JAKARTA - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menyediakan alokasi dana sebesar Rp226 miliar atau mencakup 35 persen dari keseluruhan anggaran kementerian untuk menyokong program Transmigrasi Patriot pada tahun 2026.
Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyatakan bahwa dana tersebut dialokasikan guna memfasilitasi transformasi wilayah transmigrasi lewat jalur riset, pendampingan, serta pengaplikasian inovasi oleh delegasi dari berbagai institusi perguruan tinggi.
“Jadi total anggarannya Rp226 miliar atau 35 persen dari anggaran Kementerian Transmigrasi,” kata Iftitah seusai pembekalan Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Jakarta, Rabu.
Ia memaparkan bahwasanya sekitar 65 persen sisa anggaran kementerian difokuskan untuk pemulihan kawasan transmigrasi, yang mencakup penuntasan masalah tumpang tindih lahan serta perbaikan infrastruktur jalan dan jaringan listrik.
Berdasarkan keterangannya, alokasi anggaran tersebut merefleksikan dua fokus utama Kementerian Transmigrasi, yakni merampungkan persoalan masa lalu via revitalisasi serta menumbuhkan roda perekonomian baru lewat transformasi kawasan.
“Sekitar 65 persen kami berikan untuk revitalisasi. Sebanyak 35 persen adalah transformasi, dan itulah dalam bentuk Transmigrasi Patriot,” ujarnya.
Iftitah mengungkapkan bahwa setiap kelompok berhak mendapatkan dana insentif secara langsung dengan nominal maksimal sebesar Rp200 juta demi mengeksekusi program yang dirancang selaras dengan kebutuhan serta potensi wilayah penugasan masing-masing.
Batasan nominal tersebut dipatok agar proses pencairan bantuan dapat berjalan lebih cekatan dengan tetap mengedepankan aspek pertanggungjawaban serta hasil koordinasi bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), serta Kementerian Keuangan.
“Karena supaya akuntabel, sifat bantuannya, insentifnya per tim itu tidak lebih dari Rp200 juta,” ungkap dia.
Menurut Iftitah, beberapa kelompok yang menjalankan tugas pada satu wilayah yang sama dapat menyatukan program serta pendanaan mereka sehingga total sokongan dana yang masuk ke suatu daerah bisa menyentuh angka miliaran rupiah.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa pembangunan wilayah transmigrasi tidak boleh hanya menyandarkan diri pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semata.
Pihak Kementrans aktif mendorong setiap tim agar merumuskan skema pendanaan yang memadukan bujet pemerintah, kolaborasi dengan dunia usaha, serta penanaman modal murni dari pihak swasta.
Iftitah menuturkan bahwa sektor transmigrasi telah memiliki keunggulan berupa ketersediaan lahan serta sumber daya manusia, namun masih memerlukan sokongan iptek, permodalan, serta pihak pembeli atau penjamin pasaran (offtaker) bagi hasil produksi warga.
“Kekuatan transmigrasi adalah memiliki lahan dan tenaga kerja. Tinggal kami membutuhkan ilmu pengetahuan dan teknologi, modal usaha, serta offtaker,” ucapnya.
Kecakapan dalam memetakan komoditas unggulan, rantai pasok, calon penanam modal, serta pasar dipandang krusial agar hasil kajian dari Tim Ekspedisi Patriot dapat bertransformasi menjadi roda ekonomi yang berkesinambungan.
Sang Mentrans menaruh harapan agar para partisipan tidak berhenti sebatas menyusun laporan tertulis, melainkan sanggup memanfaatkan wawasan yang dimiliki guna mempertemukan potensi daerah dengan akses permodalan serta jejaring mitra bisnis yang tepat.
Rangkaian program Tim Ekspedisi Patriot 2026 ini melibatkan total 1.476 orang peserta yang diterjunkan ke dalam 53 kawasan transmigrasi dalam kurun waktu empat bulan guna melaksanakan riset, pemetaan potensi, serta pendampingan langsung bagi masyarakat.