Liga Putri Indonesia 2026 Resmi Bergulir 17 Oktober dan Dipusatkan di Jakarta

Liga Putri Indonesia 2026 Resmi Bergulir 17 Oktober dan Dipusatkan di Jakarta
PSSI lewat I.League dengan resmi menghadirkan Indonesia Women's League 2026 atau Liga Putri Indonesia 2026. (Foto: NET)

JAKARTA - PSSI lewat I.League dengan resmi menghadirkan Indonesia Women's League 2026 atau Liga Putri Indonesia 2026. Ajang yang sempat vakum selama tujuh tahun ini akhirnya kembali dihelat mulai 17 Oktober 2026 sampai 31 Januari 2027. 

Sebanyak enam tim dipastikan ambil bagian, antara lain Persija Jakarta, Dewa United, Persita Tangerang, Garudayaksa, Persikad Depok, FC Bekasi City. Kompetisi ini memakai format triple round robin. 

Hal tersebut mengartikan setiap skuad bertanding tiga kali sebelum melangkah ke babak gugur, yakni semifinal serta final. Seluruh laga bakal dilangsungkan secara terpusat di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Jakarta.

Liga Putri Indonesia 2026 tersebut bakal dibuka lewat duel antara Persita Tangerang berhadapan dengan Persija Jakarta.

"Jadi seperti pada umumnya proses bayi berjalan juga perlahan-lahan. Jadi kita mulai dengan enam klub di area Jabodetabek," ujar CEO Indonesia Women's League, Teddy Tjahjono, saat konferensi pers di Kantor I.League, Jakarta, Selasa (11/8/2026).

"Karena kami ingin memastikan bahwa secara liga dan secara klubnya bisa sustainable untuk jangka panjang."

"Kami juga ingin Indonesia Women’s League ini bisa berjalan selamanya dan terus berkembang, tumbuh dengan baik untuk mendukung Timnas Indonesia Putri," jelas dia.

Selain itu, Teddy turut mengutarakan bahwasanya setiap klub diperbolehkan merekrut empat pemain asing. Khusus pada musim perdana, pemain diaspora yang bergabung ke tim partisipan Liga Putri Indonesia bakal dikategorikan sebagai pemain asing. 

Sejauh ini, dia menyebutkan ada dua pemain diaspora yang bakal merapat ke Liga Putri Indonesia, yakni Isabelle Nottet serta Estella Loupatty. 

Sementara itu, pilar Timnas Indonesia dibagikan ke seluruh tim peserta secara merata yang dipilih lewat sistem drafting. Guna memeriahkan ajang tersebut, Teddy memaparkan setiap pekan pertandingan bakal dikemas menyerupai festival.

"Kami sudah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan pemilik klub, termasuk proses pembahasan teknis, kemudian termasuk ada drafting pemain di awal karena kita ingin membuat suatu pemerataan di awal liga ini sehingga kita melakukan proses drafting dan sudah dilakukan semua," ungkap Teddy.

"Jadi konsepnya adalah turnamen terpusat dengan konsep festival olahraga dengan beberapa modifikasi di pertandingan yang akan digabungkan dengan pertandingan di putranya," tutur dia.

Sementara itu, Komite Eksekutif (Exco) PSSI yang membawahi Departemen Sepak Bola Putri, Vivin Cahyani Sungkono, mensyukuri bergulirnya Liga Putri Indonesia pasca berhenti cukup lama akibat pandemi Covid-19. Dia menuturkan pembahasan guna menggelar ajang sepak bola putri telah berlangsung selama dua tahun.

"Saya mewakili Departemen Sepak Bola Putri di PSSI, kami memang punya kerinduan yang sangat besar untuk bisa mendapatkan kesempatan menyelenggarakan Liga Putri secara konsisten dan sustainable," ucap Vivin.

"Karena apa yang kita sudah selenggarakan di tahun-tahun sebelumnya itu seperti kembang api. Jadi nyala dan sebentar saja mati," ungkapnya.

Lebih lanjut, Vivin menyampaikan bahwasanya bergulirnya liga pun dikarenakan saat ini kualitas pemain pada sepak bola putri telah kian meningkat seusai konsistensi mengadakan kompetisi sepak bola putri usia dini.

"Kami juga bisa melihat bahwa talent pool tahun-tahun belakangan ini makin menambah, sehingga tahun ini kami memberanikan diri untuk memulai," ucap Vivin.

"Saya mewakili segenap pemain putri yang sangat merindukan kompetisi, sekarang mereka sedang sangat bersukacita dan berbahagia. Mereka semua bersemangat. Seluruh klub yang ditunjuk sudah mulai bergerak bergerilya untuk mengontrak masing-masing pemain," imbuhnya.

Pada momen serupa, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengutarakan federasi di bawah komandonya tidak pernah mengesampingkan sepak bola putri.

"Kita punya komitmen bahwa sepak bola wanita itu tidak pernah dinomorduakan oleh kepengurusan PSSI saat ini. Saya rasa tidak ada periode-periode yang kita bisa lihat Tim Nasional Putri berjalan seiring dengan Tim Nasional Putra," ucap Erick.

"Baik dari komitmen pembentukan Tim Nasional Muda yang usia U17, U19, U20 yang kadang-kadang bertukar-tukar sesuai dengan kompetisi yang berjalan, dan bahkan senior. Dan itu terus berjalan," terang dia.

Hanya saja, dia mengeklaim pihaknya berkonsentrasi guna membangun kolam talentanya terlebih dahulu sebelum menggelar liga. Sebab, dirinya menghendaki kompetisi ini berlangsung secara berkelanjutan ketika sudah berjalan.

"Artinya ada keseriusan. pembinaan hari ini juga saya rasa belum pernah ada ya, kompetisi kontinu seperti hari ini. Ada U-8, U-10, U-12, U-15, U-18. PSSI juga memutar Piala Soeratin untuk yang senior yang juga lakukan juga di bawah U-14, U16," kata pria yang juga menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga RI.

"Jadi kita lakukan semua. Dan ini sayangnya dilihat sepotong-sepotong. Bahwa tidak mungkin pembangunan Tim Nasional itu tanpa pembangunan kompetisi usia muda yang sudah kita lakukan berapa tahun ke depan."

"Dan tidak mungkin liga ini bisa berjalan kalau tidak ada pembangunan talent pool sehingga jumlah pemainnya cukup untuk dilakukan secara profesionalisme untuk klub-klub yang akan melakukan kompetisi tersebut," ucap dia.

Dia pun menegaskan bahwasanya Liga Putri Indonesia secara berkelanjutan setidaknya bakal bergulir selama lima tahun.

"Klub-klub bersepakat komitmen selama 5 tahun, liga juga bersepakat untuk mendorong. Dan tinggal kita dorong bagaimana komersialisasi-nya ini bisa berjalan dengan baik sehingga klub-klub punya waktu untuk terus mengembangkan kompetisi ini," ungkap Erick.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index