Kebiasaan Orang Tua yang Buat Remaja Tertutup Menurut Psikolog

Senin, 07 September 2026 | 00:35:31 WIB
Ilustrasi remaja dan orangtua [FOTO: NET].

JAKARTA - Memasuki fase usia remaja, anak mulai memerlukan ruang pribadi yang lebih lapang guna mengenali identitas diri sekaligus membangun kemandirian. Perubahan dinamika ini acap kali memicu dorongan pada diri orang tua untuk menggali lebih banyak informasi mengenai agenda harian, pergaulan, sampai permasalahan yang sedang dihadapi buah hati.

Hasrat tersebut kadang diwujudkan melalui tindakan menggeledah barang pribadi, membaca catatan harian, atau mengintip isi ponsel anak tanpa meminta izin. Namun, psikolog anak Dr. Francheska Perepletchikova, PhD, justru mengingatkan para orang tua agar senantiasa berhati-hati terhadap kebiasaan tersebut.

Kebiasaan yang Bisa Membuat Remaja Makin Tertutup

Menurut penilaian Perepletchikova, masa remaja merupakan fase perkembangan yang krusial sekaligus rentan bagi anak.

“Bayangkan masa remaja Anda: periode yang sangat penting sekaligus sensitif untuk penemuan diri, individualitas, dan pengembangan pemikiran kritis,” paparnya.

Ia berpandangan bahwa kebutuhan remaja akan ruang pribadi tidak sepantasnya dinilai sebagai bentuk tindakan yang mengganggu orang tua.

“Privasi sangat penting untuk kesejahteraan psikologis karena meningkatkan rasa kendali kami atas lingkungan sekitar,” tambahnya.

Privasi juga, sambungnya, sanggup memantik eksplorasi kreatif sekaligus mendampingi remaja dalam mengasah kemampuan mengontrol serta merefleksikan diri.

Tatkala batasan privasi tersebut dilanggar, dampaknya tidak sekadar membuat anak merasa tidak nyaman.

“Kurangnya kepercayaan, keamanan, rasa hormat, pemahaman, dan dukungan yang dihasilkan dapat menyebabkan perkembangan disfungsi klinis,” kata Perepletchikova.

Pada era digital, problematika ini kerap mencuat sewaktu orang tua memantau lalu lintas media sosial atau memasang aplikasi pengawas di gawai anak.

“Ponsel dipandang sebagai perangkat yang sangat pribadi yang menjamin tingkat keterasingan dan privasi dalam penggunaannya,” jelasnya.

Bukan Berarti Orangtua Tak Boleh Mengawasi

Meskipun demikian, Perepletchikova tidak menempatkan isu privasi sebagai hal yang mutlak saat faktor keselamatan remaja berada dalam ancaman.

Menurutnya, tindakan pengawasan ketat dapat dipertimbangkan apabila mengantongi bukti sahih atau kecurigaan kuat bahwa keselamatan serta kesejahteraan anak sedang terancam.

“Jika remaja Anda menunjukkan tanda-tanda berada dalam hubungan yang penuh kekerasan,” ungkapnya.

Ia turut mencontohkan dugaan tindakan manipulasi dari kenalan di dunia maya, perilaku menyakiti diri sendiri, penyalahgunaan narkotika, keterlibatan aksi kriminal, hingga rencana mendatangi lokasi berbahaya sebagai alasan pembenar lainnya.

Namun, orang tua wajib mengontrol respons situasi tersebut agar ikhtiar perlindungan tidak berubah menjadi tindakan berlebihan.

“Jangan bereaksi berlebihan dengan menerobos masuk ke kamar mereka untuk mencari bukti,” lanjutnya.

Sebaliknya, orang tua dianjurkan memaparkan titik kekhawatiran kepada anak serta memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan klarifikasi.

“Jelaskan dengan jelas aturan yang telah ditetapkan dan konsekuensinya,” kata Perepletchikova.

3 Cara Membangun Hubungan yang Terbuka dengan Remaja

1. Hormati privasi anak Perepletchikova menyarankan orang tua untuk tidak membaca buku harian, membuka surat pribadi, atau memanfaatkan ponsel yang tidak terkunci sebagai celah untuk mengintip.

“Semakin Anda menghormati privasi dan barang-barang mereka, semakin sehat hubungan Anda dengan remaja Anda,” ucapnya.

Orang tua cukup menggali informasi dasar terkait aspek keselamatan, misalnya dengan siapa anak bepergian, ke mana lokasinya, dan berapa durasinya.

“Serangkaian pertanyaan yang mengorek-ngorek melampaui pengumpulan data untuk keselamatan mereka dan masuk ke wilayah interogasi yang hanya akan membuat mereka semakin menjauh,” terangnya.

2. Bangun komunikasi yang terbuka Perepletchikova memaparkan bahwa orang tua perlu mencerminkan perilaku positif yang ingin dilihat dari anak lantaran otoritas orang tua terbentuk melalui contoh nyata.

“Otoritas ini didasarkan pada tindakan, bukan hanya kata-kata,” tuturnya.

Ketika remaja membicarakan isu sensitif, orang tua diimbau tidak langsung memotong pembicaraan atau membuat anak merasa bersalah.

“Menghindari diskusi terbuka dan tanpa malu-malu tentang hal-hal sensitif tidak akan menghentikan remaja untuk ingin terlibat dengannya,” katanya.

Sikap tertutup justru mendorong anak mencari figur lain di luar rumah untuk mendiskusikan persoalan yang tabu dibahas bersama keluarga.

“Ungkapkan kesediaan Anda untuk berbicara ketika mereka membutuhkannya,” tambah Perepletchikova.

3. Tetapkan aturan yang jelas dan konsisten Sikap terbuka tetap membutuhkan batasan yang dipahami secara bersama oleh orang tua dan anak.

“Pengambilan risiko dan eksperimen adalah hal yang wajar, tetapi tidak selalu dapat diterima,” ujarnya.

Oleh sebab itu, rumusan aturan sebaiknya menerangkan perilaku yang diperbolehkan, konsekuensi atas pelanggaran, latar belakang penyusunan aturan, serta pertimbangan keadilan dari konsekuensi tersebut. Penerapannya pun mesti dijalankan secara konsisten agar konsekuensi tidak dipandang sebagai bentuk hukuman mendadak.

“Ketika konsekuensi tidak diterapkan secara konsisten untuk pelanggaran aturan sebagaimana yang telah disepakati, perilaku berbahaya tersebut tidak akan dicegah,” pungkasnya.

Terkini