Wamen Stella: RI Berpeluang Jadi Pemain Utama Data Center Global

Kamis, 03 September 2026 | 20:27:01 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie. (Foto: NET)

JAKARTA - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie menyoroti proyeksi kebutuhan daya listrik global guna menunjang pusat data. Lonjakan kebutuhan energi tersebut dipandang menciptakan celah strategis bagi tanah air. 

Stella membeberkan, International Energy Agency mencatat penggunaan listrik data center global meningkat tajam, di mana tahun 2025 konsumsi listrik pusat data mencapai 485 triliun watt hours (TWh). 

Angka tersebut diproyeksikan melonjak hingga 96% atau 945 TWh pada 2030, di mana porsi untuk AI fokus data center membengkak dari 155 TWh menjadi 465 TWh.

"Jadi dari sekarang penggunaan listrik untuk data center itu sekitar 1,5% dari listrik dunia, akan meningkat ke 3%, dua kali lipatnya. Tapi ada satu yang sangat penting sekali, ini adalah melihat demand distribusinya. Distribusinya tidak merata," ujarnya di acara IndoEBTKE ConEx 2026 di JIExpo Kemayoran Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Stella mengungkapkan, ketersediaan Energi Terbarukan (EBT) bakal menjadi penentu daya saing Indonesia dalam menarik arus modal masuk. Pasalnya, tren global memperlihatkan adanya tekanan sosial serta regulasi yang menuntut fasilitas data center beroperasi memakai pasokan listrik bersih dan ramah lingkungan.

"Selain secara teknis ini memang energi terbarukan yang akan naik, tetapi juga kami bisa melihat, kami juga tahu bahwa akan ada tekanan sosial, bahwa tidak boleh lagi data center menggunakan fosil fuel. Sehingga energi terbarukan itu akan menjadi pemain utama sebagai pemasok listrik untuk data center," ungkapnya.

Guna menggapai potensi pasar ASEAN yang turut melonjak empat kali lipat pada 2030, Stella bilang, Indonesia dinilai perlu merumuskan peta jalan pasokan EBT yang presisi. Ketersediaan lahan luas beserta pasokan air melimpah menjadi modal dasar krusial guna menopang operasional pusat data.

"Apa sebenarnya yang data center butuhkan? Data center membutuhkan teknologi, data center membutuhkan kebijakan, pembiayaan, infrastruktur seperti listrik yang stabil, energi yang berkelanjutan, lahan dan air yang cukup, dan juga membutuhkan talenta," imbuhnya.

Lebih lanjut, Stella menegaskan urgensi tindakan cepat serta penyusunan strategi agar Indonesia tidak sekadar menjadi penonton di tengah era transformasi digital. Penguasaan rantai pasok energi pusat data menjadi pondasi demi menjaga kedaulatan ekonomi nasional.

"Kalau kami tidak serius terhadap energi terbarukan kami, dan menghitung bagaimana kami bisa mempunyai kelebihan energi terbarukan untuk data center dari global masuk dibangun di Indonesia, kami akan kalah dan kami akan tersingkirkan di dunia yang terus menerus didominasi oleh artificial intelligence," pungkasnya.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, potensi pasar pusat data di kawasan Asia-Pasifik diproyeksikan menembus US$ 800 miliar hingga tahun 2030 mendatang.

Terkini