Bank Indonesia

Strategi Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah Menuju Tren Penguatan

Strategi Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah Menuju Tren Penguatan
Strategi Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah Menuju Tren Penguatan

JAKARTA - Di tengah dinamika pasar keuangan global yang fluktuatif, komitmen otoritas moneter dalam menjaga nilai tukar nasional menjadi jangkar krusial bagi perekonomian. Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan posisinya untuk mengawal pergerakan Rupiah agar tetap selaras dengan kondisi fundamental ekonomi dalam negeri. Meski tekanan eksternal masih membayangi, optimisme terhadap pemulihan nilai mata uang garuda tetap menjadi prioritas utama bank sentral.

Bank Indonesia (BI) memastikan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan terus menguat, sesuai dengan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia. Meskipun, ada sedikit tekanan pada hari ini. Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup turun tipis 0,03% ke level Rp16.785/US$ per hari ini, Senin. Padahal, pada pembukaan perdagangan pagi hari, rupiah sempat menguat dengan apresiasi sebesar 0,06% di posisi Rp16.770/US$.

Optimisme Fundamental dan Prospek Ekonomi Nasional

Pergerakan Rupiah belakangan ini menunjukkan pola yang lebih stabil jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Bank Indonesia melihat transisi ini sebagai sinyal positif bahwa kebijakan yang diambil mulai membuahkan hasil di pasar spot.

"Jadi kemarin-kemarin kan di level Rp 16.900-an kan ya, pelan-pelan kemudian sekarang di level Rp 16.700-Rp 16.800. Kita tentunya optimis bagaimana disampaikan Pak Gubernur bahwa rupiah akan cenderung menguat," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso di kawasan Sentul, Bogor.

Denny menambahkan bahwa penguatan ini didorong oleh beberapa faktor internal yang solid. "Karena prospek ekonomi Indonesia, karena fundamental Indonesia bagus, dan juga tentunya karena yield surat berharga Indonesia yang kompetitif. Dan kita harapkan semua pihak juga bisa ikut sama-sama menciptakan kondisi yang kondusif untuk pasar keuangan Indonesia yang lebih baik," tegasnya.

Intervensi Pasar dan Optimalisasi Instrumen Moneter

Menghadapi spekulasi dan volatilitas yang mungkin muncul dari faktor global, Bank Indonesia menyatakan kesiapannya untuk melakukan langkah-langkah darurat. Penjagaan terhadap kurs tidak hanya dilakukan melalui retorika, tetapi melalui aksi nyata di berbagai lini pasar uang.

Ramdan Denny memastikan, BI akan terus berada di pasar keuangan untuk memastikan kurs rupiah bergerak sesuai fundamental ekonomi Indonesia. Ia pun menekankan, intervensi juga akan terus dilakukan BI bila diperlukan untuk menjaga stabilitas kurs. Hal ini mencakup pengawasan ketat terhadap arus modal keluar serta ketersediaan likuiditas dolar di pasar domestik.

"Artinya BI tetap akan mengoptimalkan semua instrumen yang ada untuk membawa rupiah itu stabil dan cenderung menguat, kan gitu ya. Dan ini yang kita lakukan apabila diperlukan bisa intervensi ya, baik di pasar domestik maupun di pasar offshore. Dan tentunya kan secara bertahap rupiah bisa dibuat stabil," paparnya lebih lanjut.

Teka-teki Level 15.000: Fokus pada Stabilitas Bukan Target Angka

Muncul pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar mengenai sejauh mana penguatan ini akan dikawal, terutama apakah ada peluang bagi Rupiah untuk kembali menyentuh level psikologis Rp15.000/US$. Menanggapi hal tersebut, bank sentral memberikan jawaban yang lebih menekankan pada mekanisme pasar dan kualitas stabilitas.

Ketika ditanya wartawan apakah BI akan terus mengawal penguatan kurs rupiah hingga mampu kembali ke level Rp 15.000/US$, Ramdan Denny menekankan bahwa bank sentral tidak menargetkan nilai rupiah di angka tertentu, melainkan sebatas menjaga stabilitasnya. Langkah ini diambil untuk menghindari distorsi pasar yang berlebihan akibat penetapan target angka yang kaku.

"Artinya kita tidak akan me-level kan ya, tapi yang penting adalah bagaimana rupiah tetap stabil, dan setelah bertahap itu menguat, kan gitu ya. Jadi tentunya ini semuanya tergantung faktor global dan juga domestik," ujar Ramdan Denny. Penekanan pada proses "bertahap" menunjukkan bahwa BI lebih mengutamakan pertumbuhan nilai tukar yang berkelanjutan daripada lonjakan sesaat yang berisiko memicu spekulasi baru.

Dengan dukungan fundamental yang kuat dan keberadaan BI di pasar, stabilitas nilai tukar diharapkan dapat terus terjaga sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di sisa tahun 2026 ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index