Kereta Api

Harapan Baru Reaktivasi Jalur Kereta Kalisat-Bondowoso yang Telah Lama Mati

Harapan Baru Reaktivasi Jalur Kereta Kalisat-Bondowoso yang Telah Lama Mati
Harapan Baru Reaktivasi Jalur Kereta Kalisat-Bondowoso yang Telah Lama Mati

JAKARTA - Setelah lebih dari dua dekade tertidur lelap, wacana menghidupkan kembali jalur kereta api di ujung timur Pulau Jawa mulai menemui titik terang. Merespons tingginya antusiasme masyarakat di wilayah Jember dan Bondowoso terhadap transportasi berbasis rel, Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya mengambil langkah konkret untuk memetakan masa depan jalur nonaktif tersebut. Langkah awal ini diwujudkan melalui penyelesaian Survei Identifikasi Desain (SID) yang rampung pada Selasa.

Kegiatan pemetaan yang berlangsung intensif selama satu pekan ini menjadi "napas" awal bagi rencana besar pemerintah. Tujuannya adalah memotret secara akurat kondisi terkini jalur legendaris yang membentang dari Kalisat hingga Panarukan tersebut, demi memastikan setiap tahap perencanaan berjalan di atas landasan data yang valid.

Memetakan Trase Legendaris Lewat Teknologi Modern

Jalur yang dibangun oleh Staatsspoorwegen pada tahun 1897 ini memang menyimpan nilai sejarah tinggi, namun kondisi fisiknya kini telah banyak berubah. Survei yang dilakukan mencakup identifikasi mendalam pada trase rel, struktur jembatan, bangunan stasiun, hingga penggunaan lahan. Tim di lapangan tidak hanya mengandalkan observasi manual, tetapi juga memanfaatkan teknologi modern untuk akurasi data.

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan, menjelaskan bahwa pengambilan gambar dan plotting menggunakan GPS dilakukan agar seluruh kondisi jalur dapat terpetakan secara akurat. Data teknis yang dikumpulkan, mulai dari panjang jalur hingga titik-titik kerusakan, akan menjadi referensi utama untuk menentukan apakah jalur ini benar-benar siap dibangun kembali.

Tantangan Struktur dan Alih Fungsi Lahan

Menghidupkan kembali jalur yang sudah berhenti beroperasi sejak tahun 2004 ini tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dari hasil identifikasi awal, tantangan terbesar terletak pada perubahan fungsi aset di lapangan. Beberapa bangunan stasiun yang dulu menjadi pusat keramaian kini telah beralih fungsi untuk kegiatan lain.

Aspek infrastruktur jembatan juga menjadi perhatian serius dalam survei ini. "Beberapa jembatan meskipun masih terlihat baik, tetap perlu dianalisis kembali kekuatan strukturnya—apakah masih layak digunakan, perlu penggantian, atau bahkan dibangun ulang apabila mengalami kerusakan berat," jelas Denny. Keandalan struktur lama menjadi kunci utama keselamatan jika nantinya rangkaian kereta api modern kembali melintas di jalur ini.

Sinergi Sosial dan Sterilisasi Jalur

Selain kendala teknis, tantangan sosial juga mulai terpetakan. Meski trase rel masih relatif mudah dikenali secara fisik, realita di lapangan menunjukkan bahwa jalur tersebut kini tidak lagi steril. Sejumlah titik rel telah berada sangat dekat dengan permukiman warga, bahkan beberapa jembatan kereta api saat ini telah dimanfaatkan masyarakat sebagai jalur penyeberangan harian.

Kondisi ini menuntut adanya koordinasi lintas sektor yang erat antara pihak perkeretaapian dengan para pemangku kepentingan setempat. Denny Michels Adlan menekankan bahwa selain upaya penertiban lahan, pemerintah juga harus memikirkan solusi bagi warga sekitar. "Selain penertiban, perlu pula disiapkan akses jalan alternatif bagi warga," tambahnya. Langkah ini penting agar proses reaktivasi tidak hanya menguntungkan mobilitas makro, tetapi juga tetap memperhatikan kebutuhan harian masyarakat lokal yang sudah terbiasa beraktivitas di sekitar jalur tersebut.

Mengenang Kejayaan Jalur Kalisat-Panarukan

Sekadar informasi historis, segmen lintas Surabaya Kota–Kalisat–Bondowoso–Panarukan adalah warisan berharga dari era Hindia Belanda yang dulu menjadi urat nadi pengangkutan komoditas dan penumpang di wilayah timur. Setelah masa jayanya berakhir di tahun 2004, kini harapan agar peluit kereta kembali melengking di Bondowoso menjadi mimpi kolektif yang sedang diupayakan realisasinya melalui perencanaan yang matang dan detail.

SID ini hanyalah langkah pembuka. Hasil survei ini akan menjadi landasan awal bagi pelaksanaan survei lanjutan yang lebih komprehensif pada tahap perencanaan berikutnya. Jika semua kendala teknis dan sosial dapat teratasi, reaktivasi jalur Kalisat–Bondowoso bukan tidak mungkin akan menjadi katalisator baru bagi pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Jawa Timur.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index