Koreksi IHSG terjadi di tengah arah pergerakan yang beragam dari saham-saham berkapitalisasi besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 1,17%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 1,27%, dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) melesat 5,66%.
Di sisi lain, tekanan datang dari PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang anjlok 2,83%, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) melemah 1,53%, serta PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) yang terkoreksi dalam 6,57%.
Mengapa Investor Asing Melepas Saham?
Secara keseluruhan, penjualan bersih asing di seluruh pasar mencapai Rp482,24 miliar. Dari 11 sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI), delapan sektor ditutup di zona merah. Sektor industrilas menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 1,41%, sementara sektor finansial justru menguat 0,67%.
Sentimen eksternal ikut membebani. Di Wall Street, Dow Jones nyaris stagnan dengan penurunan tipis 0,02% ke 53.559, S&P 500 turun 0,25% ke 7.711, dan Nasdaq melemah 0,52% ke 26.402.
Pelaku pasar juga mencermati rebalancing MSCI Agustus 2026 yang efektif berlaku per 1 September. GOTO resmi keluar dari indeks Global Standard, CPIN turun ke Small Cap, dan sembilan saham lainnya keluar dari indeks Small Cap. ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia masih mencatatkan penguatan masing-masing 0,16% dan 0,51%.
ANTM: Laba Naik 34%, Emas Jadi Mesin Utama
Di tengah pelemahan pasar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) merilis kinerja semester I-2026 yang solid. Emiten pelat merah ini membukukan laba bersih Rp6,91 triliun, melonjak dari Rp5,14 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan pun naik menjadi Rp62,71 triliun dari sebelumnya Rp59,01 triliun.
Segmen emas masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi penjualan Rp50,39 triliun atau sekitar 80% dari total. Adapun segmen nikel mencatat penjualan Rp10,41 triliun, dengan produksi bijih nikel mencapai 7,78 juta wet metric ton (wmt).
Secara teknikal, saham ANTM disebut berpotensi bergerak menuju area Rp3.100. Namun indikator stochastic mengarah turun dan terbentuk bearish divergence yang perlu diwaspadai.
TOBA Kian Hijau: Bisnis Berkelanjutan Kuasai 66,5% Pendapatan
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) terus menggeser portofolio bisnisnya. Pada semester I-2026, bisnis hijau telah menyumbang 66,5% terhadap pendapatan perseroan, jauh melampaui kontribusi batu bara yang hanya 31,4%.
Bisnis pengelolaan limbah menjadi penyumbang utama dengan pendapatan US$105,9 juta dan berkontribusi 92% terhadap EBITDA. Untuk mendukung ekspansi, TOBA menyiapkan belanja modal sekitar US$200 juta dan menargetkan kapasitas pengumpulan limbah lebih dari 1 juta ton per tahun.
Di sektor energi terbarukan, perseroan membidik kapasitas lebih dari 500 megawatt (MW) pada 2030. Melalui Electrum, TOBA juga menargetkan jumlah kendaraan listrik lebih dari 500.000 unit pada tahun yang sama.
HATM Terbitkan 640 Juta Saham Baru, Harga Rp500 per Lembar
PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) bersiap melakukan aksi korporasi berupa Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Perseroan akan menerbitkan maksimal 640 juta saham baru pada harga pelaksanaan Rp500 per saham.
Angka tersebut setara 90,50% dari rata-rata harga penutupan saham HATM selama 25 hari bursa berturut-turut. Dari aksi ini, HATM berpotensi mengantongi dana sekitar Rp320 miliar yang akan digunakan untuk belanja modal, termasuk penambahan armada kapal, atau pembayaran pinjaman bank.
Secara proforma per 31 Maret 2026, total ekuitas HATM diproyeksikan naik dari Rp1,61 triliun menjadi Rp1,93 triliun. Penerbitan saham baru ini akan mendilusi kepemilikan pemegang saham eksisting hingga maksimal 6,87%. Pelaksanaan private placement dijadwalkan pada 4 September 2026, dengan pencatatan saham baru di BEI pada 7 September 2026.
Rekomendasi Teknikal dari Mega Capital Sekuritas
Mega Capital Sekuritas memberikan sejumlah rekomendasi saham untuk perdagangan hari ini dengan level support dan resistance yang spesifik:
- VKTR — Buy di area 945-960, target harga 975-990, stop loss 895.
- INDY — Buy di area 2.800-2.820, target harga 2.870-2.900, stop loss 2.650.
- BBTN — Buy di area 1.220-1.230, target harga 1.250-1.265.
Investasi mengandung risiko.