Nusantara Rising Resmi Meluncur, Kadin Dorong Soft Power Indonesia

Nusantara Rising Resmi Meluncur, Kadin Dorong Soft Power Indonesia
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meluncurkan Nusantara Rising: Indonesia’s Collcetive Soft Power Movement [FOTO: NET].

JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meresmikan Nusantara Rising: Indonesia’s Collective Soft Power Movement, suatu gerakan kolaboratif guna mengokohkan daya pengaruh budaya Indonesia pada kancah internasional.

Wakil Ketua Umum Bidang Kebudayaan Kadin Indonesia Rahayu Saraswati Djojohadikusumo menjelaskan bahwa langkah tersebut menjadi tindak lanjut atas Indonesia Soft Power Paper yang digagas Kadin bersama para pelaku industri serta jajaran pemangku kepentingan.

"Dokumen ini adalah fondasi dan peta awal untuk bergerak bersama. Sebagai kelanjutan dari gagasan tersebut, hari ini Kadin Indonesia memperkenalkan Nusantara Rising: Indonesia's Collective Soft Power Movement," kata dia dalam pidatonya pada acara peluncuran di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Menurut penjelasannya, Indonesia mengantongi modal kebudayaan berlimpah, melingkupi ribuan suku bangsa dan tradisi, ratusan bahasa daerah, hingga keberagaman kisah rakyat, musik, tarian, ragam kuliner, serta destinasi wisata.

Akan tetapi, potensi budaya itu tak secara otomatis menjadi kekuatan. Budaya, tegas Sara, harus ditempatkan bukan cuma sebagai warisan, melainkan sumber daya yang mampu melahirkan daya pikat, daya cipta, nilai ekonomi, dan daya pengaruh dunia.

"Di sini kebudayaan dan ekonomi kreatif bertemu. Ekonomi kreatif adalah mesin yang dapat mengolah kekayaan itu menjadi karya, produk, IP (kekayaan intelektual), lapangan kerja, ekspor, investasi, dan pertumbuhan ekonomi masa depan," ucapnya.

Sara mengarahkan perumpamaan budaya sebagai sumber daya, sedangkan ekonomi kreatif berperan sebagai motor penggeraknya. Bila dikelola secara terencana, budaya mampu bertransformasi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi sekaligus sumber pengaruh internasional.

"Soft power adalah daya pengaruh yang lahir ketika keduanya bergerak bersama secara strategis," tuturnya.

Beberapa negara terbukti sukses mentransformasi budaya menjadi sarana pertumbuhan ekonomi dan daya tawar global, layaknya Korea Selatan lewat hallyu (gelombang Korea), Jepang dengan program Cool Japan, serta China melalui cultural confidence.

Sara yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi VII DPR menandaskan bahwasanya strategi sejenis mesti dirancang agar kebudayaan nasional tak sekadar disajikan dalam acara seremonial atau dikenal di ranah domestik, namun sanggup membentuk persepsi publik internasional terhadap Indonesia.

Selanjutnya, ia mengutarakan bahwa Kadin telah memperoleh dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan beserta Kementerian Ekonomi Kreatif untuk memprakarsai pembentukan Komite Soft Power Indonesia.

Komite ini diproyeksikan sebagai ruang kolaborasi lintas sektor yang mengintegrasikan pemerintah, dunia usaha, pegiat budaya, kreator, akademisi, komunitas, media, hingga mitra pendanaan dan teknologi ke dalam satu ekosistem terpadu.

"Komite Soft Power Indonesia kami bayangkan sebagai ruang kolaborasi lintas sektor, sebuah wadah untuk menghubungkan semua pemangku kepentingan. Tujuannya bukan untuk menambah birokrasi, tujuannya adalah mempercepat orkestrasi," katanya.

Ketika diwawancarai usai agenda peluncuran, Sara menyampaikan Kadin nantinya bakal merangkul bermacam asosiasi di lini budaya dan ekonomi kreatif guna menyerap aspirasi sekaligus merumuskan peta jalan komite tersebut.

Di samping itu, Kadin pun bakal menggalang dukungan dari Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Komunikasi dan Digital guna memperkuat pilar diplomasi serta ekosistem digital dalam pengembangan soft power.

Di lain pihak, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia Shinta Kamdani menyampaikan Indonesia mesti menggeser paradigma pengembangan industri budaya dari pola sektoral menuju sirkular.

"Selama ini film berjalan sendiri, gim berjalan sendiri, fesyen berjalan sendiri, kriya berjalan sendiri, padahal nilai yang sesungguhnya lahir justru ketika sektor-sektor ini saling menarik dan saling memperkuat sebagaimana telah dibuktikan Jepang, Korea Selatan, dan China," ucap Shinta dalam pidatonya.

Ia menguraikan bahwa pemerintah memegang peranan dalam menyiapkan regulasi dan insentif, sedangkan dunia usaha menguasai keunggulan dalam menjembatani pelbagai lini industri, mengonstruksi rantai nilai, serta menghadirkan peluang investasi dan akses pasar.

Oleh karena itu, lewat gerakan Nusantara Rising, Kadin mendorong hadirnya orkestrasi lintas sektor secara menyeluruh.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index