IHSG Dibuka Naik 0,27% ke 6.455 Usai The Fed Naikkan Bunga

Kamis, 17 September 2026 | 09:03:00 WIB

LITERASIKEUANGAN.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,27% ke posisi 6.455,03 pada perdagangan Kamis (17/9/2026), naik dari penutupan sebelumnya di 6.436,85. Penguatan terjadi meski The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Pasar masih dibayangi tekanan sentimen global dari lonjakan dolar AS dan imbal hasil US Treasury.

Sepanjang awal sesi, IHSG bergerak di rentang 6.452,96 hingga 6.460,57. Nilai transaksi tercatat Rp188,5 miliar dengan volume 398,8 juta saham dan frekuensi 31.180 kali.

Pergerakan Saham Masih Beragam

Dinamika saham pada awal perdagangan belum seragam. Sebanyak 199 saham menguat, 150 saham melemah, dan 614 saham stagnan.

Penguatan pagi ini berbalik dari kondisi sehari sebelumnya. Pada Rabu (16/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,38% setelah sempat naik lebih dari 1% di awal sesi lalu berbalik ke zona merah.

The Fed Kerek Bunga, Dolar AS Menguat

Bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke rentang 3,75%-4%. Ini menjadi kenaikan pertama The Fed sejak Juli 2023.

Sebanyak 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan masih ada setidaknya satu kenaikan lagi sebesar 25 bps hingga akhir tahun. Sikap itu mencerminkan kekhawatiran bank sentral AS terhadap inflasi yang masih tinggi.

Keputusan tersebut mendorong indeks dolar AS ke level 100,252, tertinggi sejak 12 Agustus 2026. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun juga menembus 5,004%, level tertinggi sejak Juli 2007.

Tekanan ke Rupiah dan Aset Negara Berkembang

Kenaikan imbal hasil obligasi AS meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar. Kondisi ini berpotensi menekan rupiah dan memicu perpindahan dana investor dari aset negara berkembang, termasuk saham dan surat utang Indonesia.

Tekanan pasar turut diperbesar oleh memanasnya konflik di Timur Tengah. Kelompok Houthi disebut menguasai sejumlah wilayah dan pulau di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis perdagangan minyak global.

Bersama Selat Hormuz, jalur tersebut menjadi titik penting distribusi energi dunia. Risiko gangguan pasokan minyak dapat mempertahankan tekanan harga energi dan memperbesar risiko inflasi global, termasuk bagi Indonesia sebagai negara pengimpor energi.

Yang Dicermati Pasar dari Dalam Negeri

Dari domestik, pelaku pasar menantikan penerapan pemungutan PPh pedagang online melalui marketplace pada 1 Oktober 2026. Penindakan OJK terhadap emiten yang melanggar ketentuan pasar modal juga menjadi perhatian.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali mendesak penurunan suku bunga secara agresif hingga 1% atau lebih rendah. Perbedaan pandangan itu menambah perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter AS dan independensi bank sentral.

Pasar global akan menantikan rilis klaim pengangguran AS dan inflasi final Zona Euro Agustus 2026, serta keputusan suku bunga Bank of England. Data dan keputusan tersebut dapat memberi petunjuk tambahan soal arah kebijakan moneter global.

Penguatan IHSG pagi ini menunjukkan pasar domestik masih punya tenaga di tengah tekanan eksternal. Namun lonjakan dolar AS dan yield US Treasury tetap menjadi faktor yang perlu dicermati investor sepanjang sesi.

Terkini