Atasi Trauma Bencana, Kemenkes Kirim 160 Nakes Tambahan ke NTT

Selasa, 08 September 2026 | 11:10:32 WIB
Relawan dari Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan memeriksa warga Ende yang terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). [Foto: ANTARA/HO - Kemenkes]

JAKARTA – Kementerian Kesehatan menerjunkan 160 Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) ke Nusa Tenggara Timur demi memperkuat pelayanan psikososial serta kesehatan mental warga di lokasi terdampak gempa.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Sumarjaya menyampaikan di Jakarta, Selasa (8/9/2026), bahwa 160 tenaga kesehatan TCK Batch 2 diberangkatkan melalui Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. 

Mereka bakal disebar di empat wilayah, yaitu Kabupaten Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.

Ia memaparkan, pengerahan TCK Batch 2 ini merupakan kelanjutan dukungan Kemenkes usai tahap pertama. Sebelumnya, sebanyak 206 tenaga kesehatan telah dikirim untuk menunjang pelayanan kesehatan bagi warga terdampak gempa di NTT.

Pada misi tahap kedua, para tenaga kesehatan akan memberi pelayanan di fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit lapangan. 

Saat ini berdiri dua rumah sakit lapangan yang ikut menopang layanan kesehatan masyarakat terdampak, yakni di Ruteng dan Ngada.

Di samping penanganan medis, TCK turut menyalurkan dukungan psikososial, terutama buat anak-anak serta masyarakat yang mengalami trauma imbas bencana.

Sumarjaya menerangkan dampak bencana tak sekadar memicu masalah fisik, seperti patah tulang dan luka-luka, melainkan sanggup mengganggu kondisi psikologis warga lantaran kehilangan harta benda maupun trauma menghadapi bencana.

“Untuk saat ini, itu adalah lebih kepada psikososial, bagaimana memberikan edukasi, komunikasi kepada masyarakat terdampak,” kata Sumarjaya.

Dalam praktiknya, masa tugas TCK mengacu pada standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni selama 14 hari sebelum dilakukan pergantian personel. 

Penempatan tenaga kesehatan pun disesuaikan dengan periode tanggap darurat yang ditetapkan Pemerintah Provinsi NTT hingga 12 September 2026 dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan.

Selain menyokong layanan psikososial, lanjutnya, TCK turut mendampingi perawatan pasien pascaoperasi. Sebelumnya, Kemenkes telah menerjunkan dokter spesialis, termasuk spesialis ortopedi dan bedah, guna menangani pasien yang memerlukan tindakan operasi.

“Tim kami surveillance juga kami turunkan untuk melihat, mengidentifikasi penyakit-penyakit apa yang terjadi di sana supaya tidak terjadi potensi KLB dan wabah,” tandas Sumarjaya.

Kemenkes terus memastikan dukungan pelayanan kesehatan untuk masyarakat terdampak gempa di NTT tetap bergulir, baik menerusi penguatan tenaga kesehatan maupun sokongan pemulihan kesehatan fisik dan psikologis warga.

Dokter umum TCK dr Shaldy Syifa Azzahri menuturkan persiapan sebelum bertugas dilakukan dengan membawa perlengkapan serta bahan kesehatan yang dibutuhkan demi menyokong pemulihan warga. 

Selain kesiapan perbekalan, tenaga kesehatan mesti memastikan kondisi fisik dan mental sebelum terjun ke lapangan.

“Sebagai seorang dokter, kami menyiapkan beberapa alat-alat dan juga bahan yang bisa kami bantu untuk memperbaiki dan juga memulihkan kesehatan masyarakat. Dan pastinya juga sebagai seorang dokter umum, kami juga pastinya bisa mempersiapkan mentalitas kami sendiri dan juga kesehatan kami sendiri sebelum kami membantu orang lain,” kata Shaldy.

Ia menilai penanganan pascagempa tidak cuma berfokus pada pemulihan fisik. Usai beberapa pekan berlalu dari kejadian bencana, dukungan pada kondisi psikologis masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

Sementara itu, dr Rayhendra Hanif, dokter umum TCK asal Padang, menyebutkan dirinya mempersiapkan kondisi mental dan kebutuhan pribadi, termasuk pasokan obat-obatan yang diperlukan selama masa penugasan.

Rayhendra juga tergerak bergabung menjadi TCK lantaran memiliki pengalaman menghadapi musibah gempa. 

Ia pernah merasakan gempa di Padang pada 2009 saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Pengalaman itu membuatnya tersentuh untuk berkontribusi bagi warga yang menghadapi situasi serupa.

“Saya dulu dari Padang tahun 2009 itu juga sudah pernah gempa. Jadi hati saya juga tergerak untuk pergi ke NTT karena kondisinya mirip, sama-sama gempa,” katanya.

Terkini