LITERASIKEUANGAN.COM — Penggunaan layanan kredit digital di Indonesia ternyata tidak melulu untuk belanja konsumtif. Studi pendahuluan yang dilakukan LD FEB UI bersama Kredivo Group menunjukkan lebih dari separuh penyaluran pinjaman lewat platform tersebut pada tahun lalu dialokasikan untuk kebutuhan produktif dan jangka panjang.
Dalam laporan yang akan dipublikasikan pada 10 September 2026 mendatang, peneliti turut memotret bagaimana skema PayLater dari Kredivo dan Pinjaman Tunai dari KrediFazz berdampak pada perluasan akses kredit, perilaku finansial masyarakat, hingga pemberdayaan UMKM.
Jembatan bagi Peminjam yang Tak Tersentuh Perbankan
Riset ini menyoroti masih rendahnya penetrasi kredit formal di Indonesia. Data yang dihimpun peneliti menunjukkan kepemilikan rekening bank memang naik signifikan, dari 36% menjadi 56% dalam satu dekade terakhir. Namun, proporsi masyarakat yang memperoleh kredit dari lembaga keuangan formal justru turun, dari 18% pada 2017 menjadi hanya 15% pada 2024.
Kondisi ini menciptakan ruang besar bagi fintech lending untuk menjembatani kebutuhan pembiayaan yang tidak terlayani perbankan. Menariknya, kajian itu menemukan satu dari enam pengguna aktif Kredivo pada 2025 merupakan orang yang baru pertama kali mengakses layanan kredit. Dari kelompok tersebut, sekitar 48% di antaranya adalah perempuan dan 57% berusia di bawah 30 tahun—segmen yang kerap kesulitan memenuhi persyaratan administrasi perbankan konvensional.
Modal Usaha Mikro Jadi Penopang Utama
Dari sisi sektor usaha, sebanyak 97% penerima pinjaman modal usaha di platform tersebut merupakan pelaku usaha mikro. Bahkan, sekitar 40% dari mereka mengaku mendapatkan akses kredit formal pertama kali justru melalui Kredivo, bukan dari bank.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw, menegaskan pentingnya kajian berbasis data untuk melihat peran nyata industri ini dalam ekonomi masyarakat. "Di tengah pertumbuhan industri yang pesat dan diskursus publik yang berkembang, perspektif berbasis bukti menjadi penting untuk melihat bagaimana kredit digital benar-benar bekerja dalam konteks sosial ekonomi Indonesia," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (2/9).
Penelitian ini sendiri menggunakan metode campuran kuantitatif dan kualitatif, melibatkan ratusan pengguna individu serta lusinan pelaku UMKM di berbagai provinsi. Analisis data internal Kredivo dan data sekunder turut dipakai untuk memperkaya temuan.
Perjalanan dari Sekadar Pembiayaan Menjadi Layanan Finansial
Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari, mengatakan perubahan kebutuhan masyarakat dalam satu dekade terakhir mendorong perusahaannya beradaptasi. "Sepuluh tahun lalu, Kredivo hadir untuk membantu menjawab kesenjangan akses kredit di Indonesia. Seiring waktu, layanan kami berkembang dari membuka akses pembiayaan menjadi bagian dari perjalanan finansial jutaan masyarakat," jelas Indina.
Laporan lengkap yang akan diterbitkan pekan depan diharapkan mampu memberikan gambaran lebih komprehensif tentang bagaimana pembiayaan digital dipakai untuk aktivitas usaha dan dampaknya terhadap roda perekonomian nasional.