Menguat ke Rp17.679, Rupiah Ditopang Ekonomi Solid dan BI

Kamis, 03 September 2026 | 00:53:31 WIB
Nilai tukar rupiah. (Foto: NET)

JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup menguat sebanyak 84 poin ke level Rp17.679 per dolar AS pada perdagangan Kamis (3/9/2026). Pergerakan rupiah bahkan sempat mencatatkan penguatan hingga 105 poin dalam perdagangan intraday hari ini. 

Sentimen rupiah kini berangsur membaik setelah pada perdagangan Rabu (2/9/2026) ditutup melemah 0,11% atau 19 poin ke level Rp17.763 per dolar AS.

Katalis yang mendorong penguatan rupiah ini didukung oleh kondisi perekonomian domestik yang terbilang solid serta komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar. 

Berdasarkan laporan Trading Economics, para pelaku pasar keuangan saat ini tengah mencermati arah kebijakan yang akan diambil oleh Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti. 

Pasca-dilantik pada Rabu (2/9), pengganti Perry Warjiyo tersebut menunjukkan komitmennya untuk menerapkan kebijakan yang responsif guna menyeimbangkan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

"Destry menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2027 menjadi 5,2%–6%, di mana batas atas kisaran tersebut mencerminkan laju pertumbuhan tercepat sejak 2012," tulis laporan tersebut, Kamis (3/9/2026).

Selain itu, katalis positif bagi rupiah juga ditopang oleh data kinerja perdagangan nasional. Neraca perdagangan Indonesia tercatat mengalami surplus pada bulan Juli 2026 sebesar US$0,12 miliar. Nilai ekspor pada bulan tersebut mencapai US$26,22 miliar, sementara nilai impor tercatat sebesar US$26,09 miliar.

"Namun, laju penguatan tertahan oleh sikap hati-hati pasar menjelang rilis data cadangan devisa dan keyakinan konsumen pekan depan. Sementara itu, tekanan inflasi juga meningkat," tulis laporan tersebut.

Adapun tingkat inflasi umum secara bulanan pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,21%, mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan deflasi 0,14% pada Juli 2026. Secara tahunan, inflasi umum pada Agustus 2026 mencapai 3,19%, yang juga naik dibandingkan angka inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,88%.

Sementara itu, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa para pelaku pasar keuangan turut mencermati arah kebijakan dari Bank Sentral Amerika Serikat. 

Saat ini, para pelaku pasar semakin meningkatkan spekulasi bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunganya paling cepat pada pertemuan bulan September, khususnya setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengambil sikap yang jauh lebih tegas terhadap laju inflasi dalam Simposium Jackson Hole pada pekan lalu.

Berdasarkan data dari perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga dalam pertemuan tanggal 15-16 September saat ini berada di kisaran 64%, melonjak dari angka 36% pada pekan sebelumnya.

Menanggapi hal tersebut, Ibrahim memprakirakan bahwa rupiah masih berpeluang melanjutkan tren positifnya pada perdagangan Jumat (4/9/2026). 

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.630 hingga Rp17.680 per dolar AS," kata Ibrahim.

Terkini