Atasi Jerawat dan Kebotakan Tanpa Rasa Sakit Lewat Terapi PBM

Minggu, 06 September 2026 | 21:32:32 WIB
Ilustrasi jerawat [FOTO: NET].

JAKARTA - Sesi perawatan kulit wajah yang melibatkan tindakan medis agresif semisal pemanfaatan sinar laser umumnya cenderung dihindari oleh sebagian besar orang lantaran dinilai menyimpan risiko memicu rasa sakit serta menuntut masa waktu pemulihan yang tergolong cukup panjang. 

Sebagai alternatif metode penanganan yang jauh lebih nyaman, pemanfaatan teknologi terapi cahaya berintensitas rendah atau yang populer dengan sebutan photobiomodulation (PBM) kini hadir sebagai solusi minim risiko guna mengatasi pelbagai problem kompleks kesehatan kulit yang patut untuk dipertimbangkan.

Pendekatan metode perawatan medis yang bersifat non-invasif ini terbukti secara klinis mampu mereparasi fungsi jaringan struktur kulit secara langsung dari tingkat basis seluler, sehingga proses penyembuhan maupun regenerasi sel berjalan secara alami dari lapisan dalam tubuh.

"Level of evidence-nya sangat baik untuk PBM ini," jelas Anggota Celluma Indonesia Clinical Advisory Board sekaligus Founder Klinik Utama SkinNaire, dr. Feilicia Henrica Sp.DVE, FINSDV, dalam Media Gathering Celluma di Aruna International Summit 2026 bertajuk "Healthy Skin Rewritten at the Cellular Level" di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

"Jadi ini untuk keadaan-keadaan seperti setelah cancer therapy, wound healing, alopecia, sampai acne," lanjut dr. Feilicia.

Kondisi jerawat meradang menempati urutan daftar keluhan klinis yang paling sering dijumpai di pelbagai klinik estetika kecantikan.

Prosedur penanganan keluhan kulit menggunakan teknologi PBM terbukti ampuh mematikan koloni bakteri pemicu jerawat secara tuntas tanpa harus mengelupas ataupun merusak struktur lapisan pelindung terluar kulit.

Di dalam implementasi praktisnya, teknologi PBM memancarkan variasi titik panjang gelombang atau spektrum spektrum warna cahaya yang telah disesuaikan secara presisi dengan target kedalaman jaringan kulit.

Khusus untuk menangani problem jerawat membandel, perawatan medis ini mengombinasikan pancaran blue light yang bertugas membasmi bakteri bersama sorotan red light yang berkhasiat menenangkan peradangan kulit.

"Kalau misalnya hanya menggunakan blue light, nanti akan timbul hiperpigmentasi pasca-inflamasi sesudahnya. Nah, kalau kami kombinasi dengan red light, si red light ini punya sifat anti-inflamasi," papar dr. Felicia.

Pendekatan metode gabungan tersebut menampilkan tingkat progres perbaikan lesi kulit yang amat signifikan, bahkan pada pasien-pasien yang menghadapi kasus jerawat parah dan kerap menolak anjuran meminum obat oral ataupun pengaplikasian krim malam topikal.

"Perbaikan lesinya itu lebih baik pada lesi inflamasi. Jadi 76 persen inflammatory lesion itu membaik," tambah dia.

Selain masalah jerawat, persoalan hiperpigmentasi kulit senantiasa menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang tinggal di wilayah beriklim tropis dengan tingkat indeks paparan radiasi sinar ultraviolet matahari yang sangat tinggi.

"Kasus yang paling sering ditemui nomor satu tuh acne atau jerawat. Nomor dua ya flek atau kelainan pigmentasi," tutur Direktur Medis Senopati Skin Center sekaligus Ketua PERDOSKI Cabang Jakarta, dr. M. Akbar Wedyadhana Sp.DVE, FINSDV, FAADV, IFAAD.

Problem noda flek hitam yang letak posisinya berada di lapisan kulit bagian dalam, seperti kasus melasma dermal, lazimnya sangat sulit dibersihkan meskipun telah diikhtiarkan memakai aneka macam produk pengobatan topikal luar.

Namun berkat adanya pancaran energi gelombang cahaya dari perangkat alat PBM, penetrasi sinar tersebut sanggup menembus jauh hingga ke lapisan kulit terbawah guna memudarkan endapan hiperpigmentasi secara bertahap tanpa melukai jaringan sehat di sekitarnya.

Terlebih lagi, metode terapi cahaya ini rupanya turut berfungsi sebagai garda terdepan langkah pencegahan protektif sebelum kulit mengalami tingkat kerusakan yang lebih parah, semisal timbulnya kemerahan akibat paparan terik sengatan matahari sewaktu seseorang beraktivitas di ruang terbuka luar ruangan.

Manfaat menakjubkan dari paparan energi cahaya ini ternyata tidak sebatas berpusat pada ranah peremajaan kulit wajah semata.

Prosedur terapi cahaya secara konsisten terbukti manjur diandalkan sebagai solusi penanganan mujarab untuk mengatasi masalah kebotakan rambut maupun kerontokan helai rambut yang sudah parah.

"Untuk kebotakan juga ya, jadi ini dominan memang pengaruh dari yang red light-nya. Di mana dia bisa membantu untuk distribusi oksigen, peredaran pembuluh darah lebih lancar," ungkap dr. Akbar.

Manakala pancaran energi red light terserap secara maksimal oleh bagian akar folikel rambut, sirkulasi aliran darah di area kulit kepala menjadi jauh lebih lancar sekaligus ternutrisi dengan baik.

"Ternyata katanya bisa memperpanjang fase anagen, kemudian membuat fase telogen itu lebih cepat masuk ke fase anagen, dan selain itu, karena punya sifat anti-inflamasi juga, dia bisa mengurangi jadi kerontokan," terang dr. Felicia.

Disamping menawarkan sederet khasiat pemulihan jaringan sel yang luar biasa, keunggulan utama dari metode perawatan terapi cahaya PBM terletak pada kenyamanan proses pengerjaannya yang dipastikan sama sekali tidak memunculkan rasa sakit bagi pasien.

"Sama sekali tidak ada rasa ya, dan juga sama sekali tidak ada bekas ya setelah dikerjakan," pungkas dr. Akbar.

Terkini

Kalahkan Janice Tjen di US Open 2026, Aldila Ngaku Bangga

Minggu, 06 September 2026 | 22:59:31 WIB

Prediksi Line Up dan Laga Juventus Vs AC Milan di Liga Italia

Minggu, 06 September 2026 | 22:49:32 WIB

Badan Geologi ESDM Ungkap Penyebab Dentuman di Bandung Raya

Minggu, 06 September 2026 | 22:46:31 WIB