JAKARTA - Kenaikan keuntungan industri perbankan mengalami perlambatan pada permulaan semester II-2026. Di tengah situasi perekonomian yang belum sepenuhnya stabil, pihak bank memilih mengambil langkah waspada demi memelihara kesehatan operasional mereka.
Kondisi tersebut terlihat pada Bank Mandiri. Sampai Juli 2026, bank dengan simbol saham BMRI ini membukukan perolehan laba bersih secara bank only sebesar Rp 33,01 triliun, yang mengalami kenaikan 24,19% secara tahunan (year-on-year/yoy), atau sedikit melambat dibanding pencapaian 25% yoy pada bulan sebelumnya.
Pada rentang waktu yang serupa, Bank Negara Indonesia (BNI) mencatatkan laba bersih secara bank only senilai Rp 12,52 triliun, dengan pertumbuhan 5,53% yoy. Angka ini juga tercatat lebih lambat daripada kenaikan 7,56% yoy di periode bulan sebelumnya.
Sementara itu, Bank Central Asia (BCA) mengamankan laba bersih secara bank only sejumlah Rp 35,25 triliun hingga Juli 2026, yang bertambah tipis 1,57% yoy. Perolehan pada periode ini sedikit lebih baik jika dibandingkan pertumbuhan 1% yoy pada bulan sebelumnya.
EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, menerangkan bahwa roda pencetak laba bank pada dasarnya bergerak selaras dengan dinamika makroekonomi. Dengan kata lain, hasil kerja bank turut dipengaruhi oleh berbagai faktor dari luar.
“Pada prinsipnya, pendapatan bunga bersih akan sejalan dengan volume permintaan kredit, kondisi perekonomian, hingga pergerakan suku bunga,” ujar Hera, Kamis (27/8/2026).
Sampai Juli 2026, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BCA tampak cenderung mendatar dengan catatan kenaikan 0,33% yoy menjadi Rp 46,7 triliun, meskipun total penyaluran kredit bertambah 8,38% yoy hingga menyentuh Rp 1.000,88 triliun.
Hera menyampaikan pihaknya akan memaksimalkan pendapatan dari seluruh lini bisnis bank. Berperan sebagai institusi intermediasi, BCA berkomitmen untuk terus menggenjot penyaluran kredit ke berbagai sektor serta segmen dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Konsentrasi bank ditujukan pada upaya menjaga posisi permodalan serta tingkat likuiditas agar tetap berada di posisi yang kokoh sebagai fondasi bagi ekspansi kredit yang berkelanjutan dan bermutu dalam jangka panjang. Bersamaan dengan itu, pihak bank akan menyeimbangkan aspek likuiditas, profitabilitas, serta mutu kredit.
Sebaliknya, CIMB Niaga justru melaporkan adanya koreksi laba bersih secara bank only sebesar 9,08% yoy yang turun menjadi Rp 3,45 triliun per Juli 2026. Penurunan ini meneruskan koreksi 4,91% yoy yang terjadi pada bulan sebelumnya.
Kendati demikian, Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengutarakan bahwa pihaknya menilai kinerja tidak semata-mata dari besaran kenaikan laba. Faktor yang dinilai jauh lebih krusial saat ini justru berkaitan dengan parameter kesehatan kinerja itu sendiri.
Lani memaparkan bahwa rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bank saat ini masih terkendali pada level 1,88%, sementara rasio biaya operasional terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) tetap efisien pada kisaran 45%–46%.
Di samping itu, rasio pengembalian aset (return on assets/ROA) bank yang berada di kisaran 2% serta rasio pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) di kisaran 13%, menurut Lani, membuktikan bahwa kinerja bank saat ini masih bertahan di ambang batas yang sehat.
Alih-alih memburu pertumbuhan profitabilitas secara besar-besaran, kesehatan kinerja kini dipandang lebih krusial karena hal tersebut yang akan menentukan potensi kelanjutan bisnis di masa mendatang.
“Kami fokus pada kesehatan kinerja sehingga pada saat kondisi menjadi lebih baik, akan lancar untuk kinerja selanjutnya,” sebut Lani.