Perpustakaan Keliling dan Trauma Healing Hibur Anak Penyintas NTT

Selasa, 18 Agustus 2026 | 18:52:31 WIB
Ilustrasi mobil perpustakaan keliling di posko pengungsian Gor Samador Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kehadiran fasilitas mobil perpustakaan keliling serta berbagai kegiatan pemulihan trauma di posko pengungsian yang terletak di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), sehingga anak-anak penyintas gempa dapat tetap ceria.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam keterangan resminya di Jakarta pada hari Selasa, menyatakan bahwa layanan dukungan psikososial yang diselenggarakan di GOR Samador—yang sekaligus difungsikan sebagai lokasi pengungsian—merupakan wujud nyata kolaborasi bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka.

"Selain pemenuhan kebutuhan dasar, layanan dukungan psikososial melalui kegiatan trauma healing serta kehadiran perpustakaan keliling ini menjadi bentuk perhatian terhadap kebutuhan pengungsi, khususnya anak-anak yang harus menjalani aktivitas harian di lokasi pengungsian," katanya.

Ia menjelaskan bahwa armada mobil perpustakaan keliling tersebut menyediakan aneka ragam pilihan buku bacaan edukatif agar anak-anak tetap dapat melanjutkan proses belajar serta melakukan berbagai kegiatan yang positif selama tinggal di posko penampungan darurat.

Selain membaca buku, anak-anak juga diajak untuk berpartisipasi dalam beragam permainan interaktif, mendengarkan dongeng atau cerita, hingga bernyanyi bersama tim pendamping guna membantu mereka mengekspresikan perasaan sekaligus meredakan rasa cemas dan tekanan psikologis akibat guncangan gempa bumi.

Berton menegaskan bahwa strategi penanganan bencana yang komprehensif tidak boleh hanya berfokus pada aspek distribusi bantuan logistik fisik semata, melainkan juga harus memprioritaskan pemulihan kondisi psikologis dan sosial kelompok rentan seperti anak-anak agar mereka senantiasa merasa aman serta nyaman selama masa tanggap darurat berlangsung.

"Melalui kolaborasi berbagai pihak, layanan dukungan psikososial diharapkan dapat terus diberikan selama masyarakat masih berada di pengungsian," katanya.

Sebelumnya, pihak BNPB melaporkan berdasarkan data sementara bahwa terdapat lebih dari 5.000 jiwa warga yang mengungsi, baik secara mandiri maupun menempati fasilitas posko pengungsian resmi, yang sebagian besar disebabkan oleh kondisi rumah tinggal mereka yang mengalami kerusakan mulai dari kategori ringan hingga berat akibat guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7.

Berdasarkan hasil pemutakhiran data yang dihimpun oleh tim petugas gabungan di lapangan, tercatat setidaknya ada sebanyak 914 unit rumah mengalami rusak berat, 126 unit rusak sedang, dan 317 unit rusak ringan akibat terjangan getaran gempa.

Dampak kerusakan parah tersebut juga menimpa puluhan fasilitas publik penting, yang di antaranya mencakup 93 unit fasilitas pendidikan, 36 unit fasilitas kesehatan, serta 38 unit bangunan perkantoran pemerintahan.

Hingga hari Senin (17/8) yang lalu, tercatat ada sebanyak 68 orang korban jiwa meninggal dunia akibat musibah ini. Para korban tersebut berasal dari beberapa wilayah, yakni Kabupaten Manggarai sebanyak 26 jiwa, Kabupaten Manggarai Timur 24 jiwa, Kabupaten Nagekeo sebanyak delapan jiwa, Kabupaten Sikka empat jiwa, Kabupaten Ende dua jiwa, Kabupaten Manggarai Barat dua jiwa, serta Kabupaten Ngada sebanyak dua jiwa.

Selain mencatat adanya korban jiwa, pihak BNPB turut mendata bahwa terdapat sebanyak 213 orang warga yang menderita luka-luka akibat bencana tersebut.

Terkini