JAKARTA - PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) memberikan jaminan bahwa seluruh aktivitas operasional jasa pelayaran dari maupun menuju wilayah perairan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap berjalan normal pascagempa bumi magnitudo 7,0 yang terjadi pada hari Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 05.58 WITA, dengan titik episentrum berada sekitar 38 km timur laut Mbay, Nagekeo, pada kedalaman 10 kilometer.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Direktur Usaha Angkutan Barang dan Tol Laut Pelni, Hana Suhardi, seusai meninjau proses pemberangkatan bantuan kemanusiaan untuk korban gempa NTT di Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Minggu (16/8/2026) malam.
Hana menjelaskan bahwa seluruh rute dan jadwal operasional kapal Pelni di wilayah NTT tetap berjalan seperti biasa pascaperistiwa alam yang menimpa daerah tersebut. Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa jalur logistik serta pelayanan jasa pelayaran bagi masyarakat tidak terputus selama periode masa tanggap darurat.
"Rute pelayaran dan jadwal kapal tetap normal sebagai bentuk dukungan kami terhadap daerah terdampak bencana. Antisipasinya, kami menyiagakan kapal-kapal untuk terus beroperasi guna mendukung pemulihan daerah pascabencana," ujar Hana.
Ia menyebutkan bahwa pihak Pelni telah menyiagakan setidaknya enam armada kapal penumpang yang secara reguler melintasi perairan NTT, di antaranya KM Tidar, KM Bukit Siguntang, KM Lambelu, KM Tilongkabila, KM Binaiya, serta KM Awu.
Hana menambahkan, sejumlah armada kapal penumpang tersebut akan difungsikan pula sebagai sarana pengangkut bantuan logistik yang berasal dari elemen masyarakat, komunitas, lembaga, maupun berbagai instansi di wilayah-wilayah yang disinggahi oleh kapal-kapal tersebut.
"Kapal-kapal ini akan singgah di pelabuhan yang ada di Maumere, Larantuka, maupun di Labuan Bajo, dan Ende," tambahnya.
Sementara itu, Nakhoda KM Tidar, Noviansyah Syafrudin, menegaskan kesiapan armada serta kondisi rute pelayaran menuju NTT dalam keadaan aman dan kondusif untuk disinggahi oleh kapal-kapal, termasuk kapal penumpang milik Pelni.
"Alhamdulillah, saya sudah koordinasi sama agen-agen kami di sana. Larantuka kondusif, Lewoleba juga kondusif, Kupang juga kondusif. Jadi trek kami memang di situ untuk kapal-kapal pengantar bantuan ini," ungkap Noviansyah.
Terkait aspek keselamatan pelayaran, ia menginformasikan bahwa peringatan dini tsunami telah resmi dicabut oleh BMKG, sehingga kondisi pasang surut air laut di perairan NTT terpantau stabil dan aman untuk dilayari. Kendati demikian, pihak perusahaan pelayaran tetap meningkatkan kesiagaan dalam mewaspadai potensi gempa susulan yang masih kerap terjadi di daratan.
"Jadi yang sekarang itu kemungkinan gempa-gempa yang dikhawatirkan gempa-gempa susulan. Ya, kayak tadi saya dapat kabar dari Pak Direktur itu katanya di daerah Labuan Bajo, Manggarai ke sana itu sampai di Maumere juga sendiri katanya udah 400 lebih gempa susulan, tapi kalau untuk pasang air surut sekarang saya rasa udah enggak. Karena udah dicabut ini [peringatan] tsunami kan, berarti sudah aman," paparnya.
Ia menambahkan bahwa selain dari Surabaya, KM Tidar juga siap mengangkut bantuan kemanusiaan tambahan yang dikumpulkan melalui posko di pelabuhan singgah seperti Makassar dan Baubau sebelum melanjutkan perjalanan menuju wilayah terdampak di NTT.
"Selain dari Surabaya, kami juga bersiap mengangkut bantuan dari pelabuhan singgah berikutnya. Informasinya bantuan dari Makassar dan Baubau juga sudah disiapkan di pelabuhan untuk kami bawa," jelasnya.