JAKARTA - Bagi sebagian orang, bercerita kepada orang terdekat justru terasa sulit.
Terdapat rasa takut dihakimi, khawatir hubungan akan berubah, atau perasaan malu karena orang tersebut mengenal diri sendiri dengan terlalu baik.
Sebaliknya, sebagian orang justru bisa lebih mudah membuka diri kepada orang asing.
Cerita yang berat kadang terasa lebih ringan ketika disampaikan kepada seseorang yang tidak memiliki hubungan dekat atau riwayat panjang dalam hidupnya.
Dosen psikologi UIN Jakarta, Ikhwan Lutfi, mengatakan fenomena ini berangkat dari kebutuhan manusia untuk merasa terhubung.
Terutama di kota besar, kedekatan fisik dengan banyak orang tidak selalu berarti seseorang memiliki ruang sosial yang akrab.
"Kota menghadirkan paradoks. Semua orang kumpul di kota besar, tapi di sisi lain banyaknya orang itu ternyata membuat alienasi. Bahasa gampangnya, kami merasa kesepian," kata Ikhwan kepada CNNIndonesia.com, Jumat (5/6).
Ikhwan menyebut sebagian orang merindukan authentic connectivity, yaitu koneksi yang terasa lebih jujur dan tidak dibebani basa-basi.
Dalam situasi tertentu, orang asing bisa terasa sebagai ruang yang lebih bebas untuk berbagi cerita.
Orang asing terasa lebih aman secara sosial Dalam psikologi, terdapat istilah stranger on the train phenomenon. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang lebih mudah bercerita kepada orang asing dalam pertemuan singkat—misalnya saat bertemu di kereta—karena kecil kemungkinan mereka akan bertemu kembali.
Studi Online Self-Disclosure and the Role of Visual Anonymity menunjukkan bahwa seseorang bisa merasa lebih nyaman membuka cerita personal kepada orang asing, terutama dalam hubungan yang bersifat sementara.
Risiko sosialnya terasa lebih rendah karena orang tersebut tidak terhubung langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Ikhwan menjelaskan, jarak sosial dengan orang asing membuat sebagian orang merasa tidak terbebani oleh penilaian jangka panjang.
"Kami akan mudah ngobrol dengan orang yang sama sekali tidak kami kenal. Kami curhat habis-habisan dengan pikiran, nanti tidak kenal ini, habis itu tidak akan ketemu lagi," kata Ikhwan.
Faktor lain yang berperan adalah rasa anonim. Mengutip studi bertajuk Anonymity and Online Self-Disclosure, anonimitas berkaitan erat dengan keterbukaan diri.
Saat identitas seseorang tidak terlalu melekat, ia cenderung lebih berani mengungkapkan hal personal.
Dalam konteks ini, anonim tidak selalu berarti tanpa nama, melainkan adanya jarak sosial di mana seseorang hadir tanpa beban citra atau penilaian masa lalu.
"Ketika kami ketemu dengan orang yang kami tidak takut identitas kami terbongkar atau masa lalu kami diketahui, kami bisa berekspresi secara lebih bebas," ujarnya.
Tetap perlu batas saat membuka diri Meski terasa melegakan, Ikhwan mengingatkan bahwa keterbukaan kepada orang asing tetap memerlukan batas.
Risiko terbesar adalah terlalu cepat percaya, terlalu berharap pada pertemuan singkat, atau membuka informasi pribadi terlalu jauh.
"Risiko terbesar itu keamanan dan kenyamanan. Secara psikologis, kadang kami tidak memberi batasan. Berharap terlalu banyak terhadap pertemuan itu," ucap Ikhwan.
Menurut Ikhwan, seseorang perlu sadar mengenai tujuan dan batasan saat membuka diri kepada orang baru. Cerita boleh mengalir, tetapi informasi yang terlalu pribadi tetap perlu dijaga.
"Harus mindful. Kesadaran itu harus selalu dibangun dan dipertahankan selama proses berlangsung," katanya.
Fenomena kenyamanan dalam bercerita kepada orang asing menunjukkan bahwa banyak orang membutuhkan ruang aman untuk didengar.
Bagi sebagian orang, ruang tersebut muncul dari pertemuan singkat dengan seseorang yang tidak membawa beban hubungan lama.