Manfaatkan Peluang Dagang RI-Thailand, CORE Dorong Industri Otomotif

Jumat, 07 Agustus 2026 | 01:32:31 WIB
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal. (Foto: NET)

JAKARTA - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal berpendapat sektor otomotif harus sanggup menggunakan peluang ekspor utamanya komoditas antara (intermediate product) dalam sinergi dagang Indonesia-Thailand.

“Terkait ekspor yang lumayan cukup banyak untuk bisa masuk ke pasar Thailand itu termasuk di antaranya adalah produk-produk otomotif, bukan hanya produk jadi karena Thailand juga kan sebetulnya powerhouse industri otomotif di ASEAN paling besar,” kata Faisal saat dihubungi di Jakarta, Jumat (7/8/2026). 

“Tapi kami bisa mengisi yang Thailand tidak produksi atau yang kurang produksinya, bukan hanya produk jadi, tapi juga produk antara, karena kami tahu bahwa perdagangan barang ini kan tidak melulu atau bahkan mungkin banyak bukan produk jadi tapi juga produk antara,” ujarnya menambahkan.

Adapun kolaborasi dagang ini dipertegas melalui perjumpaan antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul beberapa waktu lalu. 

Kedua negara sepakat untuk mencanangkan sasaran nominal perdagangan bilateral sejumlah 20 miliar dolar AS pada 2030, yang tertera dalam Peta Jalan Kemitraan Strategis Indonesia-Thailand 2026-2030.

Total nominal perdagangan kedua negara tercatat sebanyak 17,67 miliar dolar AS pada 2025. Data Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga mencatat bahwa akumulasi perdagangan sepanjang semester I/2026 telah menembus 9,80 miliar dolar AS.

Secara spesifik untuk sektor otomotif, Faisal menilai baik komoditas antara maupun komoditas jadi bisa dikembangkan hingga ke kendaraan listrik (EV). Menurut pandangannya, Indonesia sangat potensial sebagai penyedia baterai EV di wilayah Asia Tenggara.

“Kami punya kelebihan sekarang EV, termasuk di antaranya baterai. Mestinya kami bisa mengisi ekspor baterai untuk keperluan pembangunan industri EV di Thailand. Selain itu, yang lain-lain kami punya kelebihan dari sisi komoditas tambang yang sekarang kami menghilirisasikan,” ujar Faisal.

Disamping itu, ia mengungkapkan bermacam produk industri hilir pertambangan juga bisa menjadi andalan Indonesia untuk dikirim ke Negeri Gajah Putih. Terlebih lagi, Thailand juga banyak melakukan impor besi serta baja, tembaga beserta turunannya, hingga aluminium beserta turunannya dari Indonesia.

“Nah, itu yang bisa didorong semestinya karena kami sedang mengembangkan industri di situ, dan mestinya berorientasi ekspor. Lainnya juga termasuk dalam elektronika dan mesin-mesin elektrik yang kami banyak produksi untuk didorong masuk ke pasar Thailand, bukan hanya produk jadi tapi juga produk antara,” kata Faisal.

“Selain itu, produk turunan daripada komoditas pertanian dan perkebunan mulai dari turunan sawit, turunan kakao, turunan karet, turunan kelapa dan juga produk perikanan dan turunannya juga bisa (diekspor ke Thailand),” ujarnya menambahkan.

Terkini