JAKARTA - Fenomena sebaran abu vulkanik yang meluas pasca terjadinya erupsi gunung berapi berpotensi mendatangkan dampak buruk bagi kesehatan fisik, khususnya organ saluran pernapasan pada anak-anak.
Butiran partikel abu vulkanik memiliki karakteristik ukuran yang amat halus disertai permukaan yang tajam, sehingga sangat rentan memicu iritasi parah pada saluran pernapasan tatkala terhirup masuk ke dalam tubuh.
Ancaman risiko kesehatan semacam ini tentu menuntut tingkat kewaspadaan yang tinggi dari para orang tua, terutamanya bagi buah hati yang memiliki riwayat medis penyerta seperti asma, alergi saluran napas, penyakit paru kronis, ataupun kondisi kerentanan kesehatan spesifik lainnya.
Di tengah situasi darurat sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi secara resmi merilis serangkaian panduan rekomendasi guna membantu para orang tua dalam melindungi keselamatan anak.
Berikut merupakan 13 langkah preventif yang dapat ditempuh guna meredam tingkat paparan abu vulkanik pada anak:
Cara Melindungi Anak dari Paparan Abu Vulkanik
1. Jauhkan anak dari lokasi terdampak
Berdasarkan panduan dari IDAI, tindakan antisipatif yang paling ideal untuk dilakukan adalah mengevakuasi dan mengungsikan anak menjauhi titik wilayah yang terimbas langsung oleh letusan gunung berapi.
Apabila wilayah tempat tinggal keluarga tercatat masuk dalam zona merah dampak sebaran abu vulkanik dan kondisi lingkungan dinilai sudah tidak lagi aman, para orang tua wajib mematuhi instruksi serta arahan evakuasi yang dikeluarkan oleh instansi berwenang.
2. Tetap berada di dalam rumah saat kualitas udara buruk
Manakala opsi tindakan evakuasi belum memungkinkan untuk dijalankan, anak-anak dianjurkan agar tetap tinggal di dalam rumah selama parameter kualitas udara di lingkungan sekitar terpantau memburuk.
IDAI merekomendasikan agar anak berada di dalam hunian dengan kondisi seluruh akses pintu dan jendela tertutup rapat tatkala indeks kualitas udara berada di atas angka 100 berdasarkan acuan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Orang tua dapat memantau fluktuasi tingkat pencemaran udara melalui layanan informasi resmi penyedia data kualitas udara.
3. Jauhkan anak ketika membersihkan abu
Anak-anak sebaiknya dipastikan tidak berada di sekitar area pembersihan manakala orang tua sedang sibuk membersihkan timbunan sisa abu vulkanik.
Partikel-partikel debu abu yang menempel di permukaan lantai, perabotan furnitur, ataupun benda lainnya berisiko tinggi untuk kembali beterbangan ke udara tatkala disapu atau dibersihkan, sehingga berpotensi besar terhirup oleh anak.
4. Gunakan kain basah saat membersihkan
IDAI menyarankan kepada para orang tua agar memanfaatkan sehelai lap atau kain dalam kondisi basah guna membersihkan endapan abu vulkanik. Permukaan lantai atau benda-benda yang hendak dibersihkan juga dapat dibasahi terlebih dahulu menggunakan air.
Metode pembersihan basah ini terbukti efektif menekan kemungkinan partikel abu beterbangan kembali ke udara bebas selama proses pembersihan berlangsung. Sebaliknya, orang tua harus menghindari kebiasaan menyapu tumpukan abu dalam keadaan kering lantaran tindakan tersebut justru memicu tersebarnya kembali partikel debu ke udara.
5. Atur AC dalam mode sirkulasi ulang
Para orang tua perlu memeriksa dan memastikan bahwa sistem instalasi sirkulasi udara di dalam rumah tidak menarik pasokan udara dari luar yang berpotensi besar telah tercemar kandungan abu vulkanik.
Jika hunian dilengkapi fasilitas pendingin ruangan (AC), matikan sistem yang menarik udara luar dan aktifkan mode pengaturan sirkulasi ulang (recirculation) atau tutup ventilasi (closed vent) apabila tersedia pada perangkat tersebut.
6. Hindari menyalakan kipas angin
Penggunaan alat penyejuk udara berupa kipas angin sebaiknya dihentikan sementara waktu manakala endapan abu vulkanik telah tebal mengotori bagian dalam rumah.
Hembusan tiupan angin dari kipas dapat menerbangkan kembali partikel abu halus yang sebelumnya telah mengendap di lantai ataupun permukaan furnitur, sehingga berubah menjadi bahaya laten terhirup oleh sistem pernapasan anak.
