Ekonomi Jawa Tengah Tumbuh Positif 5,80 Persen Namun Diikuti Ketimpangan

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:17:01 WIB
Perekonomian Provinsi Jawa Tengah membukukan performa positif lewat ekspansi sebesar 5,80% secara kumulatif pada semester I 2026 (cumulative-to-cumulative/c-to-c). (Foto: NET)

JAKARTA — Perekonomian Provinsi Jawa Tengah membukukan performa positif lewat ekspansi sebesar 5,80% secara kumulatif pada semester I 2026 (cumulative-to-cumulative/c-to-c). 

Hasil tersebut ditopang oleh laju ekspansi ekonomi Kuartal II/2026 yang mencapai 5,71% secara tahunan (year-on-year/yoy), melampaui ekspansi ekonomi nasional yang berada di level 5,29% (yoy). Secara kuartalan, perekonomian Jawa Tengah pada Kuartal II/2026 pun bertambah sebesar 1,72% (quarter-to-quarter/q-to-q).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah Ali Said menyampaikan bahwa provinsi ini memegang peranan strategis dalam menopang perekonomian regional maupun nasional. 

"Kontribusi Jawa Tengah terhadap perekonomian Pulau Jawa mencapai 14,50 persen atau sebesar 8,19 persen terhadap perekonomian nasional. Hal tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai kontributor perekonomian terbesar keempat secara nasional," tutur Ali pada Rabu (6/8/2026).

Dari sisi lapangan usaha, struktur ekonomi Jawa Tengah pada Kuartal II/2026 didominasi oleh sektor Industri Pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar 33,18%. Sektor ini membuktikan perannya sebagai motor penggerak utama kegiatan manufaktur dan produksi di kawasan Jawa Tengah.

Dari pilar pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) menjadi penyumbang terbesar dengan porsi mencapai 59,73%. Tingginya angka konsumsi rumah tangga mencerminkan aktivitas domestik dan daya beli masyarakat Jawa Tengah yang tetap solid sepanjang paruh pertama tahun 2026.

Pertumbuhan ekonomi yang kuat ini berjalan seiring dengan penurunan tingkat kemiskinan di wilayah Jawa Tengah. BPS mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 sebanyak 3,29 juta orang, atau setara dengan 9,21% dari total populasi. 

Persentase kemiskinan 9,21% pada Maret 2026 tersebut mengalami penurunan sebesar 0,18% poin jika dibandingkan posisi September 2025 yang berada pada level 9,39%. Bila dibandingkan dengan pencatatan Maret 2025 yang tercatat sebesar 9,48%, persentase penduduk miskin susut sebesar 0,27% poin.

Dalam mengukur kemiskinan, BPS menggunakan metodologi pemenuhan kebutuhan dasar atau basic need approach. Penghitungan tersebut menghasilkan Garis Kemiskinan Jawa Tengah sebesar Rp596.676 per kapita per bulan, dengan rata-rata Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin mencapai Rp2.571.674 per bulan.

"Berdasarkan garis kemiskinan tersebut, pada Maret 2026 terdapat sebanyak 3,29 juta penduduk miskin di Jawa Tengah. Dibandingkan September 2025 jumlah penduduk miskin turun 59.390 orang dan dibandingkan Maret 2025 turun 81.250 orang," jelas Ali.

Garis Kemiskinan Jawa Tengah didominasi oleh porsi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp453.356 per kapita per bulan atau menyumbang 75,98%. Sementara itu, Garis Kemiskinan Bukan Makanan tercatat sebesar Rp143.320 per kapita per bulan dengan kontribusi sebesar 24,02%. 

Komoditas makanan utama seperti beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, bawang merah, tempe, roti, dan gula pasir masih menjadi pendorong utama garis kemiskinan di perkotaan maupun perdesaan. 

Di kawasan perkotaan, komoditas nonmakanan yang memberikan pengaruh terbesar adalah sektor perumahan, sedangkan di kawasan perdesaan komoditas kopi bubuk dan kopi instan turut memberi sumbangan signifikan.

BPS juga mencatat persentase penduduk miskin di wilayah perkotaan lebih rendah yaitu sebesar 8,59% pada Maret 2026. Di sisi lain, persentase penduduk miskin di wilayah perdesaan masih relatif lebih tinggi yaitu menyentuh angka 9,96%.

Di tengah tren ekspansi ekonomi dan efektivitas penurunan kemiskinan, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk yang diukur melalui Rasio Gini justru mengalami kenaikan. Indikator Rasio Gini Jawa Tengah pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,354, atau naik 0,004 poin dibandingkan September 2025 yang sebesar 0,350. 

Peningkatan ketimpangan tercatat terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan. Rasio Gini perkotaan naik dari 0,381 pada September 2025 menjadi 0,384 pada Maret 2026, sedangkan kawasan perdesaan naik dari 0,296 menjadi 0,298 pada periode yang sama.

Pada perkembangan lain, Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 mencatat jumlah angkatan kerja Jawa Tengah mencapai 22,36 juta orang, bertambah 31,90 ribu orang dibanding Februari 2026. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tercatat sebesar 73,79%, mengalami penurunan tipis sebesar 0,11% poin. 

Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Tengah pada Mei 2026 berada pada posisi 4,30%. Angka TPT ini mengalami kenaikan sebesar 0,06% poin jika dibandingkan dengan angka pencatatan pada Februari 2026.

Terkini