Pemerintah Pastikan Ketahanan Pangan RI Aman dari Ancaman El Nino

Pemerintah Pastikan Ketahanan Pangan RI Aman dari Ancaman El Nino
Kepala Bapanas Pastikan El Nino Tak Ganggu Ketahanan Pangan RI [FOTO: NET].

JAKARTA - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan jaminan bahwa ancaman fenomena cuaca El Nino dipastikan tidak bakal mengganggu stabilitas ketahanan pangan nasional di Indonesia, mengingat pihak pemerintah telah mengokohkan cadangan pangan serta merumuskan langkah mitigasi secara dini.

"Sekarang alhamdulillah, ini atas arahan Bapak Presiden (Prabowo Subianto) Tidak usah khawatir. El Nino yang dulu lebih dahsyat daripada sekarang. Kemarin katanya bulan empat, tapi (malah ada) banjir. 

Bulan lima, bulan enam, banjir. Bulan tujuh juga masih ada banjir. Nah, bulan delapan katanya lagi," kata Amran dalam keterangan terkonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Kesiapsiagaan yang ditunjukkan oleh jajaran pemerintah dalam menghadapi potensi terjangan El Nino terpantau sangat solid, terkhusus pada pemenuhan aspek ketersediaan komoditas pangan pokok yang strategis. 

Proyeksi mengenai kemunculan El Nino sendiri sebetulnya telah terdeteksi sejak beberapa bulan yang lalu, sehingga langkah-langkah pencegahan berupa pengembungan volume Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) menjadi instrumen wajib yang harus direalisasikan.

Amran menegaskan tingkat kesiagaan tersebut seraya menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik. Keberhasilan pencapaian swasembada pangan yang sukses ditorehkan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dinilai sebagai sebuah prestasi gemilang demi kemaslahatan hidup masyarakat luas.

"Ini (prediksinya) ada El Nino Godzilla, bulan empat, ternyata (malah) banjir. Alhamdulillah tidak jadi, tetapi bisa membuat petani takut tanam," kata Amran.

Berdasarkan data laporan yang dirilis oleh Bapanas, akumulasi stok CPP yang berwujud komoditas beras di gudang penyimpanan Perum Bulog tercatat bertengger di angka 5,24 juta ton terhitung per tanggal 20 Juli.

Sementara itu, untuk persediaan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) pada level provinsi secara keseluruhan terdata sebanyak 7,35 ribu ton hingga pengujung Juni 2026. Adapun untuk tingkat kabupaten/kota, total persediaan CPPD menyentuh angka 13,15 ribu ton yang tersebar merata di 323 wilayah daerah.

Di samping itu, stok CPP dalam bentuk komoditas jagung pakan per tanggal 20 Juli dilaporkan masih menyisakan 176 ribu ton. Pasokan jagung pakan tersebut secara kontinu terus didistribusikan kepada para peternak unggas melalui mekanisme program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) dengan penawaran harga yang jauh lebih terjangkau.

Selanjutnya, alokasi stok CPP berupa minyak goreng tercatat sebanyak 1 ribu kiloliter yang pengelolaannya dipegang secara bersama oleh Perum Bulog dan ID Food. Untuk stok CPP gula konsumsi masih tersedia sekitar 2,79 ribu ton yang juga disimpan di fasilitas Bulog serta ID Food. Sedangkan ketersediaan CPP berwujud daging ayam tercatat sebesar 38 ton di bawah naungan ID Food.

Khusus untuk komoditas pangan yang bersifat perishable atau mudah mengalami pembusukan dan kerusakan, seperti aneka jenis cabai, bawang merah, serta telur ayam ras, pihak pemerintah meyakini bahwa pasokannya mampu ditopang sepenuhnya dari hasil produksi dalam negeri secara reguler. 

Optimisme tersebut didasari oleh tingginya surplus produksi yang mampu mengimbangi lonjakan kebutuhan konsumsi sepanjang kurun waktu setahun belakangan.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa merujuk pada laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS), pergerakan Indeks Perkembangan Harga (IPH) masih menunjukkan tren yang cukup positif. Tercatat hingga minggu ketiga bulan Juli 2026, hanya ada empat provinsi yang mengalami kenaikan IPH, sementara 34 provinsi lainnya justru mencatatkan penurunan IPH.

Kondisi serupa turut tercermin pada skala kabupaten/kota. Hingga pekan ketiga bulan Juli, BPS melaporkan hanya ada 69 kabupaten/kota yang mengalami lonjakan IPH, sedangkan sebanyak 283 kabupaten/kota lainnya justru mengalami penurunan IPH.

Amran mengutarakan bahwa Republik Indonesia telah berhasil mewujudkan swasembada pangan dalam kurun waktu satu tahun saja, jauh lebih cepat ketimbang target awal selama empat tahun yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo. Capaian monumental tersebut mencakup keberhasilan swasembada pada komoditas beras dan jagung.

"Kami bisa wujudkan mimpi kami, gagasan besar Bapak Presiden. Sekarang sudah swasembada beras. Swasembada pangan juga sudah," beber Amran.

Di samping itu, ia menambahkan bahwa Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) di dalam rilisan laporan terbarunya telah menaikkan proyeksi volume produksi beras Indonesia yang diprediksi bakal terus meroket sepanjang tahun 2026 ini.

"Ini FAO, dunia mengakui kami. Tadi aku lihat Malaysia itu ribut sekarang, kesulitan beras. Dia impor kalau tidak salah, 40 apa 60 persen. Tapi Indonesia, kami nomor dua tertinggi dunia sekarang. Baru diumumkan, FAO mengumumkan tahun 2026 Indonesia bisa mencapai produksi (beras) 38 juta ton," kata Amran.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index