Rupiah Menguat 0,28% ke Rp17.713 Per Dolar AS di Tengah Konflik AS-Iran

Kamis, 03 September 2026 | 04:35:01 WIB
Nilai tukar rupiah. (Foto: NET)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (3/9/2026). 

Mata uang Garuda tersebut naik sebanyak 50 poin atau 0,28% ke level Rp17.713 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp17.763 per dolar AS. Meskipun demikian, apresiasi rupiah ini terjadi di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang semakin memanas akibat konflik antara AS dan Iran.

Rupiah Menguat di Tengah Konflik AS-Iran
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengemukakan bahwa dinamika rupiah masih dibayangi oleh eskalasi ketegangan di antara AS dan Iran. 

"Meningkatnya ketegangan tersebut memicu meningkatnya skeptisisme kami terhadap perkembangan negosiasi perdamaian," ungkapnya di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan laporan Sputnik, militer Iran melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait, Bahrain, Yordania, serta Irak sebagai bentuk balasan atas aksi serangan AS.

Sementara itu, Anadolu mewartakan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) telah mendeklarasikan serangan terhadap target-target milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di wilayah Iran sejak Selasa (1/9/2026) malam. 

Berbagai media Iran lantas memberitakan adanya suara ledakan di sejumlah daerah, seperti Pulau Qeshm, Bandar Abbas, Sirik, Chabahar, hingga Konarak.

Harga Minyak Jadi Sentimen Rupiah
Memanasnya situasi di Timur Tengah turut memberikan implikasi langsung terhadap pasar komoditas global, khususnya sektor perminyakan. Lonjakan ketidakpastian ini berimbas pada menaiknya harga minyak mentah dunia. 

"Ketidakpastian yang lebih tinggi di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak," ucap Josua.

Peningkatan harga minyak tersebut menjadi salah satu elemen penting yang wajib dicermati pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi sentimen terhadap pergerakan rupiah serta stabilitas perekonomian domestik.

Menghadapi berbagai dinamika tersebut, Josua memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp17.700 hingga Rp17.825 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan. 

Dengan begitu, penguatan nilai tukar rupiah pada awal sesi Kamis tetap terjadi meskipun pasar masih dibayangi tekanan risiko geopolitik global. Para investor pun terus memantau perkembangan konflik AS-Iran beserta implikasinya terhadap tren harga minyak dan pasar keuangan dunia.

Terkini