Kemen PU Rehabilitasi Gereja dan Masjid Terdampak Gempa Flores

Kamis, 03 September 2026 | 20:59:03 WIB
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melakukan penanganan terhadap rumah ibadah terdampak gempa di Flores, Nusa Tenggara Timu [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melaksanakan langkah penanganan terhadap beberapa rumah ibadah yang mengalami kerusakan akibat guncangan gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Kalau bangunan kami kerjakan ulang, di manapun kearifan lokal harus dijaga. Jadi, harus koordinasi dengan yang menggunakan atau mengelola bangunan tersebut," kata Menteri PU Dody Hanggodo, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Pihak Kementerian PU menindaklanjuti hasil evaluasi kondisi fisik gedung rumah ibadah Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus yang terletak di Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, serta Masjid Nurul Huda Reo di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Proses perbaikan dijalankan berpatokan pada skala kerusakan tiap-tiap bangunan, dengan tetap memprioritaskan aspek keselamatan, kebutuhan para penggunanya, dan kearifan lokal warga setempat.

Metode penanganan tersebut merupakan realisasi dari instruksi Dody sewaktu melakukan inspeksi langsung ke Gereja Santo Petrus dan Paulus Dampek serta Masjid Nurul Huda Reo.

Sesuai hasil pendataan awal, terdapat tiga unit sarana Gereja Santo Petrus dan Paulus Dampek yang diteliti, mencakup gedung peribadatan gereja, gedung aula gereja, hingga bangunan pastoran. Temuan pemeriksaan mengonfirmasi bahwa gedung peribadatan dan aula gereja menderita kerusakan struktur serta dinyatakan berbahaya apabila tetap digunakan. Di sisi lain, rumah pastoran tidak mengalami kerusakan dan dipastikan aman untuk dimanfaatkan kembali.

Sebagai tindakan susulan, para jemaat gereja menggelar aksi pembongkaran atau Cear Di'a serta pembersihan area gereja dan aula. Dalam momen itu, dilaksanakan pula ritual adat sebagai bagian dari kepedulian warga dalam melestarikan tradisi serta kearifan lokal yang melekat pada keseharian jemaat di Dampek.

Unsur pimpinan gereja juga melakukan pengamanan terhadap aset-aset berharga sebelum proses pembongkaran atap dimulai, dengan menggerakkan sekitar 30 warga jemaat yang dibantu kurang lebih 20 personel Polda NTT demi menjamin keamanan dan kelancaran di lokasi.

Selanjutnya, Kementerian PU lewat Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) NTT menyiapkan skema perbaikan Gereja Santo Petrus dan Paulus melalui metode rancang bangun, yang didahului dengan pengujian komprehensif terhadap keutuhan struktur bangunan lama.

Upaya pemulihan tersebut turut mengikutsertakan jajaran pengurus gereja dalam tahap perancangan, sehingga sarana yang didirikan ulang nantinya tetap selaras dengan kebutuhan jemaat dan karakteristik setempat.

Di lain pihak, hasil inspeksi pada Masjid Nurul Huda Reo memperlihatkan struktur penopang utama bangunan secara garis besar masih berdiri kokoh.

Meski begitu, ditemukan sederet kerusakan pada komponen struktural maupun nonstruktural.

Rincian identifikasi mencatat adanya kerusakan pada kolom level IV sebesar 4,67 persen, kolom level III 3,125 persen, area plafon 60 persen, serta komponen dinding mencapai 10 persen.

Atas dasar kalkulasi tersebut, area utama Masjid Nurul Huda Reo diklasifikasikan mengalami kerusakan tingkat sedang. Rekomendasi perbaikannya mencakup perataan seluruh plafon, pembongkaran bagian tembok yang menderita retakan di atas 6 milimeter, hingga penguatan kembali struktur utama.

Adapun untuk menara Masjid Nurul Huda Reo, hasil peninjauan menunjukkan kerusakan taraf berat dan sebagian konstruksinya telah roboh, sehingga disarankan untuk dibongkar secara menyeluruh.

Serupa dengan penanganan Gereja Santo Petrus dan Paulus, perbaikan Masjid Nurul Huda Reo disesuaikan pada hasil asesmen serta bobot kerusakannya, sehingga tindakan pemulihan maupun rekonstruksi dapat berjalan secara presisi dan terjamin keamanannya.

Terkini