The Fed Naikkan Bunga ke 3,75%-4,00%, Cicilan KPR dan Kredit Berpotensi Makin Mahal

The Fed Naikkan Bunga ke 3,75%-4,00%, Cicilan KPR dan Kredit Berpotensi Makin Mahal

LITERASIKEUANGAN.COM — Bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%, kenaikan pertama sejak Juli 2023. Ekonom menilai dampaknya ke rumah tangga Indonesia tidak langsung, tetapi merambat lewat pelemahan rupiah, biaya impor, dan bunga kredit perbankan yang berpotensi naik.

Kepala Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Muhammad Rizal Taufikurahman menilai rumah tangga Indonesia akan merasakan tekanan kenaikan bunga The Fed lewat biaya dana dan kredit yang sulit turun. Menurut dia, jika suku bunga domestik bertahan tinggi lebih lama, KPR, kredit konsumsi, dan pembiayaan usaha tetap mahal.

Kondisi itu berisiko menahan daya beli, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan pemilik KPR berbunga mengambang adalah kelompok paling cepat terdampak.

"Masyarakat dengan KPR atau pinjaman berbunga mengambang akan menghadapi kenaikan cicilan. Sebaliknya, bunga deposito berpotensi ikut meningkat karena bank perlu menjaga dana pihak ketiga," kata Yusuf kepada Katadata, Kamis (17/9).

Dampak ke Rumah Tangga Lewat Tiga Kanal

Yusuf menegaskan keputusan The Fed tidak langsung mengubah cicilan masyarakat. Transmisi utama justru berjalan melalui pergerakan nilai tukar, harga barang, serta kondisi likuiditas dan biaya dana di dalam negeri.

"Dampaknya (untuk rumah tangga) tidak langsung berasal dari keputusan The Fed, tetapi melalui kondisi likuiditas dan biaya dana di dalam negeri jika perbankan menaikkan bunga kredit," ujarnya.

Penguatan dolar AS memperbesar biaya impor energi, pangan, dan barang modal. Jika bersamaan dengan harga minyak dunia yang tetap tinggi, tekanan itu merambat ke harga energi dan bahan pangan, lalu menggerus daya beli.

Rupiah Jadi Kanal Tekanan Paling Cepat

Imbal hasil aset dolar AS yang lebih menarik berpotensi menahan aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) dan aset domestik. Rizal menyebut rupiah sebagai kanal tekanan yang paling cepat merespons kenaikan bunga The Fed.

Karena itu, Bank Indonesia dinilai perlu memperkuat stabilisasi rupiah melalui intervensi valuta asing dan pengelolaan likuiditas. Tanpa langkah itu, tekanan jual di pasar valas berisiko memperlebar defisit neraca dan memukul pasar obligasi.

BI Tak Harus Ikut The Fed Secara Mekanis

Yusuf menilai kenaikan bunga The Fed tidak serta-merta memaksa BI menaikkan BI Rate. BI sebelumnya sudah menyesuaikan kebijakan secara pre-emptive hingga 5,75%, sehingga masih punya ruang menahan suku bunga.

"BI sebelumnya sudah melakukan penyesuaian secara pre-emptive hingga 5,75%, sehingga saat ini BI masih memiliki ruang untuk menahan suku bunga dan menggunakan instrumen lain, seperti intervensi valas, SRBI, serta pengelolaan likuiditas, untuk menjaga stabilitas rupiah dan menarik arus modal," jelasnya.

Tantangan BI kini menjaga stabilitas rupiah tanpa terlalu menekan pertumbuhan ekonomi. Selama tekanan eksternal masih bisa dikelola dan arus modal terjaga, BI tidak harus mengikuti The Fed secara mekanis.

Namun, bila tekanan terhadap rupiah dan inflasi berlangsung lebih lama, ruang BI melonggarkan kebijakan akan makin sempit. Rizal menilai penurunan BI Rate menjadi lebih berisiko karena bisa memperlebar tekanan arus modal dan rupiah.

"BI tidak harus mengikuti The Fed, tetapi penurunan BI Rate menjadi lebih berisiko karena dapat memperlebar tekanan arus modal dan rupiah," kata Rizal.

Apa Artinya bagi Pemegang KPR dan Deposito

Bagi nasabah KPR berbunga mengambang, kenaikan cicilan bergantung pada keputusan bank menyesuaikan suku bunga kredit. Bank baru biasanya menaikkan bunga setelah biaya dana (cost of fund) naik lebih dulu.

Di sisi lain, pemilik deposito berpotensi menikmati bunga lebih tinggi karena bank berlomba menjaga dana pihak ketiga. Pelaku usaha yang memakai kredit modal kerja perlu menghitung ulang beban bunga jika suku bunga domestik bertahan tinggi lebih lama.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index