Liga Indonesia

Keangkeran GBK Runtuh: Arema FC Permalukan Persija Lewat Drama VAR

Keangkeran GBK Runtuh: Arema FC Permalukan Persija Lewat Drama VAR
Keangkeran GBK Runtuh: Arema FC Permalukan Persija Lewat Drama VAR

JAKARTA - Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) yang selama ini menjadi benteng kokoh bagi Persija Jakarta akhirnya goyah. Dalam lanjutan pekan ke-20 Super League 2025/2026 yang berlangsung Minggu malam, publik ibu kota harus menyaksikan tim kesayangannya menyerah kalah di tangan rival mereka, Arema FC. Laga yang berjalan penuh intrik dan drama teknologi Video Assistant Referee (VAR) ini berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan tim tamu, sekaligus memutus rekor impresif Macan Kemayoran yang sebelumnya tak terkalahkan di Senayan.

Kekalahan ini terasa lebih menyesakkan bagi pendukung tuan rumah karena terjadi di tengah ekspektasi tinggi menyusul hadirnya tenaga baru di tubuh Persija. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa strategi Arema FC jauh lebih efektif dalam memanfaatkan celah di lini pertahanan lawan. Persija pun harus menerima kenyataan akhirnya tumbang di GBK. Ini catatan buruk, sebab sebelumnya Persija selalu menang dalam laga di Senayan.

Strategi Cadangan dan Pembuktian Para Pemain Pinjaman

Pertandingan dimulai dengan kejutan pada daftar susunan pemain pilihan pelatih Persija. Dua pemain Timnas Indonesia yang baru didatangkan Persija, Shayne Pattynama dan Mauro Zijlstra, belum dimainkan sejak menit pertama. Nama keduanya jadi pengganti. Keputusan ini membuat lini serang Persija mengandalkan kecepatan pemain lama. Persija langsung menekan. Serangan lewat Witan Sulaeman di kanan dan Emaxwell di kiri, menjadi tumpuan. Namun, barisan pertahanan Arema FC sigap menghalau bola.

Menariknya, kekuatan utama Arema FC malam itu justru berasal dari wajah-wajah yang sangat familiar bagi publik Jakarta. Pemain pinjaman Persija ke Arema, yakni Hansamu Yama, Ilham Rio, dan Gustavo Franca, menjadi starter. Ketiganya tampil solid seolah membuktikan diri tak layak dipinjamkan. Koordinasi antara Hansamu dan kawan-kawan di lini belakang Singo Edan menjadi tembok tebal yang membuat serangan tuan rumah sering kali kandas sebelum memasuki kotak penalti.

Sepanjang 45 menit babak pertama, Persija menciptakan sejumlah peluang, tetapi tak ada yang berbuah gol. Persija masih kesulitan menembus pertahanan Singo Edan. Kedisiplinan tinggi yang ditunjukkan oleh lini belakang Arema membuat frustrasi para penyerang Macan Kemayoran yang mencoba segala cara untuk mencuri keunggulan di babak pertama.

Tembok Kokoh Muhammad Adi Satryo dan Frustrasi Tuan Rumah

Memasuki paruh kedua, tensi pertandingan meningkat tajam. Macan Kemayoran tampil makin agresif. Percobaan mencetak gol, dari tembakan dari luar kotak hingga tusukan dari sayap, belum berbuah hasil optimal. Upaya keras yang dibangun oleh Aditya Warman dan Fabio Calonego di lini tengah selalu berhasil diredam.

Jika ada satu sosok yang paling bertanggung jawab atas kebuntuan Persija, dia adalah kiper Arema FC, Muhammad Adi Satryo. Penjaga gawang ini tampil memukau dengan refleks-refleks luar biasa. Hingga menit ke-70, setidaknya ada tiga penyelamatan yang membuat pemain Persija geleng-geleng kepala. Ketangguhan Adi Satryo di bawah mistar memberikan kepercayaan diri ekstra bagi rekan-rekannya untuk melancarkan serangan balik kilat.

Drama VAR dan Puncak Kekecewaan di Menit Akhir

Momen yang ditunggu-tunggu oleh puluhan ribu penonton di GBK akhirnya terjadi di sepertiga akhir pertandingan. Gol yang dinanti-nanti Persija akhirnya tercipta pada menit ke-79. Gol tersebut diciptakan Gustavo Almeida yang memanfaatkan assist Emaxwell Souza yang memanfaatkan bola muntah. Stadion sempat bergemuruh merayakan gol sang mantan penyerang Arema tersebut.

Namun, kegembiraan itu hanya berlangsung sekejap. Gol tersebut mendapat peringatan dari wasit VAR kepada Thoriq Alkatiri. Setelah ditinjau dengan saksama, posisi Gustavo terdeteksi dalam posisi offside sebelum mencetak gol. Keputusan pembatalan gol ini menjadi titik balik mental pertandingan.

Hanya berselang tiga menit setelah gol Persija dianulir, petaka justru menghampiri gawang Carlos Eduardo. Gawang Persija yang kebobolan pada menit ke-82 melalui aksi individu yang cemerlang. Gabriel Silva Costa membawa bola dari lini tengah, menggorengnya sendiri, melewati Rizky Ridho dan menembak ke gawang dengan lancar. Skor berubah menjadi 1-0 untuk Arema FC, membuat suasana GBK seketika hening.

Puncak drama terjadi di masa tambahan waktu. Saat injury time, menit ke-90+8, Gabriel kembali membobol gawang Persija. Namun gol tersebut dianggap Thoriq tidak gol karena offside. Lagi-lagi, teknologi VAR mengambil peran penting dalam menentukan hasil laga. Gol lantas dianalisis lewat VAR dan dinyatakan gol. Keputusan akhir ini memastikan kemenangan Arema FC dengan skor 2-0.

Susunan Pemain Kedua Tim

Persija: Carlos Eduardo (PG); Fajar Faturrahman, Rizky Ridho, Thales Lira, Dony Tri Pamungkas; Aditya Warman, Emaxwell Souza, Fabio Calonego, Witan Sulaeman; Alaaeddine Ajaraie, Gustavo Almeida.

Arema FC: Adi Satryo (PG); Ilham Rio, Hansamu Yama, Walisson Moreira, Iksan Lestaluhu; Gustavo Franca, Matheus Nascimento, Roberto Pimenta; Dalberto Luan Belo, Gabriel Silva, Joel Vinicius.

Hingga peluit panjang, tak ada gol lagi tercipta. Kekalahan ini menjadi evaluasi besar bagi Persija Jakarta yang gagal mengonversi dominasi menjadi poin, sementara bagi Arema FC, kemenangan ini menjadi bukti bahwa strategi bertahan yang disiplin dan serangan balik yang efisien mampu meruntuhkan dominasi tim papan atas di kandang mereka sendiri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index