JAKARTA — Kolaborasi sektor energi antara Indonesia dan Rusia berpotensi semakin diperkuat melalui eksplorasi sejumlah area potensial, termasuk pada sektor hulu minyak dan gas bumi (migas).
Salah satu proyek yang menarik perhatian luas adalah Wilayah Kerja (WK) Tuna yang terletak di kawasan lepas pantai Natuna Timur.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan bahwa peluang penanaman modal bersama mitra asal Rusia terus mencatat kemajuan signifikan.
Langkah strategis ini selaras dengan kebijakan pemerintah yang membuka akses ke berbagai kawasan potensial guna memperkokoh ketahanan energi nasional.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan bahwa area potensial yang disodorkan kepada investor dari negara tersebut tidak hanya terbatas pada lini hulu migas. Pemerintah turut membuka peluang kolaborasi di bidang energi primer lainnya, meliputi pertambangan mineral dan batubara serta pengembangan panas bumi.
"Ada juga Wilayah Kerja (WK) Minerba dan Geothermal," ujar Djoko, Minggu (6/9/2026).
Di ranah hulu migas, WK Tuna dipandang sebagai salah satu proyek berprospek cerah untuk digarap bersama pihak Rusia lantaran lokasinya yang strategis di lepas pantai Natuna Timur.
Proyek WK Tuna direncanakan bakal dikelola dengan komposisi kepemilikan saham yang berimbang. Porsi kepemilikan nasional Indonesia mencapai 50%, sementara separuh bagian sisanya dipegang oleh korporasi migas asal Rusia, yakni Zarubezhneft (ZN).
Perusahaan pelat merah asal Rusia tersebut dikenal memiliki fokus mendalam pada aktivitas eksplorasi, pengembangan, serta pengelolaan lapangan migas di berbagai belahan dunia.
Djoko mengemukakan bahwa proyek WK Tuna ditargetkan mencapai tahap Final Investment Decision (FID) pada tahun depan sebelum resmi berproduksi atau onstream menjelang 2029.
"Mohon doa, Insya Allah Final Investment Decision (FID) tahun depan, gas 135 mmscfd, minyak 20.000 BOPD, onstream 2029. WK Tuna 50% Nasional Indonesia, 50% Rusia (ZN/Zarubezhneft)," ungkapnya.
Berbekal target tersebut, WK Tuna diharapkan mampu menyuplai tambahan gas sebesar 135 juta standar kaki kubik per hari beserta produksi minyak mentah sekitar 20.000 barel per hari.
Kendati demikian, realisasi proyek skala besar ini menuntut dukungan pendanaan yang masif. Djoko memaparkan bahwa total kebutuhan anggaran investasi untuk WK Tuna diestimasikan menyentuh angka US$ 3,3 miliar dengan tingkat keekonomian yang menjanjikan berupa Internal Rate of Return (IRR) sebesar 29,6%.
"(Total investasi) US$ 3,3 miliar, IRR 29,6%," pungkasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi telah menawarkan total 138 blok eksplorasi migas kepada sejumlah korporasi asal Rusia.
Tawaran tersebut disampaikan secara langsung oleh Presiden Prabowo Subianto tatkala menghadiri ajang Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 yang berlangsung di Vladivostok, Rusia, pada Kamis (3/9/2026).
Kebijakan ini merepresentasikan komitmen pemerintah dalam menjaring mitra strategis yang memiliki keunggulan teknologi dan finansial guna memajukan industri energi domestik.
Selain membuka pintu bagi pengelolaan 138 blok migas, pemerintah turut membuka peluang kerja sama pembangunan infrastruktur penunjang seperti kilang minyak dan terminal penyimpanan energi.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia sangat terbuka terhadap investasi perusahaan Rusia yang membawa teknologi mutakhir untuk mengoptimalkan potensi blok-blok migas tersebut.
"Kami telah memberikan informasi kepada Rusia bahwa Indonesia telah membuka 138 blok eksplorasi untuk energi, dan kami mengundang mitra Rusia, perusahaan-perusahaan Rusia dengan teknologi mereka dalam 138 blok eksplorasi," ujar Prabowo.