BOJ Naikkan Suku Bunga ke 1,25%, Tertinggi dalam 31 Tahun

BOJ Naikkan Suku Bunga ke 1,25%, Tertinggi dalam 31 Tahun

LITERASIKEUANGAN.COM — Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan menjadi 1,25 persen dari sebelumnya 1 persen, level tertinggi sejak 1995. Keputusan diambil lewat voting 7-2 dalam rapat dewan gubernur, dengan dua anggota menolak kenaikan tersebut.

Kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) menjadi 1,25 persen menandai langkah pertama dalam tiga bulan terakhir. Langkah ini membawa bank sentral Jepang semakin dekat ke kisaran suku bunga netral yang diperkirakan berada di 1,1-2,5 persen.

BOJ menyatakan inflasi grosir masih tinggi dan tekanan harga dari transaksi antarbisnis mulai merembet ke harga konsumen. "Inflasi yang mendasari telah mendekati 2 persen," kata BOJ dalam pernyataan resminya, mengutip Reuters.

Dua Anggota Dewan Menolak Kenaikan

Keputusan tersebut tidak bulat. Anggota dewan Toichiro Asada dan Ayano Sato menentang kenaikan suku bunga, sehingga voting berakhir 7-2.

Meski demikian, BOJ menilai perkembangan ekonomi dan harga masih bergerak sesuai proyeksi dasarnya. Bank sentral juga memperingatkan risiko inflasi yang mendasari bisa menyimpang dari target 2 persen.

Masih di Bawah ECB dan The Fed

Suku bunga Jepang masih tertinggal jauh dari bank sentral utama lain. ECB berada di 2,5 persen, sedangkan Federal Reserve AS di kisaran 3,75-4 persen.

Selisih yang lebar berpotensi menahan yen tetap lemah terhadap mata uang lain. Pelemahan yen bisa menaikkan biaya impor dan menambah tekanan inflasi di Jepang.

Inflasi konsumen inti Jepang bertahan di sekitar target 2 persen pada Agustus. Perusahaan masih meneruskan kenaikan biaya ke konsumen, terutama untuk produk makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Jalan Panjang Tinggalkan Suku Bunga Ultra-Rendah

BOJ mengakhiri kebijakan stimulus selama satu dekade pada 2024. Sejak itu, bank sentral menaikkan suku bunga sekitar dua kali per tahun, termasuk pada Juni lalu.

Lambatnya kenaikan suku bunga dinilai sejumlah pihak menjadi salah satu penyebab yen tetap lemah. Pelemahan yen, ditambah lonjakan biaya energi akibat perang Iran, mendorong kenaikan inflasi grosir yang berpotensi merembet ke harga konsumen.

Pasar sebelumnya hampir sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga pada September. Sinyal hawkish BOJ muncul sejak Juli, ketika bank sentral memperingatkan risiko inflasi melampaui target akibat kenaikan biaya bahan bakar dan tingginya permintaan investasi kecerdasan buatan.

Dukungan dari Menkeu AS dan Proyeksi Analis

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan dukungannya terhadap langkah moneter yang tegas untuk mengatasi pelemahan yen. Dukungan itu disampaikan dalam pertemuannya dengan Gubernur BOJ Kazuo Ueda bulan ini.

Namun, sejumlah pejabat BOJ termasuk Ueda belum memberi gambaran jelas soal kecepatan dan besaran kenaikan berikutnya. Mereka menilai kebijakan akan bergantung pada prospek inflasi dan dampak kenaikan sebelumnya terhadap kondisi keuangan.

Dalam jajak pendapat Reuters terhadap analis, BOJ diperkirakan menaikkan suku bunga menjadi 1,5 persen pada akhir Maret 2027. Mayoritas analis memperkirakan tingkat suku bunga terminal setidaknya berada di 1,75 persen.

Pasar kini menantikan konferensi pers Gubernur BOJ Kazuo Ueda untuk memperoleh petunjuk mengenai kecepatan dan waktu kenaikan suku bunga berikutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index