JAKARTA – Kehadiran UMKM di kawasan rural bisa menjadi pendorong pembangunan yang tak cuma memutar roda perekonomian, tetapi turut menciptakan embrio pembangunan di sektor pendidikan.
Hal inilah yang dilakukan Ahmad Jabal Maulidiyah Sabah (26 tahun), pelaku UMKM di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, bersama komunitasnya di Wahana Kampoeng Drenges (WDD).
Dengan memanfaatkan ekosistem pasar digital, Jabal memasarkan pakaian desain custom dan meraup omzet rata-rata Rp40 juta per bulan.
Pundi-pundi yang dia kumpulkan dari usaha yang dia rintis pada 2023 tersebut sebagian dia sisihkan bersama pelaku usaha lainnya di sana untuk membangun pondok pesantren.
Tak cuma membuka lapangan kerja, pelaku UMKM yang tergabung dalam WDD Desa Drenges juga membawa misi sosial untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan ekonomi lokal.
Kecamatan Sugihwaras merupakan kawasan hutan yang terletak kurang lebih 23 km arah selatan dari pusat pemerintahan Kabupaten Bojonegoro, dengan luas wilayah 8.715,30 ha yang sebagian besarnya adalah tanah pertanian.
Menilik profil sosial-ekonomi masyarakat Kabupaten Bojonegoro, data Badan Pusat Statistik (2025) mencatat indeks pembangunan manusia (IPM) berada di urutan ke-25 dari total 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, dengan rata-rata lama sekolah penduduk hanya 7,78 tahun dan pengeluaran per kapita per bulan sebesar Rp1,26 juta.
Bagi Jabal, kualitas pendidikan sangat penting sebagai fondasi memperbaiki kualitas ekonomi masyarakat desa, yang mendorongnya memiliki misi sosial menyisihkan sebagian omzet usaha untuk membangun pondok pesantren.
“Harapannya ini jadi pondok pesantren yang akan menjadi bengkel karakter dan fokus ke pendidikan bisnis juga. Jadi lulusannya sudah pasti paham agama dan insyaallah beromzet,” kata Jabal, Jumat (12/6/2026).
Loyalitas pasar komunitas silat menjadi resep omzet puluhan juta bagi Jabal. Sempat merasakan masa-masa sulit meraba pasar dari pintu ke pintu pada 2023, Jabal memutar otak dengan memanfaatkan eksposur pasar digital dan memantau tren media sosial hingga akhirnya segmentasi pasarnya mengerucut pada komunitas pencak silat yang memiliki ratusan perguruan di Jawa Timur.
“Yang kami tawarkan adalah imajinasi mereka ketika memakai produk itu. Banyak yang beli produk, misalnya hoodie di kisaran Rp500.000 per item. Buat harga berapa pun, mereka tetap beli,” ujar Jabal, yang juga berharap keberhasilannya dapat menginspirasi generasi muda melalui pembangunan pondok pesantren.
Dalam memilih platform, Jabal melakukan riset dan memutuskan menggunakan Shopee karena memiliki market trust yang kuat, jumlah pengguna yang besar dari berbagai kalangan usia, serta memungkinkan operasional bisnis dijalankan secara efektif langsung dari desa.
Riset tersebut sejalan dengan laporan Momentum Works 2026 yang menempatkan Shopee sebagai pemimpin e-commerce di Indonesia dan Asia Tenggara.
Transformasi dan program berkelanjutan dari Shopee, seperti yang disampaikan oleh Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia Satrya Pinandita, turut berperan penting dalam membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis secara lokal maupun global.
Kontribusi besar UMKM yang menyumbang lebih dari 60% PDB nasional dan menyerap 97% tenaga kerja mendorong pemerintah menargetkan 10 juta wirausaha baru pada 2029 melalui berbagai program strategis.
Kementerian UMKM meluncurkan program Bursa Wirausaha Unggulan serta mengoptimalkan peran 757 lembaga inkubator usaha yang disinergikan dengan program prioritas lainnya.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan komitmen pemerintah dalam mendampingi pengusaha dari proses awal hingga akses pembiayaan dan pemasaran.
Di sisi lain, Shopee juga aktif berkolaborasi melalui program Kampus UMKM Shopee dan pelatihan vokasi untuk memperkuat keterampilan digital nasional guna mencetak talenta yang adaptif terhadap dinamika ekonomi digital masa kini.