pekan ini pasar saham lebih banyak mencatat net sell luar negeri. Pada perdagangan Senin (3/8), net sell luar negeri tercatat senilai Rp707,59 miliar, kemudian pada Selasa (4/8) terdapat net buy sebesar Rp623,48 miliar. Namun, pada perdagangan Rabu (5/9), pasar kembali mencatat net sell luar negeri sebesar Rp182,77 miliar.

Menguapnya dana luar negeri membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) tertekan, terpangkas 26,64% year to date (YtD) ke posisi 6.343,71. Kinerja IHSG ini pun menjadikan pasar saham Indonesia berada di ranking ke-6 di Asean dan ke-13 di Asia Pasifik.

Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa dalam pekan perdana bulan Agustus 2026 ini, pergerakan pasar saham dipengaruhi oleh penyesuaian alokasi portofolio manajer investasi dan dana pasif pasca rebalancing indeks utama seperti IDX80 dan IDX30. 

Menurutnya, kondisi itu berpotensi memicu akumulasi lanjutan pada berbagai saham konstituen baru yang memiliki fundamental solid.

"Tereduksinya geopolitical risk premium menjadikan katalis positif bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak karena berpotensi mengurangi tekanan inflasi, subsidi energi, dan nilai tukar rupiah," kata Nafan dalam risetnya, dikutip Kamis (6/8/2026).

Imbas tekanan semenjak awal tahun, Nafan mencatat bahwa valuasi saham Indonesia masih relatif menarik, dengan P/E di level 9,32 kali, dibanding beberapa regional markets lainnya. Menurutnya, hal dapat menarik minat para pelaku investor secara bertahap, dibuktikan dengan net buy luar negeri pada perdagangan Selasa (4/8/2026).

Dalam prakiraan Mirae Sekuritas, Nafan memperkirakan IHSG pada 2026 akan berada di level 6.666 sebagai target realistis, atau bisa mencapai level 7.320 sebagai target optimis.

"Sementara berdasarkan profit taking scenario, IHSG diperkirakan akan menguji di 5.807 sebagai target koreksi wajar," pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index