Penguatan Rupiah Terjadi Seiring Optimisme Pembukaan Selat Hormuz Baru

Penguatan Rupiah Terjadi Seiring Optimisme Pembukaan Selat Hormuz Baru
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong. (Foto: NET)

JAKARTA (ANTARA) - Kurs rupiah pada Kamis pagi bergerak menguat 22 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.911 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya pada level Rp17.933 per dolar AS.

Analis valuta asing Doo Financial Futures Lukman Leong menyatakan mata uang Garuda tersebut terapresiasi seiring optimisme jalur perairan Selat Hormuz bakal dibuka kembali.

“Rupiah diprediksi terapresiasi terhadap dolar AS di tengah pelemahan harga minyak mentah global akibat naiknya keyakinan bahwa Selat Hormuz bakal segera dibuka kembali. 

Sejak Senin (3/8), harga minyak WTI (West Texas Intermediate) yang pekan lalu ditutup pada level 86 dolar AS per barel, kini telah berada di 74,60 dolar AS per barel,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Menyitir Anadolu, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyebutkan AS beserta Iran berpotensi meraih kesepakatan guna membuka kembali Selat Hormuz serta memulihkan kebebasan pelayaran bagi kapal komersial pada Selasa ataupun Rabu (5/8) waktu setempat.

Berkaitan dengan pemberian izin bagi Iran untuk memungut tarif tol pada jalur perairan tersebut, Bessent menyampaikan kesepakatan itu bakal menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Sebelumnya, AS telah mendesak Iran menjamin kebebasan navigasi pada jalur perairan strategis tersebut, sementara pihak Iran menegaskan bahwa pelayaran di perairan lepas pantainya wajib berada di bawah pengawasan Iran.

Memandang sentimen domestik, data Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan II-2026 Indonesia yang lebih tangguh dari proyeksi turut disebut bakal menopang rupiah.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan perekonomian Indonesia berkembang 5,29 persen (year on year/yoy) pada triwulan II 2026, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) menembus Rp3.576,2 triliun, naik dari Rp3.396,6 triliun pada rentang waktu yang serupa tahun sebelumnya. Pelaku pasar sebelumnya menaruh ekspektasi ekspansi ekonomi hanya bertumbuh 5,1 persen.

“PDB triwulan II yang lebih solid tidak mengindikasikan bakal kembali solid pada masa mendatang. Kendati demikian, apabila harga minyak terus merosot, hal ini bakal meredakan tekanan terhadap fiskal serta rupiah, dan mampu menyokong pertumbuhan ke depan,” tutur Lukman.

Berdasarkan berbagai faktor tersebut, kurs rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp17.850 hingga Rp18 ribu per dolar AS.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index