JAKARTA - Seiring dengan langkah kaki mereka memasuki fase usia remaja, anak mulai memerlukan ruang privasi pribadi yang jauh lebih luas guna mengenali jati diri sekaligus membangun kemandirian hidupnya.
Perubahan fase tumbuh kembang ini terkadang memicu dorongan kuat di dalam diri para orang tua untuk mencari tahu lebih dalam mengenai aktivitas harian, lingkaran pertemanan, hingga berbagai persoalan pelik yang sedang dihadapi oleh anak.
Hasrat ingin tahu tersebut sering kali diwujudkan melalui tindakan memeriksa barang-barang pribadi, membaca buku catatan harian, ataupun mengintip isi dalam ponsel anak tanpa mengantongi izin terlebih dahulu.
Namun demikian, psikolog anak Dr. Francheska Perepletchikova, PhD, justru memberikan peringatan tegas agar para orang tua senantiasa berhati-hati terhadap kebiasaan intrusif semacam itu.
Kebiasaan yang Bisa Membuat Remaja Makin Tertutup
Menurut Perepletchikova, fase usia remaja merepresentasikan sebuah periode transisi yang tidak hanya penting, melainkan juga sangat sensitif bagi kelangsungan proses perkembangan psikologis anak.
“Bayangkan masa remaja Anda: periode yang sangat penting sekaligus sensitif untuk penemuan diri, individualitas, dan pengembangan pemikiran kritis,” paparnya, disadur dari Parade.
Ia menilai bahwa kebutuhan mendasar remaja untuk memiliki area privasi pribadi tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk sikap yang sengaja mengganggu atau memusuhi orang tua.
“Privasi sangat tinggi tingkat kepentingannya untuk kesejahteraan psikologis karena meningkatkan rasa kendali kami atas lingkungan sekitar,” tambahnya.
Kehadiran batasan privasi tersebut, lanjutnya, juga terbukti efektif dalam mendorong munculnya eksplorasi kreatif sekaligus membantu kalangan remaja dalam mematangkan kemampuan mengatur diri serta melakukan refleksi secara mandiri. Manakala batasan privasi personal tersebut dilanggar secara sepihak, esensi persoalannya bukan lagi sekadar membuat anak merasa tidak nyaman.
“Kurangnya kepercayaan, keamanan, rasa hormat, pemahaman, dan dukungan yang dihasilkan dapat menyebabkan perkembangan disfungsi klinis,” kata Perepletchikova.
Di tengah era digital saat ini, problem serupa juga kerap kali timbul tatkala para orang tua terlampau ketat mengawasi rekam jejak penggunaan media sosial atau nekat memasang aplikasi pemantau aktivitas digital secara sembunyi-sembunyi di ponsel anak.
“Ponsel dipandang sebagai perangkat yang sangat pribadi yang menjamin tingkat keterasingan dan privasi dalam penggunaannya,” jelasnya.
Bukan Berarti Orangtua Tak Boleh Mengawasi
Kendati demikian, Perepletchikova tidak serta-merta menempatkan hak atas privasi anak sebagai sesuatu yang bersifat mutlak manakala keselamatan jiwa remaja tersebut tengah berada dalam situasi ancaman yang nyata.
Menurut pandangannya, tindakan intervensi pengawasan darurat tetap dapat dipertimbangkan apabila orang tua menemukan adanya bukti-bukti kuat ataupun kecurigaan beralasan bahwa kesejahteraan sang anak sedang terancam bahaya.
“Jika remaja Anda menunjukkan tanda-tanda berada dalam hubungan yang penuh kekerasan,” ungkapnya.
Ia turut menyebutkan sejumlah contoh situasi darurat lainnya, seperti adanya dugaan manipulasi psikologis oleh kenalan asing yang ditemui melalui jaringan daring (online), tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm), penyalahgunaan narkotika, keterlibatan dalam aktivitas kriminal, ataupun adanya rencana bepergian menuju tempat-tempat yang secara jelas membahayakan keselamatan.
Kendati demikian, para orang tua tetap dituntut untuk menjaga ketenangan dalam merespons situasi krisis tersebut agar tindakan perlindungan yang diambil tidak justru bertransformasi menjadi reaksi emosional yang berlebihan.
