LITERASIKEUANGAN.COM — "Tax collection kita sampai dengan akhir Juli tahun ini tumbuhnya hampir 30% dibanding tahun lalu. Tahun lalu itu tumbuhnya negatif. Jadi penerimaan kita kuat, nggak lemah. Ruang fiskal juga masih terbuka lebar, cukup kuat," ujar Purbaya dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis kemarin.
Menurutnya, capaian ini murni berasal dari perbaikan internal. "Saya cukup perbaiki saja kinerja orang-orang pajak kita," tegas pria yang juga menjabat Kepala Badan Kebijakan Fiskal ini.
Pegawai Berprestasi ke Kantor Besar, yang Bermasalah ke Daerah
Untuk mencapai hasil tersebut, Purbaya mengaku sering mengocok ulang susunan pejabat pajak dari tingkat eselon II, III, hingga IV. Kinerja menjadi tolok ukur utama. "Kan masyarakat sudah tahu sering bocor sana-sini. Misalnya saya periksa lah kira-kira pejabat mana yang sering mengerjakan hal-hal yang negatif, saya reorganize," paparnya.
Pegawai dengan catatan buruk dipindahkan ke daerah, sementara yang berprestasi ditempatkan di kantor-kantor pajak dengan volume pengumpulan besar. Langkah ini diambil untuk memaksimalkan penerimaan negara sekaligus membersihkan internal dari praktik nakal.
Tidak berhenti di situ, Purbaya juga memetakan pejabat yang terindikasi melanggar. Ia bahkan membuat daftar peringkat lima pegawai yang paling dicurigai bermasalah untuk ditindaklanjuti. "Untuk pajak tertentu saya ranking 5 orang terbesar siapa yang dianggap main-main, terus mungkin 3 orang saya rumahkan. Itu memberi pesan ke pegawai pajak bahwa kita serius memperbaiki kualitas pengumpulan pajak," ungkapnya.
Bea Cukai Dibuka untuk Aparat Penegak Hukum
Pembersihan internal juga diterapkan di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Selain reorganisasi struktur, Purbaya membuka akses bagi aparat penegak hukum seperti KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan untuk memproses oknum yang terindikasi melanggar secara transparan.
Menurut Purbaya, selama 10–15 tahun terakhir pegawai pajak dan bea cukai kerap merasa aman karena aparat penegak hukum tidak bisa masuk. Kebijakan barunya mengubah hal itu. "Kalau ada kesalahan masuk saja, nanti diproses sesuai dengan faktanya secara balance, secara fair," tuturnya. Beberapa oknum Bea Cukai yang dicurigai, kata dia, kini telah ditangkap KPK.
Serangkaian langkah ini diyakini Purbaya mampu menutup kebocoran anggaran dan menciptakan efek jera. Perombakan bukan sekadar rotasi biasa, melainkan pesan tegas bahwa pemerintah serius memperbaiki kualitas pengumpulan pajak dari dalam.
Dengan penerimaan negara yang menguat di atas perkiraan awal, ruang fiskal pemerintah disebutnya masih terbuka lebar untuk mendukung berbagai program pembangunan ke depan.