7. Gunakan masker pada anak di atas 2 tahun
Apabila kondisi mendesak mengharuskan anak untuk terpaksa beraktivitas keluar rumah, IDAI merekomendasikan pemakaian masker pelindung khusus anak bagi mereka yang telah berusia di atas 2 tahun.
Masker tersebut wajib terpasang secara rapat dan pas di wajah agar mampu memberikan proteksi optimal dalam menyaring partikel abu agar tidak masuk menembus saluran pernapasan. Orang tua juga dibebani tanggung jawab untuk telaten mengajari anak cara mengenakan masker dengan benar.
8. Lindungi mata anak
Di samping ancaman gangguan pada saluran pernapasan, paparan partikel abu vulkanik yang terbawa angin juga berisiko memicu reaksi iritasi berat pada organ mata.
Oleh sebab itu, anak yang terpaksa harus beraktivitas di ruang terbuka luar ruangan perlu dibekali perangkat pelindung mata yang memadai, seperti kacamata khusus anak, guna meminimalisir kontak langsung antara mata dengan partikel debu vulkanik.
9. Kenakan pakaian tertutup
Ancaman bahaya abu vulkanik tidak sebatas mengintai saluran pernapasan dan mata saja, melainkan berpotensi menimbulkan iritasi kulit apabila mengenai tubuh secara langsung.
Para orang tua dianjurkan untuk memakaikan ragam busana tertutup berlengan dan berkaki panjang pada anak guna meredam potensi kontak fisik langsung dengan abu. Setibanya kembali di rumah usai beraktivitas di luar, anak harus segera diarahkan untuk membersihkan diri dan mengganti seluruh pakaiannya.
10. Siapkan obat rutin untuk anak dengan asma atau alergi
Bagi anak-anak yang teridentifikasi memiliki rekam jejak medis menderita asma ataupun alergi saluran pernapasan, situasi bencana abu vulkanik ini menuntut perhatian ekstra yang jauh lebih intensif.
Orang tua wajib memastikan ketersediaan pasokan obat-obatan rutin harian maupun obat-obat darurat inhaler yang biasa digunakan oleh anak selalu siap sedia di rumah. Lonjakan paparan polusi abu dapat dengan mudah memicu kekambuhan atau memperparah gejala klinis pada anak dengan kondisi organ pernapasan yang sensitif.
11. Hindari asap rokok dan asap dapur
Sepanjang situasi kualitas udara luar memburuk akibat terjangan abu vulkanik, orang tua juga berkewajiban melindungi anak dari paparan sumber polutan tambahan di dalam ruang tertutup rumah.
Paparan asap dari rokok maupun asap masakan dari dapur dapat memperparah tingkat iritasi pada saluran pernapasan anak yang sebelumnya telah terpapar debu vulkanik. Oleh sebab itu, upayakan semaksimal mungkin untuk menjaga higienitas kualitas udara dalam rumah tetap bersih dan sehat.
12. Pastikan anak cukup minum
IDAI turut mengingatkan pentingnya aspek pemenuhan kebutuhan cairan tubuh secara optimal bagi anak. Anak-anak perlu diberikan asupan cairan minum dalam takaran yang cukup guna mencegah risiko ancaman dehidrasi, terlebih pada saat kondisi lingkungan sekitar sedang tidak sehat.
Selain cairan air putih, pastikan pula anak tetap mendapatkan asupan asupan makanan bergizi seimbang guna menjaga ketahanan daya tahan tubuh mereka.
13. Segera ke rumah sakit jika muncul tanda bahaya
Langkah terakhir yang krusial, orang tua harus tanggap dan segera membawa anak menuju rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat tatkala mendapati kemunculan gejala tanda-tanda darurat gangguan pernapasan.
Beberapa indikator klinis yang wajib diwaspadai di antaranya laju frekuensi napas anak meningkat drastis, terlihat adanya cekungan tarikan dinding dada ke dalam setiap kali anak bernapas, atau hasil pembacaan tingkat saturasi oksigen berada di bawah angka 94 persen berdasarkan pemantauan alat oximeter jari.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), mengingatkan orangtua agar tidak menganggap remeh gejala gangguan pernapasan yang muncul setelah anak terpapar abu vulkanik.
“Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” kata dr. Wahyuni.
Upaya proteksi perlindungan menyeluruh terhadap keselamatan anak mutlak menjadi fokus perhatian utama selama musim paparan abu vulkanik ini masih berlangsung. Di samping konsisten menekan potensi paparan langsung, para orang tua dituntut jeli memantau kondisi kesehatan anak secara berkala dan sigap mencari pertolongan medis profesional manakala muncul gejala awal gangguan pernapasan.