Kenali 6 Penyebab Rasa Haus yang Sering Muncul Meski Sudah Minum

Kenali 6 Penyebab Rasa Haus yang Sering Muncul Meski Sudah Minum
6 Penyebab Tubuh Tetap Haus meski Sudah Minum Banyak Air [FOTO: NET].

JAKARTA - Merasakan sensasi haus sehabis beraktivitas fisik berat ataupun terpapar cuaca terik matahari merupakan suatu kewajaran. Akan tetapi, manakala rasa dahaga tersebut tak kunjung mereda kendati asupan air putih telah dikonsumsi dalam takaran yang memadai, maka situasi ini patut mendapat perhatian serius.

Seorang dokter di platform layanan kesehatan virtual PlushCare, Dr. Linda Anegawa memaparkan bahwa unsur air memegang peranan krusial dalam hampir sekujur fungsi fisiologis tubuh, mulai dari mengawal kelancaran sirkulasi darah, membantu proses eleminasi zat sisa metabolisme, menstabilkan temperatur internal tubuh, hingga menopang kinerja sistem jaringan saraf.

"Air memastikan darah bersirkulasi dengan baik, limbah dibuang secara efisien, suhu tubuh terjaga, serta mendukung produksi hormon dan molekul sinyal yang dibutuhkan sistem saraf," kata Anegawa, Kamis (23/7/2026).

Baca juga: Jangan Tunggu Haus Saat Olahraga, Dokter Ingatkan Pentingnya Cukup Minum

Berikut beberapa penyebab seseorang masih merasa haus meski sudah banyak minum air.

6 Penyebab tetap haus meski sudah banyak minum 1. Ketidakseimbangan elektrolit

Mengonsumsi air putih dalam kapasitas yang besar tidak serta-merta merepresentasikan bahwa kondisi hidrasi tubuh berada di level yang optimal. 

Ahli gizi berlisensi Caitlin Self menerangkan bahwa tubuh manusia turut memerlukan pasokan senyawa elektrolit esensial, seperti mineral natrium, kalium, magnesium, serta klorida, agar molekul cairan dapat terserap masuk ke dalam sel-sel jaringan secara efektif.

Masuk Angin dan Gangguan Mental, Apa Hubungannya? Artikel Kompas.id

"Kadang kami minum banyak air, tetapi tidak mengonsumsi cukup buah dan sayur. Akibatnya elektrolit ikut terbuang bersama cairan sehingga tubuh kembali memicu rasa haus," ujarnya.

Oleh karena itu, rutin menyantap ragam bahan pangan yang kaya akan kandungan elektrolit, contohnya buah pisang, semangka, mentimun, ataupun air kelapa murni, terbukti ampuh membantu menjaga stabilitas kadar cairan di dalam tubuh.

2. Tubuh kehilangan banyak cairan saat berkeringat Menjalani rutinitas aktivitas fisik yang melelahkan atau beraktivitas di tengah terpaan suhu panas ekstrem memicu tubuh meluruhkan cairan beserta zat elektrolit secara bersamaan melalui produksi keringat.

Apabila cadangan cairan yang terbuang tersebut sekadar digantikan oleh air putih biasa semata, maka keseimbangan hidrasi belum tentu langsung pulih sepenuhnya.

Pakar ilmu penyakit dalam integratif Dr. Dana Cohen menyebutkan bahwa pada situasi tertentu, terkhusus pasca-berolahraga secara intensif, tubuh secara mutlak menuntut adanya pemulihan elektrolit agar proses rehidrasi dapat berjalan secara sempurna. 

Beliau menambahkan, tindakan sekadar menenggak air putih semata usai kehilangan banyak keringat justru berisiko semakin mengencerkan konsentrasi kadar elektrolit di dalam tubuh apabila tidak diimbangi dengan pasokan mineral yang memadai.

Baca juga: Waspadai 4 Tanda Diabetes pada Lansia, Termasuk Rasa Haus Berlebihan

3. Rasa lapar bisa disalahartikan sebagai haus Sensasi biologis lapar dan haus acap kali memancarkan sinyal peringatan yang nyaris serupa kepada otak. Salah satu indikator nyatanya adalah timbulnya rasa lemas pada fisik atau kecenderungan mudah merasa tersinggung.

Berdasarkan analisis Self, gejala semacam ini jauh lebih sering dialami oleh individu yang mempunyai riwayat kendala pada sistem regulasi kadar gula darahnya. Dampaknya, seseorang terus-menerus mendesak tubuhnya untuk minum air padahal sejatinya organ internal mereka sedang menuntut asupan nutrisi makanan.

Maka dari itu, sangatlah esensial bagi setiap orang untuk mampu mengenali secara jeli kapan organ tubuh benar-benar kehausan dan kapan waktu yang tepat untuk memasok energi bersumber dari makanan.

4. Tubuh membutuhkan waktu untuk kembali terhidrasi Menelan cairan air dalam jumlah yang masif sekaligus tidak otomatis memicu tubuh langsung mengalami rehidrasi secara instan. Anegawa memaparkan bahwa asupan cairan yang pertama kali masuk ke lambung harus melalui fase penyerapan ke dalam aliran pembuluh darah sebelum akhirnya disalurkan secara merata menuju pelbagai jaringan organ tubuh.

Rangkaian mekanisme transpor tersebut memerlukan durasi waktu tertentu sehingga sensasi rasa haus tidak serta-merta lenyap dalam sekejap mata.

"Setelah minum, cairan terlebih dahulu masuk ke sirkulasi darah, lalu didistribusikan ke jaringan tubuh. Karena itu, proses rehidrasi tidak terjadi secara instan," jelasnya.

5. Efek obat tertentu Beberapa kategori jenis obat-obatan medis, utamanya golongan obat diuretik, bekerja dengan cara merangsang peningkatan ekskresi pembuangan cairan serta garam mineral melalui produksi air seni. 

Sebagai konsekuensinya, tubuh menjadi jauh lebih rentan kehilangan simpanan cairan dan elektrolit sehingga pemicu rasa haus datang menghampiri dengan frekuensi yang lebih sering.

Apabila Anda sedang menjalani protokol pengobatan medis tertentu dan mendapati gejala haus yang berlebihan, segera lakukan konsultasi dengan dokter penanggung jawab guna memastikan apakah kondisi tersebut merupakan manifestasi dari efek samping obat.

6. Bisa menjadi tanda kondisi kesehatan tertentu Gejala rasa haus yang terus menerus mendera tanpa henti juga berpotensi mengindikasikan adanya indikasi penyakit klinis tertentu, semisal sindrom diabetes ataupun gangguan disfungsi pada sistem keseimbangan cairan tubuh. 

Terlebih lagi bilamana fenomena tersebut turut disertai oleh frekuensi buang air kecil yang tidak wajar, penurunan berat badan secara drastis tanpa sebab yang jelas, atau fisik yang teramat mudah didera kelelahan.

Jika keluhan dahaga ekstrem ini berlangsung dalam rentang waktu yang panjang meskipun kebutuhan asupan cairan harian telah tercukupi dengan baik, maka tindakan pemeriksaan medis secara menyeluruh mutlak diperlukan guna melacak akar penyebab utamanya sehingga bentuk intervensi pengobatan yang presisi dapat segera diberikan sesuai dengan kondisi patologis yang mendasarinya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index