Tren TikTok "My Favorite Person" untuk Bangkitkan Percaya Diri

Jumat, 04 September 2026 | 06:09:31 WIB
Tren TikTok "My Favorite Person". (Foto: NET)

JAKARTA - Refleksi diri umumnya dijalankan lewat sesi penulisan jurnal yang sederhana. Kendati demikian, kegiatan tersebut dapat dimaksimalkan dengan memanfaatkan cara yang cukup unik, seperti ikut serta dalam tren di media sosial. 

Saat ini, terdapat tren yang tengah viral di TikTok, yakni "My Favorite Person". Fenomena ini memang berfokus pada orang lain di dalam kehidupanmu. Kendati demikian, bukan berarti tren tersebut tidak bisa diterapkan pada diri sendiri guna membangun apresiasi serta rasa percaya diri.

Mengenal Tren "My Favorite Person"

Secara umum, tren ini mengajak orang-orang untuk membagikan video mengenai sosok yang mereka sayangi, seperti anak, pasangan, ataupun hewan peliharaan. 

"Tren ini mengundang orang untuk membagikan video tentang sosok yang mereka cintai sambil mengidentifikasi kualitas dan momen sehari-hari yang membuat sosok tersebut begitu istimewa," ujar psikoterapis Dipesh Patel, MBA, MSW, LCSW/LICSW, melansir Real Simple, Kamis (3/9/2026).

Patel menuturkan bahwa tren ini merupakan bentuk kesadaran relasional sebab seseorang membagikan berbagai hal yang biasanya tidak diutarakan dalam interaksi sehari-hari. Pendapat serupa disampaikan oleh terapis Chloë Bean, LMFT. 

Menurutnya, tren tersebut mencerminkan bentuk apresiasi yang mendalam serta penuh kelembutan kepada figur penting dalam kehidupan. 

"Ini tentang memerhatikan apa yang disukai oleh orang favoritmu, bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain dan dunia di sekitar mereka, serta apa yang membuat mereka menjadi diri mereka sendiri," jelas dia.

Bean melanjutkan, praktik rasa syukur ini dilakukan bagi orang lain yang hadir secara langsung, sehingga membentuk koneksi emosional yang kuat lantaran mereka merasa dilihat serta dihargai keunikannya.

Mengapa Perlu Diterapkan pada Diri Sendiri?

Kendati tren ini lazimnya menyoroti pihak lain, mengaplikasikannya pada diri sendiri justru menghadirkan beragam manfaat positif. 

Menurut Bean, metode ini membantumu menghargai diri sendiri atas siapa dirimu, bukan sekadar apa yang kamu lakukan. Kamu dapat menjadi orang favorit bagi dirimu sendiri, sehingga welas asih meningkat dan suara kritik dalam diri perlahan-lahan mereda.

Ketika menjalankan tren ini, otakmu dilatih guna memikirkan hal-hal baru. Daripada merenungkan hal negatif, kamu mulai mengamati diri secara berbeda, yang sekaligus membantu menurunkan hormon stres karena tubuh merasa jauh lebih aman. 

Pemahaman diri yang semakin mendalam ini menjadi fondasi krusial dalam menumbuhkan rasa percaya diri yang kokoh.

Tips Memulai Tren untuk Apresiasi Diri

Bagi sebagian orang, memulai tren guna mengapresiasi diri ini mungkin terasa menantang, terlebih jika sudah terbiasa berfokus pada orang lain atau memiliki kritik batin yang tajam. 

Untuk mencobanya, kamu bisa mulai menjawab beberapa pertanyaan penuntun yang ramah diri, misalnya bagaimana caramu menunjukkan kepedulian kepada orang lain. 

Kemudian, hal apa saja yang berjalan baik minggu ini, apa yang membuatmu tertawa, serta apa yang membuatmu terhubung dengan sisi ceria. Selanjutnya adalah bagaimana caramu memperlakukan orang asing, dan nilai-nilai apa yang kamu pegang teguh dalam hidup.

Bean menyarankan agar kamu mencatat berbagai kualitas diri dari sudut pandang rasa penasaran alih-alih penghakiman. Langkah praktisnya dapat dimulai dari skala kecil. 

"Pilih satu hal setiap hari untuk diperhatikan tentang dirimu, bisa berupa sesuatu yang kamu syukuri atau hal yang berjalan dengan baik," ujar dia.

Di samping itu, cobalah bersikap spesifik ketika menyadari momen atau sifat yang positif. 

Misalnya dengan berpikir "Saya mendengarkan keluh kesah teman dan menanyakan apa yang dia butuhkan", bukannya "Saya adalah orang yang baik".

Kemudian, apresiasi dirimu saat pikiran sedang tenang, serta sadari bahwa penolakan dari dalam diri kemungkinan besar akan muncul. Suara kritik di kepala mungkin akan menyebut bahwa mengikuti tren ini terasa konyol. 

Meskipun demikian, hal tersebut wajar sebagai bentuk pola pikir lama yang sedang diubah lewat latihan kesadaran secara berkala.

Terkini

Dilepas Madrid Lewat Telepon, Ceballos Tantang Mantan

Jumat, 04 September 2026 | 06:20:02 WIB

Skenario Lolos Timnas U20 ke Piala Asia 2027

Jumat, 04 September 2026 | 06:18:32 WIB

Bocoran iPhone 18: Harga, Kamera, hingga Layar Lipat

Jumat, 04 September 2026 | 06:17:01 WIB

WBO Desak Sheeraz dan Zhanibek Segera Capai Kesepakatan Duel

Jumat, 04 September 2026 | 06:14:02 WIB