JAKARTA - Di balik deru mesin dan gesekan roda besi yang membelah jalur-jalur strategis Nusantara, terdapat sebuah sistem besar yang bekerja untuk memastikan setiap lapisan masyarakat dapat berpindah dengan martabat. Kereta api kini telah berevolusi menjadi instrumen kedaulatan mobilitas, di mana jarak bukan lagi hambatan ekonomi berkat intervensi negara melalui Public Service Obligation (PSO). Kereta api kini menjadi salah satu penopang utama mobilitas nasional, berkat instrumen kebijakan strategis bernama Public Service Obligation (PSO) atau subsidi pelayanan publik dari pemerintah.
Sepanjang tahun 2025, integrasi antara kebijakan pemerintah dan operasional di lapangan telah menciptakan jaring pengaman transportasi yang kokoh. Melalui penugasan PSO yang diberikan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), PT Kereta Api Indonesia (KAI) Group memastikan layanan transportasi berbasis rel tetap hadir dan dapat diakses masyarakat di berbagai wilayah, mulai dari perjalanan harian, regional, hingga antarkota.
Sinergi Strategis: Menjaga Nafas Layanan Publik Berkelanjutan
Keberhasilan mempertahankan tarif yang terjangkau di tengah fluktuasi biaya operasional global merupakan bukti nyata keberpihakan negara. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, PSO merupakan wujud sinergi berkelanjutan antara pemerintah dan operator perkeretaapian dalam menjaga kesinambungan layanan transportasi publik. Sinergi ini memastikan bahwa kereta api tidak hanya hadir di jalur-jalur komersial yang gemuk, tetapi juga menyentuh pelosok dan segmen yang paling membutuhkan.
“Penugasan PSO memastikan layanan kereta api tetap dapat diakses masyarakat di berbagai wilayah,” ujar Anne dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin. Tingginya angka keterpilihan moda ini oleh masyarakat menjadi indikator bahwa reliabilitas layanan tetap terjaga meski berada dalam skema subsidi. Ke depan, KAI Group akan terus memperkuat keandalan operasi dan integrasi antarlayanan, serta berkoordinasi secara berkelanjutan dengan pemerintah agar manfaat transportasi publik berbasis rel semakin luas dirasakan masyarakat.
Menghubungkan Jarak Antardaerah Melalui KA Jarak Jauh dan Lokal
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025 menunjukkan bahwa intensitas pergerakan penduduk antardaerah belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Hal ini mempertegas kebutuhan akan transportasi massal berbasis rel yang andal, berkelanjutan, dan mampu melayani pergerakan masyarakat secara konsisten. Dalam konteks ini, PSO berfungsi sebagai instrumen kebijakan publik yang menjaga keberlangsungan layanan kereta api di tengah dinamika mobilitas masyarakat yang terus meningkat.
Efektivitas kebijakan ini terlihat jelas pada sektor KA Jarak Jauh (KA JJ) PSO. Penugasan pemerintah melalui DJKA memastikan konektivitas antarkota tetap terjaga dengan tarif yang terjangkau. Sepanjang 2025, layanan KA JJ PSO melayani 11.418.824 pelanggan, meningkat dibandingkan 11.133.268 pelanggan pada 2024. Sementara itu, di level intraprovinsi, KA Lokal PSO bertransformasi menjadi penggerak ekonomi daerah. Sepanjang 2025, layanan ini melayani 6.225.944 pelanggan, naik dari 5.375.104 pelanggan pada tahun sebelumnya, menghubungkan sentra produksi dengan simpul aktivitas ekonomi.
Ekosistem Komuter: Jantung Denyut Nadi Perkotaan
Di wilayah aglomerasi yang padat, peran kereta api bersubsidi menjadi semakin krusial sebagai tulang punggung mobilitas harian. Melalui layanan komuter yang berada dalam skema PSO, jutaan pekerja dan pelajar dapat melakukan perjalanan dengan biaya yang sangat efisien. Sepanjang 2025, layanan PSO yang dikelola KAI Commuter melayani 400.737.915 pelanggan melalui Commuter Line Jabodetabek, Area I Jakarta, Area II Bandung, Area VI Yogyakarta (KRL dan Prameks), Area VIII Surabaya, serta Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta (Basoetta).
Layanan tersebut menopang pergerakan masyarakat perkotaan dan mendukung kelancaran aktivitas ekonomi sehari-hari. Tak hanya itu, dukungan PSO juga diberikan pada layanan Lintas Raya Terpadu (LRT) Jabodebek yang telah melayani 28.816.787 pelanggan sepanjang 2025. Kehadiran LRT memperkuat konektivitas kawasan hunian dengan pusat bisnis melalui sistem transportasi yang terintegrasi secara modern.
Akselerasi Konektivitas Bandara bagi Masyarakat Luas
Sektor konektivitas bandara pun tidak luput dari sentuhan subsidi pemerintah untuk memastikan perjalanan bisnis dan wisata dapat diakses secara inklusif. Kereta Api Bandara PSO yang dikelola KAI Bandara melayani 5.456.033 pelanggan sepanjang 2025, meningkat dibandingkan 4.668.091 pelanggan pada 2024. Layanan ini mencakup KA Bandara Srilelawangsa di Medan serta KA Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), yang menghubungkan bandara dengan pusat aktivitas kota.
Pencapaian total layanan kereta api PSO yang melayani 452.655.503 pelanggan sepanjang 2025 menjadi bukti autentik bahwa negara hadir dalam setiap putaran roda kereta api. Capaian ini menegaskan bahwa kereta api bukan hanya soal tiket murah, melainkan fondasi penting dalam menjaga mobilitas masyarakat serta pemerataan akses transportasi nasional. PSO telah membuktikan diri sebagai "investasi sosial" yang memicu produktivitas bangsa di segala lini.