Rampungkan Spin-Off Tahap 2, InfraNexia Kelola Aset Rp85,7 Triliun

Rampungkan Spin-Off Tahap 2, InfraNexia Kelola Aset Rp85,7 Triliun
Pekerja menarik kabel fiber optic [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) secara resmi memegang kendali atas sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik—setara nyaris tiga kali keliling bumi—setelah menuntaskan proses Spin-Off InfraCo Tahap 2 dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (Telkom). Bentangan jaringan tersebut mencakup kurang lebih 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik yang merentang di wilayah Indonesia.

Melalui pengalihan aset dan operasional ini, InfraNexia saat ini menguasai lebih dari 90% total aset infrastruktur jaringan yang mulanya berada di bawah naungan Telkom. Adapun transaksi Spin-Off InfraCo Tahap 2 ini mencatatkan nilai Rp49,9 triliun. Apabila diakumulasikan dengan Spin-Off InfraCo Tahap 1 yang telah berjalan efektif sejak Januari 2026, total nilai pengalihan aset serta bisnis Telkom kepada InfraNexia menyentuh Rp85,7 triliun.

Aset yang diserahterimakan meliputi jaringan akses pelanggan, core backbone, hingga sarana infrastruktur pendukung lainnya. Penataan ini memperkokoh posisi InfraNexia sebagai penyedia infrastruktur digital wholesale.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyampaikan bahwa penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2 menjadi milestone penting dalam perombakan bisnis TelkomGroup sekaligus menyokong langkah Danantara Asset Management dalam menata aset BUMN.

“Spin-Off InfraCo Tahap 2 sebagai langkah strategis dalam perjalanan transformasi TLKM 30 untuk memperkuat InfraNexia sebagai mesin pertumbuhan baru, yang akan meningkatkan kapabilitas layanan infrastruktur, mengoptimalkan efisiensi bisnis, serta membuka peluang kemitraan strategis guna mendukung percepatan konektivitas digital nasional,” ujar Dian dalam keterangan tertulis, dikutip pada Sabtu (8/8/2026).

TelkomGroup turut memacu strategi TLKM 30, khususnya pada pilar unlock value, lewat percepatan monetisasi aset infrastruktur bernilai tinggi seperti data center, menara telekomunikasi, serta jaringan fiber.

Perkuat Bisnis Wholesale Connectivity Usai tuntasnya pengalihan portofolio bisnis dan aset, InfraNexia bakal berdiri sebagai salah satu pilar utama bisnis wholesale connectivity TelkomGroup dengan menggenggam lebih dari 90% total aset infrastruktur jaringan milik Telkom terdahulu. Portofolio tersebut merangkumi jaringan akses pelanggan, core backbone, hingga prasarana pendukung lainnya.

Secara menyeluruh, atas kepemilikan aset tersebut, InfraNexia bakal mengoperasikan sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer SKKL domestik yang terbentang di antero Indonesia atau hampir setara 3 kali keliling bumi. Berbekal penguasaan aset ini, InfraNexia memantapkan perannya sebagai penyedia layanan wholesale connectivity yang berfokus pada pengembangan infrastruktur konektivitas digital nasional.

Lebih lanjut, Dian menuturkan bahwa transformasi ini juga difokuskan untuk meningkatkan customer experience lewat tata kelola bisnis infrastruktur yang lebih fokus dan adaptif.

“Dengan kehadiran InfraNexia, kami optimistis dapat menghadirkan layanan yang lebih cepat, andal, dan berkualitas sehingga mampu memberikan customer experience yang terbaik bagi pelanggan,” ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menjelaskan pembentukan InfraNexia merupakan wujud penerapan penataan portofolio TelkomGroup guna memperkuat bisnis infrastruktur digital.

“Melalui pembentukan InfraNexia, Telkom tidak hanya mengoptimalkan pemanfaatan aset dan meningkatkan fleksibilitas dalam mengembangkan peluang kemitraan, tetapi juga menciptakan pondasi pertumbuhan yang berkelanjutan bagi seluruh portofolio bisnis TelkomGroup,” ucap Seno.

Langkah ini, lanjut Seno, sekaligus mempertegas posisi TelkomGroup dalam mendukung pengembangan ekosistem infrastruktur digital Indonesia yang lebih terbuka, kompetitif, serta berdaya saing global. Kendati lebih dari 99% saham InfraNexia masih dikuasai Telkom, perusahaan dipastikan tetap beroperasi secara profesional dalam melayani seluruh konsumen.

Pemisahan lini bisnis ini diharapkan dapat mendongkrak keandalan serta mutu layanan konektivitas sekaligus menunjang TelkomGroup dalam memperluas penetrasi fixed broadband demi mempercepat pemerataan konektivitas digital di Indonesia.

Bidik 5G, AI hingga Data Center Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf menyampaikan bahwa rampungnya spin-off menjadi pijakan untuk memperkuat posisi perusahaan sebagai penyedia infrastruktur konektivitas wholesale.

“Kami optimistis penyelesaian spin-off ini semakin memperkokoh InfraNexia sebagai penyedia infrastruktur konektivitas wholesale yang netral dan andal. Dengan integrasi aset yang semakin matang, kami akan memperkuat layanan utama kami, mulai dari 5G backhaul, wholesale network dan FTTx, hingga passive infrastructure sharing,” kata Lukman.

Selain itu, Lukman menjelaskan bahwa perusahaan telah melakukan akselerasi program network modernization serta mendorong penerapan autonomous network guna menghadirkan infrastruktur konektivitas yang lebih cerdas, efisien, dan adaptif.

Menurut Lukman, langkah strategis ini akan memperkuat kesiapan kami dalam pengembangan konektivitas mendukung pertumbuhan AI, cloud, dan data center di Indonesia.

“Semua ini kami jalankan dengan fokus utama kepada pertumbuhan bisnis dan kepuasan pelanggan,” tambahnya.

TelkomGroup menjamin proses transaksi berjalan secara seamless sehingga tidak mengganggu layanan pelanggan. Seluruh tahapan transaksi juga dieksekusi secara transparan dengan mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) serta mematuhi koridor hukum dan regulasi yang berlaku, termasuk aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index