Celios Minta UMKM Dilibatkan dalam Kerja Sama Industri Halal RI-Thailand

Celios Minta UMKM Dilibatkan dalam Kerja Sama Industri Halal RI-Thailand
Celios mendesak pemerintah agar kerja sama industri halal RI-Thailand mampu memperkuat posisi dan keterlibatan UMKM Indonesia dalam rantai pasok regional global. (Foto: NET)

JAKARTA - Analis Center of Economic and Law Studies (Celios) Isnawati Hidayah mendesak supaya kolaborasi sektor halal antara tanah air serta Thailand turut memperkokoh kedudukan UMKM Indonesia dalam rantai pasokan kawasan.

"Jadi harapannya kalau ada pembukaan akses kerja sama tersebut, Indonesia itu harus mampu menyeimbangkan dengan investasi yang kuat, pembangunan fasilitas produksi yang saling terhubung, dan adanya penggunaan bahan baku dari Indonesia, transfer teknologi, melibatkan UMKM, dan kami bisa mengajak untuk UMKM lokal itu masuk ke rantai pasok regional," ucapnya saat dihubungi di ibu kota, Jumat (7/8/2026).

Isnawati memandang kemitraan sektor halal RI-Thailand merupakan kesempatan yang logis serta berpeluang saling menguntungkan, akan tetapi perlu dicermati agar Indonesia tidak cuma menjadi tujuan pasar bagi barang-barang asal Thailand.

"Kalau kita lihat kerja sama integrated halal value chain Indonesia-Thailand ini merupakan peluang yang rasional antara kedua belah pihak yang diharapkan saling menguntungkan," ujarnya.

Menurut pendapatnya, rancangan kolaborasi wajib sanggup memacu kemajuan ekonomi Indonesia secara lebih menyeluruh, bukan sekadar menaikkan transaksi dagang antarnegara.

Ia berpendapat, Thailand mempunyai kelebihan dalam hal kemampuan manufaktur, efektivitas produksi, serta jejaring ekspor internasional. Sementara Indonesia mempunyai sejumlah daya tarik strategis, mulai dari pasar muslim yang luas, tata cara sertifikasi halal, sampai ketersediaan bahan mentah.

Selanjutnya, Isnawati menuturkan kesuksesan kolaborasi sektor halal tidak cukup cuma dinilai dari besaran transaksi yang dihasilkan.

Baginya, perlu tersedia parameter lain seperti kenaikan ekspor barang halal bernilai tambah, peningkatan investasi, serta semakin banyaknya UMKM yang merambah ke rantai pasokan kawasan.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul setuju untuk memperkokoh kolaborasi pengembangan sektor halal lewat pembangunan rantai nilai kawasan dan internasional sebagai bagian dari kemitraan strategis kedua negara.

Kesepakatan tersebut diumumkan Presiden Prabowo dalam keterangan pers bersama PM Thailand di Istana Negara, ibu kota, Senin malam (3/8).

"Dengan keunggulan masing-masing di sektor industri halal, Indonesia dan Thailand dapat saling mendukung dalam membangun rantai nilai industri halal regional dan global," ucap Prabowo.

Menurut Presiden, kemitraan tersebut merupakan bagian dari penguatan hubungan strategis Indonesia dan Thailand di sektor ekonomi sekaligus penerapan peta jalan kemitraan kedua negara.

Dalam perundingan bilateral, kedua pemimpin juga sepakat memperluas penanaman modal, menambah akses pasar, serta mempererat hubungan antarpelaku bisnis.

Langkah tersebut bakal direalisasikan lewat pelaksanaan Joint Trade Committee selaku mekanisme membahas kesempatan bisnis sekaligus menangani rintangan perdagangan.

Prabowo menuturkan beberapa bidang yang menjadi prioritas kolaborasi mencakup ketahanan pangan, logistik, rantai pasokan, energi, serta ekonomi digital.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index