JAKARTA — Pemerintah memacu percepatan pembangunan Kawasan Industri Wiraraja Madura melalui jalinan kemitraan strategis bersama Guangdong (Fenyong) Asean Industrial Park asal Cina. Langkah ini bakal diiringi dengan pengembangan serangkaian klaster industri dari Negeri Tirai Bambu di wilayah tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, pembangunan kawasan industri di Madura merupakan wujud nyata implementasi skema Two Countries Twin Parks (TCTP) yang gencar didorong pemerintah guna mempererat kolaborasi ekonomi antara Indonesia dan Cina.
"Kawasan di Madura ini depannya juga merupakan kawasan heavy industry Indonesia, Petrokimia (Gresik). Jadi nanti dengan adanya Kawasan Industri Bangkalan ini akan menjadi seimbang," ujar Airlangga dalam keterangannya, Kamis (6/8/2026).
Guna mengejar realisasi investasi, ia menegaskan pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, beserta instansi terkait siap mempercepat urusan perizinan. Kehadiran klaster industri ini diproyeksikan mampu menyerap banyak tenaga kerja baru sekaligus memicu pertumbuhan ekonomi di Madura serta Jawa Timur.
Rencananya, beberapa klaster manufaktur padat karya yang akan dibangun di Kawasan Industri Wiraraja Madura meliputi industri pengolahan cokelat, matras, tekstil, benang, dan sektor manufaktur lainnya.
Airlangga turut menambahkan bahwa proyek ini makin memperkuat jalinan ekonomi kedua negara yang selama ini terbangun, terlebih Indonesia dan Cina telah mengantongi kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) bernilai US$50 miliar.
"Harapannya bisa juga trade menggunakan currency masing-masing sehingga tidak tergantung kepada currency yang lain,” tutur Airlangga.
Kepastian komitmen ini dikukuhkan lewat peresmian Strategic Cooperation Framework Agreement antara Wiraraja Madura Industrial Estate dengan Guangdong (Fenyong) ASEAN Industrial Park di Jakarta, Rabu (8/5).
Agenda tersebut dirangkaikan pula dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara PT Wiraraja Madura International dan Guangzhou Zhanjiang Industrial Transfer Cooperation Park Management Committee, serta kesepakatan Agreement on Joining the Guangdong ASEAN Industrial Park International Cooperation Alliance.
Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) sekaligus President Director Wiraraja Madura Industrial Estate, Akhmad Ma'ruf Maulana, menuturkan bahwa kawasan tersebut dirancang sebagai pusat manufaktur terpadu yang memadukan kawasan industri, area pergudangan, sistem logistik, hingga penyediaan energi hijau.
Menurutnya, sinergi bersama Guangdong (Fenyong) Asean Industrial Park memberikan karpet merah bagi korporasi asal Cina untuk melebarkan sayap bisnisnya ke Indonesia, khususnya di Jawa Timur dan Madura.
"Kerja sama tersebut diharapkan mampu mendorong transfer teknologi, peningkatan kapasitas industri, penciptaan lapangan kerja, serta pertumbuhan ekonomi kedua negara," sebutnya.
Di sisi lain, Wali Kota Zhanjiang, Cina, Li Yongyi menguraikan bahwa volume perdagangan antara Zhanjiang dan Indonesia telah menembus angka 2,461 miliar yuan sepanjang 2025, atau tumbuh 6,3% dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Ia mencatat ada delapan entitas bisnis asal Zhanjiang yang menanamkan modal di Indonesia melalui 12 proyek dengan akumulasi investasi mencapai US$370 juta. Sebaliknya, enam perusahaan asal Indonesia juga tercatat menanamkan investasinya di Zhanjiang.
Li berharap sinergi antara Guangdong (Fenyong) Asean Industrial Park dan Wiraraja Madura Industrial Estate dapat berdiri sebagai contoh percontohan dalam ajang promosi investasi, pertukaran data industri, hingga ekspansi kapasitas produksi kedua belah pihak.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengimbuhi bahwa akselerasi Kawasan Industri Wiraraja Madura merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam mencetak titik-titik pertumbuhan ekonomi anyar serta meratakan sebaran investasi di luar pusat industri yang sudah ada.
"Kerja sama ini tidak hanya memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok, tetapi juga menjadi langkah konkret Pemerintah dalam mendorong investasi berkualitas, mempercepat pengembangan kawasan industri baru, dan membuka lebih banyak lapangan kerja," sebut Haryo.