AWS Pindahkan Data Pelanggan dari Pusat Data Abu Dhabi dan Bahrain Usai Serangan Drone

AWS Pindahkan Data Pelanggan dari Pusat Data Abu Dhabi dan Bahrain Usai Serangan Drone

LITERASIKEUANGAN.COM — Amazon Web Services meminta pelanggannya memindahkan data dari pusat data di Abu Dhabi dan Bahrain ke wilayah lain, lebih dari enam bulan setelah kedua fasilitas itu diserang drone. Langkah ini berdampak langsung pada sektor perbankan dan keuangan yang selama ini mengandalkan kedua lokasi tersebut untuk operasi tanpa henti. AWS belum bisa memastikan kapan perbaikan tuntas.

Amazon Web Services (AWS) menyatakan pelanggan sebaiknya memindahkan data mereka ke pusat data di wilayah lain. Permintaan itu disampaikan melalui pembaruan di dasbor AWS, seperti dilaporkan The Wall Street Journal.

Dalam pembaruan tersebut, AWS mengklaim sebagian besar pelanggan sudah berhasil memulihkan operasi di wilayah lain dengan memulihkan cadangan atau menyalin data yang masih bisa diakses. Dukungan AWS tetap tersedia bagi pelanggan yang butuh bantuan memindahkan aplikasi ke wilayah alternatif.

Perbaikan Berjalan, Tanpa Tenggat Jelas

AWS masih memperbaiki dua pusat data yang rusak. Perusahaan tidak memberikan tenggat kapan kedua lokasi itu kembali beroperasi.

Untuk Bahrain, AWS menyatakan tetap berkomitmen mendukung pelanggannya. Namun perusahaan hanya menjanjikan pembaruan lanjutan pada awal tahun depan, tanpa kerangka waktu pemulihan yang spesifik.

Soal Uni Emirat Arab, AWS mengaku sedang mengganti infrastruktur yang terdampak. Pembaruan soal pemulihan layanan di sana dijanjikan dalam beberapa bulan ke depan.

Serangan Drone dan Klaim "Dihancurkan"

Kedua pusat data menjadi sasaran Iran setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke negara itu pada Februari tahun ini. Beberapa bulan kemudian, pusat data di Bahrain dihantam rudal jelajah.

Media negara Iran mengklaim fasilitas tersebut telah "dihancurkan". Serangan itu memicu kebakaran dan merusak infrastruktur. Petugas darurat yang berupaya memadamkan api menggunakan air, yang justru menambah kerusakan.

Pusat data di Abu Dhabi dan Bahrain menjadi tumpuan sejumlah bisnis di sektor perbankan dan keuangan. Sektor ini tidak bisa menoleransi waktu henti, apalagi yang berkepanjangan.

Ambisi Uni Emirat Arab sebagai Pusat Pemrosesan Data

Uni Emirat Arab telah bertahun-tahun berupaya menjadi pemimpin dunia dalam pemrosesan data. Upaya itu mendorong mereka melobi pejabat Amerika Serikat agar diizinkan membeli chip AI untuk pusat data mereka.

Pemerintah UEA sempat menyoroti keputusan OpenAI mengambil tempat di kompleks pusat data berkapasitas 5 gigawatt pada Mei 2025. Namun rencana itu kini mandek. The Wall Street Journal mencatat belum ada kontrak sewa yang diteken lebih dari setahun kemudian.

OpenAI diperkirakan akan mengambil 20 persen dari total kapasitas pusat data tersebut. Kegagalan rencana ini berpotensi merugikan ambisi UEA.

Opsi Bunker Bawah Tanah hingga Sistem Pertahanan Drone

UEA menyadari ketidakstabilan kawasan mengancam ambisinya. Pejabat setempat sudah memberi sinyal kemungkinan membangun pusat data bawah tanah.

Langkah itu akan membuat proyek yang sudah mahal menjadi lebih mahal lagi. Namun opsi tersebut bisa membantu melindungi pusat data baru dari serangan drone.

Alternatif lain adalah membangun sistem pertahanan drone di sekitar pusat data. Serangan drone bisa berakibat fatal bagi bangunan apa pun, termasuk pusat data.

Ancaman yang Belum Surut

Pusat data di kawasan itu belum menunjukkan tanda keluar dari incaran operator drone dalam waktu dekat. AWS bukan satu-satunya perusahaan yang menghadapi situasi ini.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim pada April telah menghantam pusat data yang terhubung dengan Oracle di Dubai. Unit itu juga mengancam perusahaan teknologi Amerika, termasuk Microsoft, Oracle, Alphabet, dan Nvidia, pada musim semi. Mereka menuduh perusahaan-perusahaan itu berkontribusi pada serangan terhadap Iran.

Dengan ketegangan di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda, keputusan AWS meminta pelanggan memindahkan data ke pusat data yang lebih aman di berbagai belahan dunia menjadi langkah yang bisa dipahami.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index