Tantangan Geografis Literasi Penjaminan Simpanan Gen Z Versi LPS

Minggu, 06 September 2026 | 18:03:02 WIB
Pegawai Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memasang pengumuman dan segel kantor PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR) [FOTO: NET].

JAKARTA - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) membeberkan pelbagai hambatan terbesar dalam upaya mengerek tingkat literasi penjaminan simpanan khusus bagi kalangan generasi muda.

Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS Farid Azhar Nasution mengemukakan bahwa kendala primer yang dihadapi menyangkut aspek geografis, yakni bagaimana menjangkau segmen generasi muda secara efektif. 

Persoalan inilah yang kemudian melatarbelakangi langkah LPS rutin menggelar program edukasi literasi finansial di berbagai wilayah daerah.

Menurut pandangannya, kendati kemudahan akses terhadap teknologi dan perangkat layanan digital kian meluas, kebiasaan generasi muda justru lebih banyak menyerap arus informasi melalui platform media sosial seperti TikTok dan Instagram.

“Nah ini makanya kami lebih sering dengan cara offline begini, kami padukan juga dengan online, mereka jadi ketemu, karena mereka mungkin tahu, tapi mereka tidak tahu lebih dalam lagi gitu,” ujarnya kepada wartawan dalam Lampung Financial Festival di Bandar Lampung, Minggu (6/9/2026).

Padahal, sambungnya, tingkat inklusi keuangan di Indonesia merujuk pada data hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2026 telah menyentuh angka sebesar 93,61%.

Capaian tersebut merefleksikan bahwa masyarakat secara umum telah terbiasa terlibat sektor perbankan melalui kepemilikan rekening tabungan. Kendati demikian, indeks tingkat pemahaman literasi terhadap sistem keuangan secara mendalam masih terpantau rendah.

Lebih lanjut, Farid menuturkan bahwa salah satu target utama dari agenda literasi finansial ini adalah menggenjot jumlah masyarakat yang belum mempunyai rekening bank, dengan target penambahan sekitar 2 juta pemilik rekening baru setiap tahunnya.

“Yang kedua, sebaliknya, orang-orang sudah punya rekening, tapi enggak aktif, kami minta supaya itu dikendalikan, karena itu bisa dipakai untuk hal-hal yang tidak baik. Nah, yang ketiga adalah peningkatan soal literasi,” jelasnya.

Lebih jauh lagi, ia turut menyerukan imbauan kepada segenap lapisan masyarakat yang masih memegang rekening berstatus dormant dan sudah dipastikan tidak lagi dimanfaatkan agar segera menutup rekening tersebut.

Sebagai catatan, agenda perhelatan Lampung Financial Festival 2026 diselenggarakan oleh pihak LPS selama kurun waktu dua hari penuh pada tanggal 5 sampai 6 September 2026.

Pelaksanaan ajang ini merupakan wujud inisiatif LPS guna mendongkrak pemahaman literasi masyarakat luas mengenai sektor keuangan serta penjaminan simpanan.

Adapun wilayah Provinsi Lampung sengaja dipilih sebagai lokasi pusat penyelenggaraan festival lantaran tingkat literasi penjaminan simpanan masyarakat setempat masih berada di bawah angka rata-rata nasional yang tercatat sebesar 62,51%. Di Lampung sendiri, tingkat literasi keuangan dan penjaminan simpanan baru berada di level 58,8%.

Terkini

BNPB Modifikasi Cuaca Atasi Abu Anak Krakatau di 3 Provinsi

Minggu, 06 September 2026 | 19:48:31 WIB

Kuorum Tidak Terpenuhi, MDLN Bakal Gelar RUPSLB Kedua

Minggu, 06 September 2026 | 19:45:02 WIB