Uji Kelayakan Tabung Komposit ANG oleh BRIN Sebagai Solusi Pengganti LPG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:20:01 WIB
Pimpinan BRIN, Arif Satria. (Foto: NET)

JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini sedang meneliti kelayakan produksi dalam jumlah besar tabung komposit untuk teknologi Absorbed Natural Gas (ANG) yang dirancang sebagai opsi pemanfaatan gas alam lokal pengganti LPG. 

Pimpinan BRIN, Arif Satria, menyatakan pengembangan inovasi tersebut masih ada di fase percobaan, khususnya untuk menjamin keamanan serta daya guna wadah penampung gas yang memanfaatkan bahan komposit. 

"Sekarang ini tabungnya menggunakan komposit. Dari sisi teknis sedang diuji coba untuk horeka," ujar Arif usai menghadiri agenda Pertemuan Presiden RI dengan 150 Periset BRIN di Halaman Tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Arif menerangkan percobaan dilaksanakan untuk meninjau seberapa jauh inovasi mutakhir berbasis Metal Organic Framework (MOF) sanggup menambah daya tampung penyimpanan gas alam (Compressed Natural Gas/CNG). 

"Kami akan melihat bagaimana pemanfaatan teknologi baru dengan Metal Organic Framework yang bisa menyerap gas dalam jumlah besar, volume lebih besar menggunakan CNG," katanya. 

Menurut Arif, konsentrasi studi saat ini tidak cuma pada bahan penyerap gas, melainkan juga pada rancangan wadah penyimpanan yang berlainan dengan tabung metal konvensional. 

"Sekarang lagi dikaji dari sisi tabungnya, kompositnya. Ini menggunakan komposit yang berbeda dengan tabung logam saat ini," ujarnya.

Sebelumnya, BRIN mempertunjukkan teknologi ANG kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat bersama 150 peneliti di Istana Kepresidenan. 

Inovasi tersebut dinyatakan mampu menyimpan gas alam pada tekanan sekitar 30 bar lewat penggunaan material Metal Organic Framework (MOF), sehingga berpeluang menjadi opsi pengganti LPG impor. BRIN juga mengutarakan pengembangan ANG masih dalam fase penelitian dan percobaan. 

Seandainya sukses dikomersialisasikan, inovasi itu diperkirakan sanggup mengoptimalkan pemanfaatan gas alam dalam negeri sekaligus memangkas ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.

Terkini