BRIN Kembangkan Teknologi ANG untuk Hemat Devisa dan Tekan Impor LPG

BRIN Kembangkan Teknologi ANG untuk Hemat Devisa dan Tekan Impor LPG
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria [FOTO: NET].

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mendesak agar akselerasi penerapan teknologi Absorbed Natural Gas (ANG) garapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) segera dilakukan. Inovasi ini dinilai memiliki potensi besar dalam menekan angka impor LPG serta mengoptimalkan efisiensi penggunaan pemanfaatan gas alam dalam negeri.

Kepala BRIN Arif Satria mengungkapkan bahwasanya pembahasan terkait pengembangan ANG dilangsungkan secara tatap muka bersama Presiden Prabowo dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tatkala menghadiri pertemuan dengan 150 periset BRIN di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

"Justru ini yang tadi sudah kami diskusikan dengan Pak Menteri ESDM dan juga Bapak Presiden. Bapak Presiden sangat berpesan kalau bisa dipercepat untuk implementasi pemanfaatan ANG dengan teknologi baru ini," ujar Arif.

Berdasarkan penjelasannya, Kepala Negara melihat setidaknya dua keunggulan utama dari pemanfaatan inovasi tersebut, yakni kemampuan menghemat devisa negara sekaligus mendongkrak daya tampung simpanan gas dalam dimensi tabung yang berukuran sama.

"Karena ini satu, hemat devisa. Yang kedua lebih penting lagi adalah memiliki simpanan gas yang lebih besar. Untuk ukuran yang sama dia punya daya simpan yang lebih besar," katanya.

Arif menjabarkan bahwa sistem teknologi ANG memungkinkan pemanfaatan gas alam bekerja jauh lebih efisien jika dibandingkan dengan penggunaan tabung LPG konvensional.

"Kalau biasanya orang menggunakan tabung 3 kilogram selama 10 hari, maka dengan menggunakan ANG yang dimiliki BRIN ini bisa 15 hari. Itu kan efisiensi yang sangat bagus sekali," ujarnya.

Tindak Lanjut Bersama Kementerian ESDM

Arif menuturkan, menindaklanjuti instruksi Presiden tersebut, pihak BRIN bakal melangkah bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) guna mengawal proses pengembangan teknologi ANG. Ia menambahkan, eksekusi lapangan atas teknologi ini memerlukan harmonisasi regulasi serta kebijakan agar hasil penelitian riset dapat segera diaplikasikan secara luas ke masyarakat.

"Sekarang ini kami akan follow up dengan Pak Bahlil untuk menyusun kerangka implementasi dan harmonisasinya," katanya.

Kendati demikian, Arif menggarisbawahi bahwa teknologi ANG saat ini masih dalam tahapan pengujian sepanjang tahun 2026.

"Yang jelas di kami ini sedang uji coba. Mudah-mudahan tahun 2027 bisa kami rilis," ujarnya.

Sebelumnya, pihak BRIN sempat menerangkan bahwa teknologi ANG dikembangkan memanfaatkan material berbahan Metal Organic Framework (MOF). Material ini memiliki kemampuan menyerap gas alam dalam volume yang jauh lebih padat meski pada tingkatan tekanan yang tergolong rendah, yakni sekitar 30 bar. 

Terobosan ini diharapkan mampu tampil sebagai salah satu solusi konkret guna memangkas ketergantungan Indonesia pada pasokan impor LPG, sekaligus melipatgandakan optimalisasi pemanfaatan cadangan gas bumi nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index