JAKARTA - Dalam era digital, pendidikan pesantren salafiyah dituntut untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) menekankan pentingnya transformasi digital melalui pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN) Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren Salafiyah (PKPPS) Tahun Ajaran 2025/2026.
Dengan metode Computer Based Test (CBT), Kemenag berharap kualitas pendidikan pesantren meningkat, transparansi evaluasi terjamin, dan lulusan lebih siap bersaing di era modern.
Transformasi Digital dan Kesiapan Pesantren
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, menekankan bahwa pesantren harus bertransformasi tanpa kehilangan jati diri.
“Pesantren harus terus bertransformasi tanpa kehilangan jati dirinya. Ujian berbasis digital ini menjadi bagian dari upaya kita menjaga kualitas sekaligus memperkuat daya saing lulusan pesantren,” ujarnya di Jakarta, Senin.
Ujian akhir berbasis digital ini diikuti oleh 69.176 santri dari berbagai pesantren di seluruh Indonesia. Transformasi ini memungkinkan pesantren mengadopsi teknologi untuk proses evaluasi yang lebih modern, sekaligus menyiapkan santri menghadapi tantangan global.
Dengan pelaksanaan CBT, diharapkan proses belajar-mengajar menjadi lebih adaptif, transparan, dan efisien, sesuai dengan perkembangan zaman.
Jadwal dan Tujuan Pelaksanaan UAN PKPPS
Pelaksanaan UAN PKPPS dijadwalkan bertahap sesuai tingkat pendidikan: tingkat Ulya pada 6–19 April 2026, tingkat Wustha pada 20 April–2 Mei 2026, dan tingkat Ula pada 4–16 Mei 2026. Ujian ini bertujuan mengukur capaian hasil belajar santri sesuai Standar Kompetensi Lulusan yang telah ditetapkan.
Menurut Amien Suyitno, ujian ini merupakan instrumen penting untuk memastikan mutu pendidikan pesantren tetap terjaga. Dengan pengukuran capaian pembelajaran berbasis standar, Kemenag dapat menilai secara objektif kualitas lulusan sekaligus memberikan arahan perbaikan bagi pesantren yang memerlukan.
Transformasi digital menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan akuntabilitas dan efisiensi dalam evaluasi pendidikan.
Integritas dan Karakter Santri
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, Arskal Salim, menekankan pentingnya prinsip integritas, kejujuran, dan profesionalitas dalam pelaksanaan ujian.
“Ujian ini bukan sekadar evaluasi akademik, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter. Integritas harus menjadi fondasi utama dalam setiap prosesnya,” tegasnya.
Pendampingan optimal bagi santri juga menjadi fokus utama agar proses ujian berlangsung lancar. Sekolah dan penyelenggara diwajibkan memastikan kesiapan teknis, perangkat CBT berfungsi baik, dan semua peserta memahami mekanisme ujian. Dengan demikian, UAN PKPPS bukan hanya mengukur kemampuan akademik, tetapi juga membentuk mental dan karakter santri yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.
Dukungan Pesantren dan Peran Kiai
Direktur Pesantren Kemenag, Basnang Said, menambahkan bahwa UAN PKPPS merupakan bentuk pengakuan negara terhadap sistem pendidikan pesantren salafiyah. Ia mengajak seluruh pesantren, para kiai, ustaz, dan santri, untuk menyukseskan pelaksanaan ujian.
“Kami mengajak seluruh pesantren, para kiai, ustaz, dan santri, untuk bersama-sama menyukseskan UAN PKPPS ini. Ini adalah ikhtiar bersama dalam menjaga mutu sekaligus marwah pendidikan pesantren,” kata Basnang Said.
Dukungan guru, ustaz, dan wali asuh menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan CBT, memastikan santri dapat mengikuti ujian dengan baik tanpa kendala teknis maupun mental.
Dampak dan Harapan Masa Depan
Transformasi digital melalui UAN PKPPS diharapkan mendorong kualitas lulusan pesantren lebih kompetitif dan siap menghadapi perkembangan global. Ujian berbasis CBT menyiapkan santri untuk terbiasa dengan teknologi, memperkuat daya saing, dan menjaga kualitas pendidikan pesantren di era modern.
Selain itu, keberhasilan UAN PKPPS akan menjadi contoh bagi pesantren lain untuk mengadopsi sistem evaluasi berbasis digital.
Menteri Kemenag menegaskan bahwa inovasi ini adalah bagian dari komitmen pemerintah dalam memodernisasi pendidikan pesantren tanpa mengurangi nilai-nilai tradisional dan karakter Islami. Dengan dukungan seluruh pihak, santri dapat menapaki pendidikan yang lebih terukur, profesional, dan tetap berakhlak mulia.
Ujian ini sekaligus menjadi momentum bagi pesantren untuk menunjukkan bahwa sistem pendidikan salafiyah mampu adaptif terhadap perubahan zaman. Dengan persiapan matang, integritas tinggi, dan dukungan semua pihak, UAN PKPPS akan menjadi tolok ukur keberhasilan transformasi digital pendidikan pesantren.
Pelaksanaan UAN PKPPS berbasis digital menegaskan bahwa pendidikan pesantren salafiyah mampu beradaptasi di era modern tanpa kehilangan identitas. Dengan transformasi digital, pengukuran capaian pembelajaran menjadi lebih transparan, efisien, dan akuntabel.
Dukungan dari guru, ustaz, wali asuh, dan seluruh pesantren menjadi kunci suksesnya ujian ini. Menteri PPPA Arifah Fauzi menegaskan bahwa UAN PKPPS adalah langkah strategis untuk meningkatkan kualitas, integritas, dan daya saing lulusan pesantren di seluruh Indonesia.