“Jangan bereaksi berlebihan dengan menerobos masuk ke kamar mereka untuk mencari bukti,” lanjutnya.
Sebagai gantinya, para orang tua sangat disarankan untuk secara terbuka mengomunikasikan segala bentuk kekhawatiran yang dirasakan langsung kepada anak, serta memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mereka untuk menyampaikan argumen atau penjelasan.
“Jelaskan dengan jelas aturan yang telah ditetapkan dan konsekuensinya,” kata Perepletchikova.
3 Cara Membangun Hubungan yang Terbuka dengan Remaja
1. Hormati privasi anak
Perepletchikova menyarankan kepada setiap orang tua agar senantiasa menahan diri untuk tidak membaca buku catatan pribadi, membuka surat-surat tertutup, ataupun menggunakan perangkat ponsel anak yang sedang tidak terkunci sebagai celah kesempatan untuk mengintip kehidupan pribadi mereka.
“Semakin Anda menghormati privasi dan barang-barang mereka, semakin sehat hubungan Anda dengan remaja Anda,” ucapnya.
Orang tua sebenarnya sudah cukup memadai jika hanya menanyakan rangkaian informasi dasar yang berkaitan langsung dengan aspek keselamatan, seperti bersama siapa anak pergi bepergian, ke mana lokasi tujuannya, serta berapa perkiraan durasi waktu kepulangan mereka.
“Serangkaian pertanyaan yang mengorek-ngorek melampaui pengumpulan data untuk keselamatan mereka dan masuk ke wilayah interogasi yang hanya akan membuat mereka semakin menjauh,” terangnya.
2. Bangun komunikasi yang terbuka
Perepletchikova menegaskan bahwa para orang tua mutlak perlu menunjukkan secara nyata bentuk perilaku positif yang ingin mereka saksikan ada pada diri anak, sebab wibawa otoritas orang tua yang sesungguhnya dibangun melalui keteladanan tindakan.
“Otoritas ini didasarkan pada tindakan, bukan hanya kata-kata,” tuturnya.
Tatkala seorang remaja mulai memberanikan diri membicarakan topik-topik sensitif, para orang tua sebaiknya menghindari respons menutup ruang diskusi atau melontarkan sikap yang justru membuat anak merasa malu.
“Menghindari diskusi terbuka dan tanpa malu-malu tentang hal-hal sensitif tidak akan menghentikan remaja untuk ingin terlibat dengannya,” katanya.
Sebaliknya, sikap penolakan tertutup tersebut justru berisiko mendorong anak untuk mencari figur orang lain di luar lingkungan rumah guna mendiskusikan berbagai persoalan pribadi yang terasa tidak nyaman jika dibahas secara terbuka bersama keluarga.
“Ungkapkan kesediaan Anda untuk berbicara ketika mereka membutuhkannya,” tambah Perepletchikova.
3. Tetapkan aturan yang jelas dan konsisten
Upaya menciptakan iklim keterbukaan di dalam keluarga tetap wajib diiringi dengan batasan aturan tegas yang dapat dipahami dan disepakati bersama antara orang tua dan anak.
“Pengambilan risiko dan eksperimen adalah hal yang wajar, tetapi tidak selalu dapat diterima,” ujarnya.
Oleh sebab itu, perumusan aturan rumah tangga sebaiknya memuat rincian penjelasan mengenai batasan perilaku apa saja yang diperbolehkan, konsekuensi logis yang harus diterima apabila aturan dilanggar, alasan mendasar mengapa aturan tersebut dibuat, serta transparansi alasan mengapa bentuk konsekuensi tersebut dinilai adil.
Penerapan aturan disiplin ini pun menuntut konsistensi tinggi agar bentuk konsekuensi tidak dipersepsikan oleh anak sebagai bentuk hukuman sewenang-wenang yang muncul secara tiba-tiba tanpa dasar.
“Ketika konsekuensi tidak diterapkan secara konsisten untuk pelanggaran aturan sebagaimana yang telah disepakati, perilaku berbahaya tersebut tidak akan dicegah,” pungkasnya.