Meski Yield Global Naik, Pefindo Proyeksi Emisi Obligasi Rp154 T

Minggu, 06 September 2026 | 19:16:02 WIB
Logo PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menaruh keyakinan bahwa target pencapaian penerbitan instrumen surat utang korporasi akan mampu merealisasikan target yang telah ditentukan sebelumnya, meskipun saat ini pasar surat utang di kancah global maupun domestik tengah dibayangi oleh ancaman risiko melonjaknya tingkat yield acuan.

Kepala Divisi Riset Pefindo Suhindarto, menjelaskan bahwa institusinya semula memasang proyeksi kisaran angka penerbitan surat utang berada pada rentang Rp154 hingga Rp196,66 triliun, dengan menetapkan titik tengah sebesar Rp175,77 triliun.

Kendati demikian, fenomena meroketnya yield obligasi di pasar global membuat pihak Pefindo kini hanya mematok target konservatif, di mana realisasi penerbitan obligasi korporasi diyakini bakal menyentuh batas bawah dari target tersebut.

Sampai dengan berakhirnya periode bulan Agustus 2026, pihak Pefindo mencatat bahwa akumulasi penerbitan surat utang korporasi nasional telah sukses menembus angka Rp120,18 triliun.

Dengan demikian, diperlukan adanya tambahan perolehan emisi senilai kurang lebih Rp33,82 triliun lagi agar dapat memenuhi batas bawah dari kisaran target yang telah dicanangkan.

”Pipeline juga masih mendukung. Per 31 Agustus, Pefindo memiliki mandat dari 34 perusahaan dengan rencana penerbitan sekitar Rp45,89 triliun. Jika seluruhnya terealisasi pada tahun ini, penerbitan secara matematis dapat mencapai sekitar Rp166 triliun atau rentang proyeksi kami,” kata Suhindarto, dikutip Minggu (6/9/2026).

Di samping menyoroti aspek tersebut, pihak Pefindo turut memantau total keseluruhan volume surat utang yang akan jatuh tempo sepanjang kuartal IV/2026 yang diperkirakan bakal mencapai angka Rp43,56 triliun.

Besarnya nominal tersebut memicu prediksi bahwa aksi penarikan pendanaan kembali (refinancing) atas surat utang yang jatuh tempo akan mendominasi pasar.

Namun demikian, Suhindarto memberikan catatan bahwa apabila tren suku bunga dan yield tinggi ini berlangsung dalam jangka waktu yang relatif panjang, aktivitas penerbitan surat utang korporasi berpotensi menjadi lebih terkonsentrasi secara eksklusif hanya pada perusahaan-perusahaan berperingkat kredit tinggi serta memiliki urgensi kebutuhan refinancing yang mendesak.

Berdasarkan rekaman data historis sepanjang kurun waktu Januari hingga Juli 2026, terungkap fakta bahwa hampir keseluruhan aksi penerbitan surat utang korporasi didominasi oleh korporasi dengan perolehan kategori peringkat (rating) dari level A hingga AAA.

Sementara itu, porsi penerbitan surat utang yang berasal dari kelompok korporasi berperingkat BBB tercatat hanya berkisar di angka Rp100 miliar saja.

”Jadi, kami masih mempertahankan proyeksi, tetapi peluang realisasi saat ini lebih condong ke bagian bawah hingga tengah rentang,” tegasnya.

Sebelumnya, sejumlah instrumen imbal hasil surat utang penting di berbagai negara utama dunia tercatat mengalami lonjakan kenaikan yang amat masif.

Berdasarkan paparan data dari laman Trading Economics, tingkat yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) bertenor 10 tahun terpantau sudah parkir di level 4,78%, yang mana posisi tersebut kian mendekati rekor level tertinggi sejak tahun 2016 silam di angka 4,92%.

Bahkan, pergerakan tingkat yield AS tersebut dilaporkan telah melampaui kondisi riil yang terjadi pada saat krisis finansial global tahun 2008 silam melanda Negeri Paman Sam.

Situasi serupa turut menjangkiti instrumen surat utang 10 tahun milik pemerintah Jepang yang kini mencatatkan angka yield di level 2,90%, mendekati kisaran level terendah dalam kurun waktu satu dekade terakhir.

Kondisi senada juga dialami oleh instrumen obligasi pemerintah Inggris bertenor 10 tahun yang saat ini bertengger pada posisi 5,14%, turut mendekati rekor level terendah sepanjang 10 tahun ke belakang.

Dinamika dan kondisi global tersebut menyimpan potensi risiko tersendiri bagi kelompok negara-negara berkembang (emerging markets), sebab mereka dipaksa untuk melakukan penyesuaian tingkat yield agar tetap kompetitif di hadapan imbal hasil negara-negara maju yang memiliki profil risiko rendah.

Hal tersebut berkaitan erat dengan tingkat daya tarik instrumen Surat Berharga Negara (SBN) Republik Indonesia di mata para investor institusional.

Lonjakan tingkat imbal hasil SBN RI yang terimbas oleh tekanan sentimen global ini, pada gilirannya akan bermuara pada beban biaya pendanaan operasional yang jauh lebih mahal bagi korporasi manapun yang berencana menerbitkan instrumen surat utang baru.

Terkini

Cara Mengolah Sop Kambing Empuk Tanpa Bau Prengus ala Chef

Minggu, 06 September 2026 | 20:58:31 WIB

Dampak Erupsi Krakatau, Jadwal Radin Inten Ditunda

Minggu, 06 September 2026 | 20:55:02 WIB

Deretan Kuliner Kambing Indonesia yang Masuk Daftar TasteAtlas

Minggu, 06 September 2026 | 20:52:01 WIB