Prabowo di Rusia: Pembangunan Harus Terasa di Meja Makan

Jumat, 04 September 2026 | 00:01:01 WIB
Presiden Prabowo Subianto. (Foto: NET)

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh sekadar menghasilkan keuntungan bagi segelintir kalangan saja. Menurutnya, ukuran keberhasilan suatu pembangunan harus dilihat dari seberapa nyata manfaatnya bagi kehidupan masyarakat sehari-hari.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Prabowo ketika menyampaikan pidato kuncinya sebagai Tamu Kehormatan Utama di ajang Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 yang bertempat di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Rusia, pada Kamis (3/9/2026). 

Dalam kesempatan itu, Prabowo menyatakan bahwa tolak ukur keberhasilan pembangunan wajib berawal dari pemenuhan kebutuhan keluarga biasa.

“Pembangunan tidak boleh hanya memberikan manfaat kepada segelintir orang. Pembangunan harus diukur dari meja makan keluarga-keluarga biasa,” kata Prabowo.

Selanjutnya, ia merinci berbagai indikator yang dinilai dapat mencerminkan keberhasilan pembangunan, mulai dari pemenuhan gizi anak, kemudahan akses petani terhadap pupuk, kewajaran harga hasil panen, ketersediaan tempat tinggal layak huni, terbukanya kesempatan kerja yang produktif bagi kaum muda, hingga akses aliran listrik bagi warga di setiap pelosok desa.

Prabowo mengemukakan bahwa pandangan tersebut menjadi fondasi dari beragam kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia. 

“Inilah alasan Indonesia menyediakan makanan bergizi gratis bagi seluruh anak-anak kami dan para ibu mereka yang sedang hamil,” ujarnya dengan mengubah kata ganti sesuai instruksi.

Selain itu, ia turut menggarisbawahi pentingnya program swasembada pangan serta ketahanan energi demi memperkokoh fondasi perekonomian negara. Di mata Prabowo, Indonesia harus sanggup mencukupi kebutuhan vital rakyat sekaligus mendongkrak ketahanan nasional.

Di samping itu, pihak pemerintah terus menggenjot hilirisasi industri. Prabowo berpandangan bahwa pengelolaan sumber daya alam tidak boleh berhenti sebatas perolehan devisa dari ekspor bahan mentah saja. 

Kekayaan alam nusantara mesti diproses menjadi produk industri guna melahirkan keahlian serta keterserapan lapangan kerja bermutu di dalam negeri.

“Inilah alasan kami mempercepat hilirisasi industri agar sumber daya alam kami dapat menciptakan industri, keterampilan, dan lapangan kerja yang baik di dalam negeri,” katanya.

Lebih lanjut, Prabowo memastikan bahwa target ekspansi ekonomi Indonesia tidak berorientasi pada pengejaran angka semata. Pertumbuhan tersebut, menurut pandangannya, mesti difungsikan sebagai instrumen guna mendongkrak kesejahteraan rakyat sekaligus menekan angka kemiskinan.

“Inilah alasan kami menginginkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat—bukan pertumbuhan hanya demi pertumbuhan itu sendiri, melainkan pertumbuhan yang dapat mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan menuju kehidupan yang bermartabat,” tutur Prabowo.

Menutup pidatonya di hadapan para delegasi forum ekonomi global tersebut, Prabowo menghubungkan tantangan pembangunan nasional dengan persoalan mendasar yang menjadi sorotan utama bagi kawasan Timur Jauh serta wilayah-wilayah kaya sumber daya alam.

“Bagaimana kekayaan besar suatu kawasan dapat diterjemahkan menjadi kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat yang tinggal di sana?” ujar Prabowo.

Terkini

Purbaya Pastikan Tak Ada Tax Amnesty 2027

Jumat, 04 September 2026 | 01:22:31 WIB

Prabowo Serukan Kerja Sama RI-Rusia di EEF 2026

Jumat, 04 September 2026 | 01:13:02 WIB