LITERASIKEUANGAN.COM — Pernyataan Kevin Warsh dalam pidato perdananya di simposium Jackson Hole pekan lalu masih menjadi bayang-bayang bagi pasar keuangan Indonesia. Dalam pidatonya, Warsh menegaskan The Fed masih punya pekerjaan rumah jika tekanan inflasi tak kunjung mereda, sinyal terkuat bahwa kenaikan suku bunga kembali masuk dalam pertimbangan.
Data CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan September langsung melonjak ke 57,5%, dari sebelumnya sekitar 35%. Ekspektasi ini membuat aset berbasis dolar AS semakin atraktif dan berpotensi menghambat aliran dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pemicu: Pidato Kevin Warsh di Jackson Hole
Pasar bereaksi cepat terhadap perubahan sikap The Fed. Dolar AS tercatat menguat hampir 0,9% sepanjang pekan lalu, kenaikan mingguan terbesar dalam 10 pekan terakhir. Indeks dolar AS (DXY) bahkan sempat menyentuh level 99,727, posisi tertinggi sejak 17 Agustus 2026.
Namun, pada perdagangan Senin (31/8/2026) pukul 15.00 WIB, DXY terpantau berbalik melemah 0,16% ke level 99,550. Koreksi ini terjadi setelah indeks melonjak 0,55% pada Jumat pekan lalu, memberikan sedikit ruang napas bagi mata uang Asia.
Perjalanan Rupiah: Tekanan Berkurang Jelang Penutupan
Sepanjang hari, rupiah sempat terpuruk hingga menyentuh level terlemahnya di Rp17.755/US$. Namun, mata uang Garuda berhasil memangkas tekanan hingga 45 poin pada sesi akhir perdagangan.
Meski demikian, posisi penutupan masih 25 poin lebih lemah dibandingkan level Rp17.685/US$ pada akhir pekan lalu. Menariknya, rupiah ditutup lebih kuat jika dibandingkan posisi pembukaan pagi hari yang berada di Rp17.725/US$, menunjukkan adanya upaya stabilisasi di pasar.
Pelemahan hari ini sebagian besar merupakan efek lanjutan dari lonjakan dolar AS yang terjadi setelah perdagangan rupiah tutup pada Jumat. Dampaknya baru terasa di awal pekan ini, seiring pelaku pasar masih mencerna arahan kebijakan moneter terbaru dari The Fed.
Fokus Pasar: Kepastian Pimpinan Baru Bank Indonesia
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga menanti kepastian susunan pimpinan bank sentral dalam negeri. Rapat Paripurna DPR dijadwalkan berlangsung Selasa (1/9/2026) untuk menetapkan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI periode 2026-2031.
Dalam agenda yang sama, Aida S. Budiman akan ditetapkan sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI, dan Solikin M. Juhro sebagai calon Deputi Gubernur BI. Kepastian ini menjadi perhatian pasar karena berkaitan langsung dengan kesinambungan kebijakan moneter serta komitmen bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Bagi investor, kombinasi antara ketidakpastian arah suku bunga global dan transisi kepemimpinan bank sentral domestik membuat pergerakan rupiah berpotensi tetap volatil dalam jangka pendek. Situasi ini menuntut kehati-hatian ekstra dalam pengelolaan posisi valuta asing maupun portofolio aset berdenominasi rupiah.
Investasi mengandung risiko.