GREAT Institute Kunci Proyeksi Ekonomi 2026 di 5,3%-5,6%, Investasi Jadi Penentu Semester II

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:26:00 WIB

LITERASIKEUANGAN.COM — Proyeksi tersebut dirilis dalam laporan GREAT Mid-Year Economic Outlook 2026: Membangun Kembali Kepercayaan, Menumbuhkan Optimisme. Ekonomi Indonesia tumbuh kumulatif 5,45% pada semester I 2026, ditopang konsumsi pemerintah yang melesat 18,62% dan belanja rumah tangga yang tumbuh 5,06% pada kuartal II.

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, mengakui target itu bukan tanpa syarat. Menurutnya, komposisi mesin pertumbuhan mulai bergeser. Jika semester I ditopang belanja pemerintah dan konsumsi, maka semester II membutuhkan dorongan baru dari sisi investasi agar pertumbuhan bisa dipertahankan di kisaran atas.

Belanja Rumah Tangga Mulai Tunjukkan Sinyal Perlambatan

Meski angka PDB konsumsi rumah tangga masih sehat, GREAT Institute menyoroti sejumlah indikator yang mengindikasikan masyarakat mulai menahan belanja. Penjualan ritel sempat terkontraksi pada April–Juni dan baru diprakirakan tumbuh tipis 0,9% pada Juli. Indeks Keyakinan Konsumen juga merosot dari 123,0 pada April menjadi 116,8 pada Juli.

"Karena konsumsi menyumbang porsi terbesar ekonomi, ketahanannya tetap menjadi fondasi proyeksi kami. Tetapi kita juga tidak boleh membaca konsumsi rumah tangga hanya dari satu angka PDB. Ada sinyal kehati-hatian yang meningkat," ujar Adrian. Ia menambahkan, menjaga pendapatan riil dan lapangan kerja lebih krusial ketimbang sekadar mendorong konsumsi jangka pendek.

Di sisi dunia usaha, aktivitas ekonomi masih menunjukkan ekspansi. Konsumsi listrik sektor bisnis tumbuh 10,04% dan sektor industri naik 6,54% secara tahunan. Penjualan mobil niaga pun melonjak 30,12% hingga Juni 2026.

Realisasi Investasi Capai Rp 1.010,6 Triliun di Semester I

GREAT Institute mencatat realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Dari sisi pembiayaan, kredit investasi pada Juli 2026 tumbuh 23,1% secara tahunan, sementara kredit modal kerja meningkat 11,6%.

Adrian menekankan bahwa tantangan terbesar bukan lagi sekadar ketersediaan likuiditas, melainkan memastikan dana tersebut benar-benar mengalir ke sektor produktif. "Ini yang perlu dijaga pada Semester II. Jangan lagi hanya fokus apakah uang tersedia, tetapi apakah pembiayaan benar-benar berubah menjadi belanja modal swasta, ekspansi kapasitas produksi, dan lapangan kerja," jelasnya.

Ia menambahkan, pemerintah telah memberikan stimulus besar di semester I. Ke depan, kebijakan harus lebih fokus mengurangi hambatan investasi, memberi kepastian regulasi, dan mempercepat realisasi proyek. GREAT Institute mendorong pergeseran paradigma belanja negara dari spending more menuju spending better.

Ketidakpastian Global Masih Menjadi Bayang-Bayang

Risiko eksternal tetap membayangi prospek pertumbuhan. GREAT Institute mencatat rata-rata Global Economic Policy Uncertainty pada semester I 2026 sekitar 68% di atas rata-rata 2024. Adapun Geopolitical Risk Index tercatat 55% lebih tinggi dari periode yang sama.

Proyeksi GREAT Institute ini lebih optimistis dibanding perkiraan IMF dan Bank Dunia yang berada di kisaran 5%. Namun, lembaga tersebut menegaskan target tersebut hanya akan tercapai jika Indonesia mampu menjaga stabilitas makroekonomi dan momentum domestik.

"Pertumbuhan Semester I menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia lebih resilien daripada kesan yang kadang muncul di ruang publik. Tetapi resiliensi bukan berarti semua persoalan selesai. Tantangan berikutnya adalah mengubah ketahanan itu menjadi produktivitas, investasi yang lebih berkualitas, pekerjaan yang lebih baik, dan peningkatan pendapatan masyarakat," pungkas Adrian.

Terkini