Pimpin BI 2026-2031, Destry Damayanti Pegang Prinsip 3I + S

Kamis, 03 September 2026 | 02:38:00 WIB

LITERASIKEUANGAN.COM — Destry Damayanti resmi mengemban mandat sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) setelah mengucapkan sumpah jabatan di Mahkamah Agung, Jakarta Pusat, Rabu (2/9). Ia didampingi Aida S. Budiman yang dilantik sebagai Deputi Gubernur Senior serta Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur.

Prinsip 3I + S Jadi Pegangan Kebijakan BI

Di bawah komando Destry, BI akan menajamkan arah kebijakan pada prinsip yang ia sebut impactful, inklusif, dan integratif. Ketiga kata kunci ini diikat dalam satu elemen tambahan, sinergi merah putih.

"Kami tentunya juga ke depan akan terus memfokuskan kebijakan-kebijakan kami yang akan memenuhi prinsip 3I + S," ujarnya kepada wartawan seusai pelantikan.

Stabilitas menjadi fondasi yang ia tekankan pertama kali. Menurut Destry, ekonomi yang stabil akan memperlebar ruang gerak pertumbuhan. Artinya, seluruh instrumen kebijakan moneter diarahkan untuk menjaga daya tahan ekonomi domestik, bukan sekadar mengejar ekspansi.

Konsekuensinya, kerja sama lintas kementerian dan lembaga menjadi keniscayaan.

"Jadi tidak Bank Indonesia sendiri, kita bisa mengajak dengan tadi sinergi merah putih itu, khususnya dalam menangani masalah-masalah domestik seperti inflasi yang itu tentu akan menjadi PR bagi kami dengan terus meningkatkan sinergi dengan kementerian dan lembaga terkait," jelas Destry.

Mandat Baru: BI Tak Hanya Jaga Rupiah

Arah kerja Destry kini memiliki pijakan hukum yang lebih luas. Mengacu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), BI resmi mengemban amanat tambahan untuk ikut mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Konsekuensinya, bank sentral tidak bisa lagi hanya fokus pada stabilitas nilai tukar dan inflasi. Destry perlu memastikan iklim ekonomi tetap kondusif sehingga sektor riil dapat berekspansi dan lapangan kerja baru tercipta.

Mandat ganda ini menuntut koordinasi yang lebih intensif dengan otoritas fiskal. Pengendalian inflasi, misalnya, tidak bisa diselesaikan BI sendirian karena komponen harganya banyak dipengaruhi kebijakan pemerintah daerah dan pusat.

Ketidakpastian Global: Imbal Hasil Obligasi Tinggi Masih Menghantui

Destry langsung dihadapkan pada ujian pertama yang berat: tren kenaikan imbal hasil obligasi global. Fenomena ini tengah terjadi di Amerika Serikat, Jepang, dan sejumlah negara maju lain.

BI menilai situasi ini sejalan dengan kondisi higher for longer yang masih membayangi pasar keuangan. Suku bunga acuan negara maju yang bertahan di level tinggi, inflasi global yang lengket, serta yield obligasi yang meningkat menjadi tiga faktor eksternal yang wajib diwaspadai.

"Nah ini sesuatu yang pasti akan kami antisipasi pada saat kami membuat kebijakan untuk domestik," tandas Destry.

Tekanan tersebut berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Respons kebijakan yang akurat diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) di tengah ketidakpastian tersebut.

Langkah BI ke depan akan terus dipantau pelaku pasar, terutama bagaimana Destry menyeimbangkan mandat stabilitas dengan dorongan pertumbuhan ekonomi yang kini menjadi tanggung jawabnya.

Terkini