Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 30,30 Juta SID di 2026

Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 30,30 Juta SID di 2026
Karyawan beraktivitas di depan layar monitor yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) membeberkan total investor di pasar modal saat ini telah menembus 30,30 juta single investor identification (SID), atau melonjak 9,9 juta pada periode tahun berjalan.

Berdasarkan pencatatan KSEI per 7 Agustus 2026, jumlah investor pasar modal terdata sebanyak 30,30 juta SID. Sejak awal tahun, kuantitas investor pasar modal bertambah 9,9 juta SID. Peningkatan SID tersebut mencapai 49% dibanding posisi 20,34 juta SID investor pasar modal pada akhir 2025.

Peta sebaran investor pasar modal masih didominasi Pulau Jawa dengan proporsi 64,44% dan nilai aset mencapai Rp5.586 triliun. Selanjutnya, porsi sebaran investor terbanyak kedua disusul Sumatra dengan pangsa 19,34% dan nilai aset Rp151 triliun, Kalimantan (5,75%) dengan aset Rp133 triliun, Sulawesi (5,66%) dengan aset Rp26 triliun, Bali, NTB dan NTT (3,61%) dengan aset Rp30 triliun, serta Maluku dan Papua (1,20%) dengan nilai aset Rp9 triliun.

Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat menyampaikan bahwa lonjakan jumlah investor ini mencerminkan potensi pasar modal yang amat luas, terutama untuk menggenjot keterlibatan investor di Indonesia.

"Harapannya dengan peningkatan partisipasi ini akan terjadi peningkatan pendalaman pasar. Artinya pasar kami akan menjadi lebih besar baik dari sisi transaksi harian maupun dari jumlah efek yang tersedia di pasar modal kami," kata Samsul dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Senin (10/8/2026).

Apabila ditelisik menurut wilayah, Provinsi Aceh menjadi daerah dengan laju pertumbuhan investor pasar modal tertinggi, yakni melesat 103,65%, disusul Sumatra Barat yang naik 85,36%, Nusa Tenggara Barat meningkat 82,97%, Jambi terangkat 81,37%, serta Provinsi Riau yang bertambah 81,27%.

Jika dicermati berdasarkan akumulasi nilai aset terbesar, Samsul menerangkan bahwa kawasan dengan pertumbuhan aset tertinggi ditempati Nusa Tenggara Timur yang terangkat 16,57%, Maluku naik 13,80%, Gorontalo meningkat 9,10%, Papua Barat naik 8,74%, serta Sulawesi Tengah bertambah 7,44%.

Meskipun kuantitas investor melonjak sepanjang 2026, tren tersebut tak diiringi oleh pertumbuhan nilai aset. Samsul memerinci bahwa per 7 Agustus 2026 nilai aset yang dibukukan dalam C-BEST berada di angka Rp8.261 triliun, atau merosot 22% dari posisi akhir 2024 yang sebesar Rp10.623 triliun. Di samping itu, nilai aset di S-INVEST turut terkikis 2% dari Rp1.008 triliun menjadi Rp988 miliar.

Sebagai informasi, C-BEST dan S-INVEST memegang cakupan penatausahaan aset yang berbeda. C-BEST berfokus mencatat dan mengadministrasikan efek yang ditransaksikan di bursa, seperti saham, obligasi, sukuk, ETF, waran, dan HMETD. Sementara itu, S-INVEST mencatat serta mengintegrasikan pengelolaan produk investasi kolektif, terutamanya reksa dana.

Data akumulasi aset di C-BEST lebih menggambarkan kepemilikan efek secara langsung, sedangkan S-INVEST lebih mencerminkan kepemilikan instrumen investasi seperti reksa dana.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index